Hujan dan Ancaman Lingkungan

Hujan dan Ancaman Lingkungan

Share :

Dr. Agus Hermanto, MHI Dosen UIN Raden Intan Lampung

Hujan merupakan siklus alam yang Allah berikan sebagai anugrah bagi seluruh kehidupan di alam, tidak hanya manusia yang merasakan keberkahannya, melainkan juga hewan dan tumbuhan. Air hujan merupakan rizki yang Allah turunkan dari langit yang darinya akan menjadikan kesuburan pada tumbuhan, bahkan dikatakan oleh para ahli tata surya bahwa bumi terlihat biru jika dilihat dari luar angkasa, hal itu menunjukkan bahwa di planet bumi memiliki banyak kandungan air di dalamnya.

Namun sungguh disayangkan, bahwa air hujan yang secara ilmiah dan tuntunan agama menjadi anugrah kerap kali me jadi ancaman bagi manusia. Realitanya, pada setiap hujan lebat turun, manusia memulai gelisah karena pada saat itu kerap terjadi banjir di sudut-sudut kota khususnya. Betapa tidak, tanah yang menjadi serapan utama, dan pepohonan yang memiliki akar kokoh yang juga dapat menyimpan air, kini mulai minim, bahkan lahan telah menjadi pemukiman dan bangunan-bangunan kokoh yang berpondasikan cor dan bahkan beton, sehingga kerap kali menjadi tantangan tersendiri. Air hujan yang seharusnya mengalir dari dataran tinggi menuju dataran rendah, pada saat ini kerap mustahil adanya. Hal ini terjadi karena keteledoran manusia, dengan keangkuhan nya, ia potong pepohonan tanpa ada rasa tangung jawab dan tanpa adanya upaya reboisasi. Bukan hanya ekosistem alam yang rusak, melainkan juga berakibat pada lingkungan sekitarnya, terutama manusia. Punahnya beragam hewan menjadi hilangnya keseimbangan, bangunan megah bahkan berkaca yang menjadikan iklim tidak stabil, sehingga curah hujan tidak menentu dan kerap kali juga terjadi kemarau berkepanjangan.

Jika kita sejenak berpikir jernih untuk senantiasa bersahabat dengan alam dan lingkungan, menjaganya dan juga merawat serta melestarikan, tentu fenomena yang terjadi akan menjadi skala kecil dan minim bencana pada lingkungan kita. Jika musibah banjir terjadi dan kita selalu berpikir bahwa ini adalah kejadian alam, dimana letak moral dan spiritual kita sebagai penyeimbang alam dan lingkungan, khalifah yang memiliki martabat mulia dibandingkan makhluk lainnya, dimana letak pertanggungjawaban yang diembannya, yang ada hanyalah kesombongan, berlebihan hingga segala eksploitasi dilakukan untuk kepentingan dirinya tanpa berpikir resiko dan nilai kemudharatan yang terjadi. Betapa jahatnya manusia, dia dianugerahi akal pikiran, martabat dan kesempurnaan, bukan menjadi wasilah untuk mencari ridha Tuhan, melainkan ia banyak melakukan kejahatan dan pengkhianatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *