Al-Muflis: Bangkrut Karena Zalim Kepada Sesama

Al-Muflis: Bangkrut Karena Zalim Kepada Sesama

Share :

Junaidi Jamsari Wakil Ketua PWNU Lampung

Hidup dalam Islam menuntut tanggung jawab atas setiap perkataan dan perbuatan. Islam adalah agama yang menjunjung tinggi kasih sayang, keadilan, dan kedamaian. Karena itu, perilaku semena-mena, mengutamakan kepentingan pribadi dengan mengabaikan hak orang lain, jelas bertentangan dengan prinsip dasar ajaran Islam.

Ada sebuah ungkapan yang patut menjadi bahan renungan: semut kecil pun akan menggigit ketika merasa terancam.

Ungkapan ini mengandung pesan sederhana, tetapi mendalam. Bahwa sekecil apa pun makhluk, ia memiliki naluri untuk mempertahankan diri. Demikian pula manusia. Seseorang yang lemah, miskin, tidak memiliki jabatan, atau berada dalam posisi sosial yang rendah tetap memiliki harga diri dan hak yang harus dihormati.

Jangan menganggap diamnya seseorang sebagai tanda bahwa ia tidak mampu melawan. Bisa jadi, ia memilih bersabar, mengalah, atau menghindari pertengkaran. Namun, kesabaran bukanlah alasan bagi siapa pun untuk terus menyakiti dan merendahkannya.

Dalam kehidupan bermasyarakat, sikap menghormati sesama merupakan cerminan kematangan moral. Tidak seorang pun dibenarkan menggunakan kekuasaan, kekayaan, jabatan, ataupun kelebihan yang dimilikinya untuk menindas orang lain.

Dalam perspektif Islam, perilaku tersebut berkaitan erat dengan kezaliman, yakni tindakan melampaui batas dan menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya, termasuk merampas hak orang lain.

ZALIM BUKAN HANYA SOAL KEKERASAN FISIK

Ketika mendengar kata zalim, sebagian orang mungkin langsung membayangkan tindakan kekerasan, penganiayaan, atau pembunuhan. Padahal, kezaliman memiliki cakupan yang lebih luas.

Kezaliman dapat hadir melalui perkataan yang menyakitkan, fitnah, tuduhan tanpa bukti, penghinaan, perampasan hak, hingga tindakan menahan sesuatu yang menjadi hak orang lain.

Seseorang dapat berbuat zalim melalui lisannya ketika merendahkan martabat orang lain. Seseorang juga dapat berbuat zalim melalui kekuasaannya ketika menggunakan jabatan untuk kepentingan pribadi, mengabaikan keadilan, atau memperlakukan orang lain secara sewenang-wenang.

Begitu pula dalam hubungan pekerjaan, kezaliman dapat terjadi ketika hak pekerja tidak dipenuhi sebagaimana mestinya. Dalam kehidupan sosial, kezaliman dapat muncul ketika seseorang dipandang rendah hanya karena kemiskinan, latar belakang keluarga, pendidikan, atau status sosialnya.

Padahal, ukuran kemuliaan manusia tidak semata-mata terletak pada kekayaan, jabatan, dan kedudukan sosial. Boleh jadi, orang yang selama ini kita pandang sebelah mata justru memiliki hati yang lebih bersih, amal yang lebih baik, dan niat yang lebih ikhlas daripada diri kita sendiri. Kita tidak pernah benar-benar mengetahui kedudukan seseorang di hadapan Allah SWT.

Karena itu, merendahkan manusia lain atas dasar kesombongan merupakan sikap yang patut kita hindari.

ISLAM MEMERINTAHKAN KEADILAN

Islam memberikan perhatian besar terhadap keadilan dan melarang permusuhan serta tindakan melampaui batas. Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. An-Nahl: 90)

Ayat ini menegaskan bahwa keadilan dan kebajikan merupakan prinsip penting dalam kehidupan seorang muslim. Keduanya tidak cukup hanya menjadi slogan atau nasihat, tetapi harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.

Adil berarti menempatkan sesuatu pada tempatnya, memberikan hak kepada yang berhak, serta tidak membiarkan kebencian, kepentingan pribadi, atau perbedaan kedudukan menjadi alasan untuk memperlakukan orang lain secara tidak semestinya.

Allah SWT juga berfirman:

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 58)

Ayat tersebut merupakan peringatan keras terhadap tindakan menyakiti orang beriman tanpa alasan yang benar. Pesannya jelas: jangan mudah melukai kehormatan orang lain. Jangan menyebarkan tuduhan tanpa dasar. Jangan pula merasa berhak memperlakukan seseorang sesuka hati hanya karena ia tidak memiliki kekuatan untuk membela dirinya.

Keadilan seharusnya berlaku kepada siapa saja, baik kepada orang yang memiliki kedudukan tinggi maupun kepada mereka yang hidup dalam keterbatasan. Sebab, nilai keadilan justru diuji ketika kita memiliki kesempatan untuk bertindak sewenang-wenang, tetapi memilih menahan diri dan tetap menghormati hak orang lain.

BANGKRUT YANG SESUNGGUHNYA

Salah satu peringatan Rasulullah SAW yang sangat relevan untuk direnungkan adalah tentang orang yang bangkrut di akhirat.

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat tentang siapa orang yang bangkrut. Para sahabat menjawab bahwa orang yang bangkrut adalah orang yang tidak memiliki uang dan harta.

Namun, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa orang yang benar-benar bangkrut dari kalangan umatnya ialah orang yang datang pada hari kiamat membawa pahala salat, puasa, dan zakat, tetapi semasa hidupnya juga pernah mencela orang lain, menuduh tanpa hak, memakan harta orang lain, menumpahkan darah, dan memukul sesama.

Akibat perbuatannya itu, pahala kebaikannya diberikan kepada orang-orang yang pernah dizaliminya. Apabila pahala kebaikannya telah habis sebelum seluruh tanggungannya terselesaikan, dosa orang-orang yang dizaliminya dapat dibebankan kepadanya. Pada akhirnya, ia dilemparkan ke dalam neraka. (HR. Muslim, No. 2581)

Hadis ini dikenal sebagai hadis tentang al-muflis, yakni orang yang benar-benar bangkrut. Pesannya sangat mendalam. Kebangkrutan tidak hanya berkaitan dengan hilangnya harta benda di dunia, tetapi juga dapat terjadi ketika seseorang kehilangan pahala akibat kezaliman yang dilakukannya terhadap sesama manusia.

Hadis tersebut mengingatkan kita bahwa ibadah tidak boleh dipisahkan dari akhlak. Kesalehan ritual semestinya berjalan seiring dengan kesalehan sosial. Salat, puasa, dan zakat merupakan ibadah yang sangat penting. Namun, semua itu tidak boleh dijadikan alasan untuk merasa diri paling benar, apalagi untuk merendahkan dan menyakiti orang lain.

Jangan sampai seseorang rajin beribadah, tetapi lisannya gemar mencela. Jangan sampai ia berbicara tentang agama, tetapi mengabaikan keadilan. Jangan sampai ia menasihati orang lain tentang kebaikan, tetapi tidak mampu menjaga dirinya dari tindakan yang merugikan sesama. Karena itu, sebelum menilai kesalahan orang lain, ada baiknya kita terlebih dahulu memeriksa perilaku dan tanggung jawab diri sendiri.

JANGAN MEREMEHKAN DOA ORANG YANG TERZALIMI

Ada satu peringatan Rasulullah SAW yang juga patut menjadi perhatian setiap orang, terutama mereka yang memiliki kekuasaan, jabatan, atau kewenangan dalam kehidupan sosial.

Rasulullah SAW bersabda: “Takutlah terhadap doa orang yang terzalimi, karena sesungguhnya tidak ada penghalang antara doanya dan Allah.” (HR. Bukhari, No. 2448)

Hadis ini mengingatkan kita agar tidak meremehkan penderitaan orang yang menjadi korban ketidakadilan. Seseorang mungkin tidak memiliki kekuasaan untuk membalas perlakuan buruk yang diterimanya. Ia mungkin tidak memiliki cukup uang untuk memperjuangkan haknya, tidak mempunyai jabatan untuk menyuarakan penderitaannya, atau tidak memiliki keberanian untuk melawan orang yang lebih kuat. Namun, keterbatasan tersebut tidak membuat haknya kehilangan nilai di hadapan Allah SWT.

Bisa jadi, ia memilih diam untuk menghindari pertengkaran. Bisa jadi pula, ia menyimpan kesedihan yang tidak diketahui siapa pun. Dalam keadaan seperti itu, janganlah kita justru memanfaatkan kelemahannya untuk terus berbuat sewenang-wenang.

Doa orang yang terzalimi bukanlah sesuatu yang patut dijadikan bahan ancaman atau ditafsirkan sebagai kepastian bahwa setiap keinginannya akan langsung terwujud. Akan tetapi, hadis tersebut merupakan peringatan agar setiap orang berhati-hati terhadap kezaliman dan tidak merasa aman dari pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Karena itu, ketika kita memiliki kesempatan untuk berbuat baik, berbuatlah dengan baik. Ketika memiliki kewenangan, gunakanlah untuk menegakkan keadilan. Ketika memiliki kelebihan, jangan menjadikannya alasan untuk merendahkan orang lain.

MEMANUSIAKAN MANUSIA ADALAH BAGIAN DARI AKHLAK

Pada akhirnya, kehidupan mengajarkan bahwa jabatan tidak akan selamanya melekat, kekayaan tidak selalu bertahan, dan kedudukan sosial dapat berubah sewaktu-waktu. Orang yang hari ini memiliki kekuasaan belum tentu akan memilikinya esok hari. Orang yang hari ini berada di atas belum tentu akan selamanya berada di atas. Begitu pula orang yang saat ini hidup dalam keterbatasan tidak selayaknya dipandang rendah, sebab perjalanan hidup manusia tidak pernah sepenuhnya dapat diprediksi.

Karena itu, jangan mengukur martabat manusia hanya dari apa yang dimilikinya. Belajarlah menghormati orang lain tanpa harus menunggu mereka menjadi penting. Belajarlah bersikap adil tanpa harus diawasi. Belajarlah meminta maaf ketika bersalah, serta mengembalikan hak orang lain ketika kita menyadari telah mengambil atau mengabaikannya.

Sebab, keberanian yang sesungguhnya bukanlah kemampuan menundukkan orang yang lemah, melainkan kemampuan mengendalikan diri ketika kita memiliki kekuatan untuk bertindak sewenang-wenang.

Islam mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak terletak pada kemampuannya menekan sesama, tetapi pada ketakwaan, akhlak, dan kesungguhannya menunaikan hak-hak orang lain.

Semoga Allah SWT menjauhkan kita dari segala bentuk kezaliman: kezaliman terhadap Allah, kezaliman terhadap sesama manusia, dan kezaliman terhadap diri sendiri. Semoga kita tidak termasuk orang yang sibuk menuntut keadilan bagi dirinya, tetapi melupakan kewajiban berlaku adil kepada orang lain. Sebab, jangan sampai kita merasa telah mengumpulkan banyak pahala melalui ibadah, tetapi justru kehilangan nilainya karena enggan menjaga lisan, menghormati martabat manusia, dan menunaikan hak sesama. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *