Tim Peneliti UIN Raden Intan Lampung Dalami Teknologi Sampah Jadi Listrik di TPA Benowo Surabaya

Tim Peneliti UIN Raden Intan Lampung Dalami Teknologi Sampah Jadi Listrik di TPA Benowo Surabaya

Share :

Surabaya – MUI Lampung Online

Tumpukan sampah yang selama ini identik dengan persoalan lingkungan ternyata dapat menjadi sumber energi yang bernilai. Gagasan itulah yang ingin dipelajari secara langsung oleh Tim Peneliti UIN Raden Intan Lampung saat mengunjungi Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Benowo, Surabaya, Selasa (21/7/2026). Kunjungan lapangan tersebut menjadi bagian dari riset mengenai pengembangan energi terbarukan dan pengelolaan sampah berkelanjutan yang tengah dilakukan tim peneliti.

Tim peneliti dipimpin oleh Dr. Agus Hermanto, M.H.I. selaku ketua, didampingi Gesit Yudha, M.I.P. sebagai anggota. Keduanya melakukan observasi mendalam terhadap sistem pengelolaan sampah modern yang telah menjadikan TPA Benowo sebagai salah satu percontohan nasional dalam pemanfaatan sampah menjadi energi listrik.

Setibanya di lokasi, rombongan disambut oleh pengelola TPA Benowo, Ali Azhari, yang memaparkan secara komprehensif mekanisme pengelolaan sampah Kota Surabaya. Dalam sesi tersebut dijelaskan bagaimana sampah yang berasal dari berbagai penjuru kota diproses menggunakan metode sanitary landfill, kemudian gas metana yang dihasilkan dari proses pembusukan ditangkap melalui jaringan pipa untuk dimanfaatkan sebagai sumber energi.

Paparan tersebut memberikan gambaran bahwa pengelolaan sampah tidak lagi berhenti pada proses pembuangan. Dengan dukungan teknologi yang tepat, sampah justru menjadi sumber daya baru yang mampu menghasilkan manfaat ekonomi sekaligus mengurangi dampak pencemaran lingkungan. Pendekatan ini dinilai menjadi contoh nyata penerapan ekonomi sirkular dalam pengelolaan perkotaan.

Perhatian tim peneliti tertuju pada instalasi pembangkit listrik berbasis gas metana. Gas yang dihasilkan dari timbunan sampah dialirkan menuju generator hingga menghasilkan energi listrik. Menariknya, listrik yang diproduksi tidak hanya dimanfaatkan untuk mendukung operasional TPA, tetapi juga disalurkan ke jaringan kelistrikan sehingga dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekitar.

Usai sesi pemaparan, tim melakukan peninjauan langsung ke berbagai fasilitas utama TPA Benowo. Mulai dari zona penimbunan sampah, kolam lindi, instalasi pengolahan air lindi, hingga ruang kontrol pembangkit listrik tenaga biogas menjadi objek pengamatan. Kunjungan lapangan tersebut dimanfaatkan untuk menggali berbagai aspek teknis, mulai dari efisiensi pembangkit, pengendalian dampak lingkungan, hingga pola pemberdayaan masyarakat yang hidup di sekitar kawasan TPA.

Diskusi berlangsung dinamis. Berbagai pertanyaan disampaikan tim peneliti mengenai keberlanjutan teknologi, biaya operasional, kapasitas produksi listrik, serta strategi menjaga keseimbangan antara kebutuhan energi dan kelestarian lingkungan. Bagi tim, pengalaman melihat langsung proses konversi sampah menjadi energi memberikan perspektif yang jauh lebih utuh dibandingkan sekadar mempelajari konsep melalui literatur.

“Selama ini kita berbicara mengenai energi terbarukan dalam berbagai kajian akademik. Hari ini kami menyaksikan secara langsung bahwa dari sampah yang selama ini dipandang sebagai persoalan, ternyata dapat dihasilkan listrik yang memberi manfaat bagi masyarakat,” ungkap salah satu anggota tim peneliti.

Ketua Tim Peneliti, Dr. Agus Hermanto, M.H.I., menjelaskan bahwa kunjungan tersebut memiliki tiga tujuan utama. Pertama, mempelajari skema pemanfaatan gas metana menjadi energi listrik sebagai referensi pengembangan di Provinsi Lampung. Kedua, mengkaji tata kelola pengelolaan sampah Pemerintah Kota Surabaya yang mengacu pada Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 5 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Sampah. Ketiga, mengamati dampak sosial dan ekonomi yang dirasakan masyarakat di sekitar TPA Benowo sebagai bagian dari implementasi pembangunan berkelanjutan.

Menurut Agus Hermanto, hasil observasi lapangan akan menjadi bahan penting dalam penyusunan rekomendasi pengembangan pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) berskala kampus maupun pesantren di lingkungan UIN Raden Intan Lampung. Inisiatif tersebut diharapkan tidak hanya berkontribusi terhadap pengurangan timbulan sampah, tetapi juga memperkuat kemandirian energi sekaligus membangun kesadaran lingkungan di lingkungan pendidikan.

“Kami ingin meniru semangat Surabaya. Sampah tidak dipandang sebagai akhir dari sebuah proses, melainkan awal lahirnya energi baru yang memberi manfaat luas bagi masyarakat. Pengalaman ini menjadi bekal berharga untuk melahirkan gagasan yang dapat diterapkan di Lampung,” ujar Agus Hermanto.

Kegiatan ditutup dengan sesi diskusi, pertukaran pengalaman, serta penyerahan cinderamata sebagai simbol kerja sama akademik. Bagi Tim Peneliti UIN Raden Intan Lampung, kunjungan ke TPA Benowo bukan sekadar agenda penelitian lapangan. Lebih dari itu, perjalanan tersebut menghadirkan keyakinan bahwa inovasi, keberpihakan pada lingkungan, dan kemauan belajar dapat mengubah persoalan sampah menjadi sumber energi yang menopang masa depan yang lebih berkelanjutan. (Rita Zaharah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *