Dr. Efa Rodiah Nur, MH Dekan Fakultas Syariah UIN Raden Intan Lampung
Di tengah derasnya arus pembangunan, ada satu pertanyaan yang layak diajukan kepada diri kita bersama: sejauh mana anak benar-benar menjadi pusat perhatian bangsa ini? Pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, dan kemajuan teknologi memang penting, tetapi semuanya akan kehilangan makna apabila generasi yang kelak memimpin negeri justru tumbuh dalam rasa takut, kurang kasih sayang, atau kehilangan kesempatan berkembang. Masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh angka-angka statistik, melainkan juga oleh bagaimana anak-anak diperlakukan hari ini.
Anak bukan hanya kelompok usia yang harus dilindungi karena belum dewasa. Mereka adalah pribadi yang sedang membangun cara berpikir, mengenal nilai, dan belajar memandang dunia. Apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan akan membentuk watak mereka ketika dewasa. Tidak mengherankan apabila kualitas sebuah bangsa sering kali dapat dibaca dari kualitas kehidupan anak-anaknya.
Sayangnya, ruang tumbuh anak belum sepenuhnya menjadi ruang yang aman. Kekerasan di lingkungan keluarga, perundungan di sekolah, eksploitasi ekonomi, hingga ancaman di ruang digital masih menjadi persoalan yang terus berulang. Di saat yang sama, banyak anak kehilangan waktu bermain bersama keluarga karena perhatian orang tua tersita oleh kesibukan pekerjaan maupun gawai. Ironisnya, rumah yang seharusnya menjadi tempat paling nyaman justru terkadang berubah menjadi ruang yang miskin dialog.
Kita kerap mengukur keberhasilan anak melalui rapor, prestasi akademik, atau jumlah piala yang dibawa pulang. Padahal, anak membutuhkan sesuatu yang jauh lebih mendasar daripada sekadar nilai tinggi. Mereka memerlukan rasa aman, penghargaan, kesempatan menyampaikan pendapat, dan keyakinan bahwa setiap langkahnya didukung oleh keluarga. Anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh kasih memiliki kepercayaan diri yang lebih baik, mampu membangun hubungan sosial yang sehat, dan lebih siap menghadapi tantangan kehidupan.
Kasih sayang bukan berarti memanjakan. Kasih sayang justru mengajarkan batas, tanggung jawab, dan disiplin dengan cara yang bermartabat. Anak belajar menghormati ketika ia terlebih dahulu dihormati. Anak belajar jujur ketika orang dewasa memberi teladan kejujuran. Demikian pula kepedulian, empati, dan tanggung jawab tidak lahir dari ceramah panjang, melainkan dari contoh yang setiap hari mereka saksikan di rumah.
Perubahan zaman menghadirkan tantangan baru dalam pengasuhan. Teknologi membuka akses pengetahuan yang luas, tetapi juga memperlihatkan berbagai konten yang belum tentu layak dikonsumsi anak. Banyak orang tua merasa telah menemani anak hanya karena berada di ruangan yang sama, padahal perhatian mereka tertuju pada layar telepon genggam. Kedekatan secara fisik tidak selalu berarti kedekatan secara emosional. Padahal, beberapa menit percakapan yang hangat sering kali jauh lebih berharga daripada berjam-jam berada bersama tanpa saling mendengar.
Di sekolah, guru memikul tanggung jawab yang tidak ringan. Pendidikan bukan hanya proses memindahkan pengetahuan, melainkan juga membentuk karakter. Sekolah yang baik bukan semata-mata menghasilkan lulusan berprestasi, tetapi juga menciptakan lingkungan yang membuat setiap anak merasa aman, dihargai, dan bebas dari intimidasi. Ketika perundungan dianggap hal biasa atau sekadar candaan, sesungguhnya kita sedang membiarkan luka yang dapat membekas hingga dewasa.
Negara pun memiliki peran yang tidak dapat digantikan. Perlindungan anak tidak cukup diwujudkan melalui regulasi yang tertulis rapi dalam lembaran peraturan. Yang lebih penting adalah memastikan setiap aturan hadir dalam kehidupan sehari-hari. Penegakan hukum terhadap pelaku kekerasan, penguatan layanan perlindungan anak, pemerataan pendidikan yang berkualitas, serta dukungan bagi keluarga menjadi pekerjaan yang harus terus dijalankan secara konsisten. Kebijakan yang berpihak kepada anak pada hakikatnya adalah investasi jangka panjang bagi bangsa.
Masyarakat juga memegang tanggung jawab yang sama besar. Tidak sedikit kasus kekerasan terhadap anak terungkap berkat kepedulian tetangga, guru, tokoh masyarakat, atau warga yang berani melapor. Budaya saling menjaga perlu terus dirawat. Anak adalah amanah bersama. Ketika seorang anak kehilangan haknya untuk tumbuh dengan aman, sesungguhnya yang mengalami kerugian bukan hanya keluarganya, melainkan seluruh bangsa.
Indonesia tengah menatap cita-cita besar menjadi negara maju. Target tersebut tidak mungkin dicapai hanya dengan membangun gedung yang tinggi atau memperkuat pertumbuhan ekonomi. Kemajuan sejati lahir dari manusia yang berintegritas, sehat, cerdas, dan memiliki kepedulian terhadap sesama. Semua itu berawal dari masa kanak-kanak yang dipenuhi kasih sayang, perlindungan, dan kesempatan berkembang.
Menyayangi anak pada akhirnya bukan perkara sentimental, melainkan pilihan strategis yang menentukan arah perjalanan bangsa. Setiap pelukan yang menenangkan, setiap kata yang membangun semangat, setiap perlindungan yang diberikan kepada anak hari ini merupakan fondasi bagi Indonesia pada masa mendatang. Jika bangsa ini ingin memiliki masa depan yang kokoh, maka tidak ada jalan yang lebih bijaksana selain memastikan setiap anak Indonesia tumbuh dengan rasa aman, dicintai, dan diberi ruang untuk mengembangkan seluruh potensi terbaiknya.
