Dr. Agus Hermanto, MHI Dosen UIN Raden Intan Lampung
Menjaga dan merawat lingkungan bukan hanya wilayah etika sosial, namun juga bernilai moral dan spiritual. Kekuatan spiritual seseorang akan sangat membantu kepekaan psikomotorik dan membangun mindset hingga mengekspresikan sebuah perilaku mulia yang akan menghantarkan hamba menuju ridha Ilahi rabbi.
Membangun lingkungan yang nyaman bukan hanya kewajiban semata, melainkan bentuk pengabdian hamba kepada Robbnya. Tugas Khalifah di muka bumi ini harus dijalankan dengan keadilan, amanah dan keseimbangan, bentuk amal shaleh yang bernilai ibadah yang bernilai pahala yang bukan hanya dalam bentuk nafilah ruku, sujud dan dzikir semata, melainkan sebuah implementasi nyata merawat ciptakan Tuhan.
Ekosistem yang telah terbangun pada sebuah lingkungan yang harmoni antara manusia dan sesama makhluk Tuhan akan tercipta bilamana kita selalu bertadabbur, melalui ayat-ayat kauniyah yang diciptakan di alam semesta ini. Segala apapun baik yang besar maupun kecil Allah ciptakan dengan penuh manfaat, nyamuk dan hewan yang lebih kecil darinya hingga narkoba yang tidak nampak mata pun Allah ciptakan dengan segala manfaat yang melekat padanya, terbentuk secara fitrah dengan tugas yang telah ditetapkan Tuhan. Namun, karena kerap kali manusia lengah hingga teledor terhadap ayat-ayat Tuhan, sehingga tata kelola planet bumi dan tata surya lainnya menjadi berubah dan menyebabkan dampak negatif bagi seluruh kehidupan. Mengingat Tuhan tidak hanya ucapan dalam dzikir yang melantunkan oleh lisan, melainkan juga mentadabburi segala ciptaan Tuhan adalah bagian dari ekofeminisme yang harus dibentuk oleh setiap individu untuk menggapTuhandha Tuhan.
