Prof. Dr. Efa Rodiah Nur, MH Dekan Fakultas Syari’ah UIN Raden Intan Lampung
Di banyak pesantren, pagi datang lebih awal daripada matahari. Suara langkah menuju tempat wudu, sapu yang menyisir halaman, dan lantunan ayat suci mengawali kehidupan para santri. Tak ada kemegahan dalam rutinitas itu. Namun, dari kesederhanaan tersebut tersimpan pelajaran berharga bagi Indonesia yang sedang menatap masa depannya: kemajuan selalu membutuhkan ketekunan, kesabaran, dan kesediaan untuk mengabdi.
Indonesia tengah menggantungkan harapan besar pada tahun 2045, ketika republik ini genap berusia satu abad. Kemajuan ekonomi, penguasaan teknologi, dan peningkatan kesejahteraan menjadi cita-cita bersama. Namun, sejarah mengajarkan bahwa bangsa besar tidak selalu lahir dari kekayaan yang melimpah. Ada bangsa yang makmur secara ekonomi, tetapi rapuh secara moral. Ada pula negara yang maju secara teknologi, tetapi kehilangan kepekaan terhadap penderitaan warganya.
Di sinilah tema Hari Santri 2026, “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, memperoleh maknanya. Tema tersebut mengandung tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada kemeriahan peringatan tahunan. Ia mengajak kita menempatkan kembali nilai-nilai pesantren dalam percakapan tentang masa depan Indonesia. Sebab, di tengah ambisi mengejar kemajuan, bangsa ini membutuhkan manusia yang tidak mudah menjual prinsip demi kepentingan sesaat.
Sejarah telah memperlihatkan bagaimana kaum santri mengambil tanggung jawab ketika republik berada dalam keadaan genting. Resolusi Jihad 22 Oktober 1945, yang berkaitan erat dengan kepemimpinan KH Hasyim Asy’ari dan para ulama Nahdlatul Ulama, menjadi salah satu tonggak perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Seruan tersebut mempertemukan keyakinan keagamaan dengan kewajiban membela tanah air. Bagi para ulama kala itu, mencintai Indonesia merupakan bagian dari tanggung jawab moral yang harus diwujudkan melalui tindakan.
Tentu, kemerdekaan Indonesia merupakan hasil perjuangan banyak golongan. Justru di situlah letak kebesaran warisan kaum santri. Mereka hadir bersama kekuatan bangsa lainnya, memperjuangkan tanah air tanpa menjadikan perbedaan latar belakang sebagai penghalang. Pelajaran sejarah ini penting diingat ketika identitas keagamaan terkadang digunakan untuk mempertajam jarak sosial. Nasionalisme santri semestinya menjadi kekuatan yang merangkul, bukan memisahkan.
Etos yang Melampaui Simbol
Warisan terbesar pesantren sesungguhnya tidak berhenti pada kisah heroik masa kemerdekaan. Ada sesuatu yang terus hidup dalam keseharian santri: etos belajar, penghormatan terhadap ilmu, kesederhanaan, kedisiplinan, dan pengabdian. Nilai-nilai tersebut membentuk watak yang tidak mudah menyerah menghadapi kesulitan. Dalam tradisi pesantren, keberhasilan seseorang juga diukur melalui manfaat yang dapat diberikan kepada masyarakat.
Ambillah tradisi mengaji kitab kuning. Seorang santri belajar memahami teks secara perlahan, mengenali perbedaan pendapat, menelusuri argumentasi, dan mendengarkan penjelasan gurunya. Pengetahuan diperoleh melalui proses panjang. Tradisi semacam ini menyimpan pesan penting bagi kehidupan modern yang semakin tergoda oleh jawaban serba cepat: kecerdasan membutuhkan ketelitian, sementara kebijaksanaan menuntut kerendahan hati.
Bangsa ini membutuhkan watak demikian. Ruang publik kita kerap dipenuhi perdebatan yang gaduh, sementara kesediaan mendengarkan semakin berkurang. Orang mudah menyatakan pendapat sebelum memeriksa persoalan secara utuh. Dalam keadaan seperti itu, tradisi keilmuan pesantren dapat mengajarkan pentingnya tabayun, kehati-hatian dalam mengambil kesimpulan, dan penghormatan terhadap perbedaan pandangan. Adab menjadi landasan agar pengetahuan tidak berubah menjadi kesombongan.
Namun, penghormatan terhadap guru tidak boleh disalahartikan sebagai larangan berpikir kritis. Pesantren yang kuat justru memberi ruang bagi pertanyaan, musyawarah, dan pembaruan. Seorang santri perlu memiliki keberanian intelektual untuk menguji gagasan tanpa kehilangan kesantunan. Bangsa yang ingin maju memerlukan generasi yang mampu mempertanyakan keadaan, termasuk kebijakan yang dianggap merugikan masyarakat.
Etos santri juga menemukan kekuatannya dalam sikap hidup sederhana. Ketika keberhasilan semakin sering diukur melalui kepemilikan materi dan pengakuan sosial, kesederhanaan mengajarkan kemampuan membedakan kebutuhan dengan keinginan. Nilai ini sangat relevan bagi kehidupan publik. Betapa banyak persoalan bangsa bermula ketika kepentingan pribadi mengalahkan tanggung jawab, atau ketika jabatan dipandang sebagai kesempatan mengumpulkan keuntungan.
Dari Pesantren untuk Kemajuan
Indonesia Emas membutuhkan santri yang mampu menerjemahkan pengetahuan menjadi karya nyata. Penguasaan ilmu agama tetap menjadi fondasi, tetapi perkembangan masyarakat menuntut keluasan kemampuan. Santri perlu memahami sains, teknologi, ekonomi, dan persoalan sosial yang berkembang di sekitarnya. Pesantren tidak harus meninggalkan tradisinya untuk menjadi modern. Justru kekuatan tradisi dapat menjadi pijakan untuk menghadapi perubahan dengan percaya diri.
Bayangkan seorang santri yang kembali ke kampungnya dengan kemampuan membantu petani mengembangkan usaha, mendampingi pedagang kecil mengelola keuangan, atau mengajari anak-anak yang kesulitan memperoleh pendidikan. Pengabdiannya mungkin tidak menghasilkan pemberitaan besar. Namun, perubahan yang dirasakan masyarakat merupakan ukuran keberhasilan yang lebih bermakna daripada deretan penghargaan dan seremoni kelembagaan.
Di bidang ekonomi, pesantren memiliki peluang mengembangkan koperasi, kewirausahaan, dan pemberdayaan masyarakat. Kemandirian ekonomi perlu dibangun melalui pengelolaan yang terbuka dan bertanggung jawab. Pesantren dapat mempertemukan pendidikan dengan kebutuhan ekonomi warga sekitar. Ketika santri memperoleh kesempatan mengembangkan keterampilan dan menciptakan lapangan pekerjaan, pesantren ikut memperkuat fondasi kesejahteraan masyarakat.
Tanggung jawab tersebut juga menyentuh persoalan lingkungan. Krisis air bersih, pencemaran sungai, dan menumpuknya sampah semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pesantren dapat menghidupkan kepedulian ekologis melalui kebiasaan sederhana: menjaga kebersihan, mengelola sampah, menghemat air, dan merawat lingkungan. Kesalehan kehilangan sebagian makna sosialnya apabila manusia tekun beribadah, tetapi abai terhadap kerusakan alam yang mengancam kehidupan bersama.
Pada masyarakat yang majemuk, etos santri memiliki tanggung jawab lain yang sama pentingnya, yakni menjaga persaudaraan kebangsaan. Indonesia dibangun di atas keragaman agama, budaya, dan pandangan hidup. Tradisi tasamuh atau toleransi perlu hadir dalam perjumpaan sehari-hari. Keyakinan yang teguh semestinya membuat seseorang semakin mampu menghormati martabat sesamanya. Di situlah pesantren dapat menyumbangkan kedewasaan beragama bagi kehidupan demokratis.
Keberanian Membenahi Diri
Meski demikian, membicarakan keunggulan pesantren tanpa melihat persoalan internalnya akan menjadikan peringatan Hari Santri kehilangan daya reflektif. Pesantren juga menghadapi tantangan dalam mutu pendidikan, tata kelola kelembagaan, perlindungan peserta didik, dan kesiapan menghadapi perubahan sosial. Setiap persoalan perlu dihadapi secara terbuka. Menjaga kehormatan pesantren tidak berarti menutup mata terhadap kekurangan yang membutuhkan perbaikan.
Terlebih ketika muncul kekerasan atau penyalahgunaan kewenangan dalam lingkungan pendidikan, keberpihakan kepada korban harus lebih diutamakan daripada keinginan menjaga nama baik lembaga. Keteladanan seorang kiai, pengasuh, dan pendidik justru memperoleh wibawanya melalui kesediaan bertanggung jawab. Tradisi muhasabah atau introspeksi mengajarkan bahwa mengakui kesalahan merupakan langkah penting menuju perbaikan.
Negara pun tidak cukup menghormati pesantren melalui pidato dan penghargaan simbolis. Dukungan terhadap peningkatan kualitas pendidik, perpustakaan, fasilitas pembelajaran, serta akses pendidikan yang layak harus menjadi perhatian. Pada saat yang sama, kemandirian dan kekhasan pesantren perlu dihormati. Kebijakan publik seharusnya membantu pesantren berkembang tanpa memudarkan watak pengabdian yang telah membesarkannya.
Tantangan menuju 2045 sesungguhnya terletak pada kemampuan mempertemukan keunggulan pengetahuan dengan kekuatan karakter. Indonesia memerlukan ilmuwan yang jujur, pengusaha yang bertanggung jawab, pemimpin yang memahami penderitaan rakyat, dan warga yang bersedia bekerja untuk kepentingan bersama. Etos santri menawarkan landasan moral bagi lahirnya manusia semacam itu, meskipun pembentukannya tentu menjadi tanggung jawab seluruh elemen bangsa.
Hari Santri semestinya menjadi kesempatan menimbang kembali arah pengabdian. Kebanggaan terhadap sejarah perlu diikuti keberanian menghadapi kenyataan. Sarung, peci, dan kitab kuning merupakan penanda identitas yang patut dihormati. Akan tetapi, kehormatan santri terutama terletak pada perilakunya ketika berhadapan dengan persoalan masyarakat: apakah ia hadir membantu, menjaga kepercayaan, dan berani membela kebenaran?
Indonesia Emas masih berada di depan mata. Jalan menuju ke sana akan ditentukan oleh keputusan-keputusan yang dibuat hari ini, termasuk cara bangsa mendidik generasi mudanya. Dari ruang-ruang mengaji yang sederhana, Indonesia dapat terus menumbuhkan manusia yang tekun berpikir, jernih dalam bersikap, dan tulus mengabdi. Sebab, emas yang paling berharga bagi masa depan republik bukanlah kemegahan yang dipamerkan, melainkan watak manusia yang dapat dipercaya.
Di tangan santri yang berilmu, beradab, dan berani mengabdi, Indonesia Emas menemukan makna yang sesungguhnya: kemajuan yang memuliakan manusia.
