Kiai. Khabibul Muttaqin, SHI Pengasuh PP Nashihuddin Bandar Lampung
Kembalinya santri ke pesantren bukan hanya peristiwa rutin tahunan. Ia adalah momentum batin, saat koper kembali dibuka, kitab disusun ulang, dan niat ditata kembali. Di balik langkah-langkah kecil menuju asrama, tersimpan harapan besar tentang perubahan diri. Di sinilah pesantren tidak hanya menjadi ruang belajar ilmu, tetapi juga ladang subur untuk menumbuhkan growth mindset sebagai pola pikir bertumbuh yang sangat dibutuhkan santri di tengah tantangan zaman.
Growth mindset mengajarkan bahwa kemampuan bukanlah sesuatu yang beku dan selesai, melainkan dapat terus berkembang melalui proses, kesabaran, dan ketekunan. Nilai ini sejatinya tidak asing dalam tradisi pesantren. Santri telah lama ditempa untuk sabar menghafal, tekun memahami, dan ikhlas menerima koreksi. Namun di era serba instan, ketika keberhasilan sering diukur dari kecepatan hasil, growth mindset menjadi kunci agar santri tidak mudah menyerah dan tetap setia pada proses panjang pencarian ilmu.
Pesantren adalah ruang yang tepat untuk menyalakan semangat ini. Disiplin harian, jadwal ketat, dan aturan pondok bukanlah bentuk pengekangan, melainkan latihan mental. Santri belajar bahwa kemajuan tidak lahir dari kenyamanan, tetapi dari keberanian menghadapi keterbatasan. Dari bangun sebelum subuh hingga belajar hingga larut malam, santri dibiasakan memahami bahwa pertumbuhan sejati menuntut konsistensi, bukan sekadar motivasi sesaat.
Dalam konteks ini, kegagalan tidak lagi dipandang sebagai aib, melainkan sebagai guru terbaik. Santri yang belum lancar membaca kitab, belum kuat menghafal, atau belum percaya diri berbicara di depan umum, diajak untuk tidak berhenti. Growth mindset mengubah kalimat “saya tidak bisa” menjadi “saya sedang belajar”. Pergeseran cara berpikir ini sederhana, tetapi berdampak besar dalam membentuk mental tangguh dan optimisme jangka panjang.
Peran kiai dan ustaz sangat sentral dalam menumbuhkan pola pikir ini. Keteladanan mereka dalam kesederhanaan, keistiqamahan, dan kesabaran adalah pelajaran hidup yang tidak tertulis di kitab mana pun. Ketika santri melihat gurunya terus belajar meski telah berilmu, terus rendah hati meski dihormati, di situlah growth mindset tumbuh secara alami. Pesantren tidak hanya mengajarkan apa yang harus dipelajari, tetapi juga bagaimana cara bersikap dalam belajar.
Di sisi lain, santri hari ini hidup dalam lanskap sosial yang berbeda. Media sosial menghadirkan perbandingan tanpa henti, standar keberhasilan semu, dan tekanan untuk tampil sempurna. Growth mindset menjadi penyeimbang agar santri tidak terjebak pada rasa minder atau keinginan serba instan. Pesantren berperan sebagai ruang jeda, tempat santri belajar berdamai dengan diri sendiri, memahami proses, dan memaknai kesuksesan secara lebih utuh.
Menumbuhkan growth mindset juga berarti menyiapkan santri menghadapi masa depan yang dinamis. Dunia terus berubah, profesi bergeser, dan tantangan semakin kompleks. Santri yang terbiasa berpikir terbuka, adaptif, dan mau belajar sepanjang hayat akan lebih siap mengambil peran di masyarakat. Mereka tidak hanya menjadi penjaga tradisi, tetapi juga agen perubahan yang berakar kuat pada nilai dan akhlak.
Lebih dari itu, growth mindset sejalan dengan ajaran Islam tentang ikhtiar dan tawakal. Santri diajarkan untuk berusaha maksimal, namun tetap menyadari keterbatasan manusia. Proses belajar menjadi ibadah, kegigihan menjadi amal, dan kesabaran menjadi jalan pendewasaan. Dengan cara ini, pertumbuhan bukan hanya soal kecerdasan, tetapi juga kematangan spiritual dan sosial.
Menumbuhkan growth mindset berarti menyalakan kembali semangat santri untuk terus bertumbuh, meski jalan yang ditempuh tidak selalu mudah. Pesantren menjadi rumah yang mendidik santri agar tidak cepat puas, tidak mudah menyerah, dan tidak takut gagal. Dari ruang-ruang sederhana itulah lahir santri-santri tangguh, yang kelak membawa cahaya ilmu, akhlak, dan harapan bagi masa depan umat dan bangsa.
