Bandar Lampung – MUI Lampung Digital
Kesuksesan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan dan kemampuan yang dimiliki, tetapi juga membutuhkan ketaatan, niat yang kuat, kedekatan kepada Allah, kemampuan berpikir, serta keikhlasan dalam beramal. Lima prinsip tersebut dapat dipetik dari salah satu bait dalam Kitab Alfiyah Ibnu Malik.
Hal ini disampaikan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Lampung, Prof Dr KH Muhammad Mukri, dalam sambutannya pada Musyawarah Daerah (Musda) MUI Provinsi Lampung di Hotel Horison, Bandar Lampung, Jumat (16/10/2026).
Prof Mukri yang kembali terpilih memimpin MUI Lampung masa khidmah 2026–2031 mengajak seluruh pengurus untuk menjadikan nilai-nilai dalam khazanah keilmuan sebagai pedoman dalam menjalankan amanah organisasi maupun meraih keberhasilan dalam kehidupan.
Ia mengutip salah satu bait dalam Kitab Alfiyah karya ulama ahli tata bahasa Arab, Ibnu Malik Al-Andalusi, yang berbunyi:
بِالْجَرِّ وَالتَّنْوِينِ وَالنِّدَا وَأَلْ # وَمُسْنَدٍ لِلِاسْمِ تَمْيِيزٌ حَصَلْ
Bil jarri wat tanwini wan nida wa al, wa musnadin lil ismi tamyizun hashal.
Secara gramatikal, bait tersebut menjelaskan lima tanda yang membedakan isim (kata benda) dari jenis kata lainnya dalam bahasa Arab. Namun, menurut Prof Mukri, melalui pemaknaan filosofis, kelima tanda tersebut juga dapat dijadikan pelajaran tentang prinsip-prinsip meraih kesuksesan.
Prinsip pertama adalah jar, yang dimaknai sebagai sikap tunduk, patuh, dan tawadhu. Seseorang yang ingin meraih keberhasilan harus memiliki kerendahan hati serta ketaatan kepada Allah, Rasul-Nya, dan pemimpin dalam perkara yang baik.
Hal tersebut sejalan dengan firman Allah dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 59:
أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ
Artinya, “Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu.”
Prinsip kedua adalah tanwin, yang dimaknai sebagai niat dan kemauan yang tinggi. Menurutnya, keberhasilan harus diawali dengan niat yang benar, bukan semata-mata mengejar kedudukan, popularitas, maupun keuntungan pribadi.
Ia mengingatkan pentingnya hadis Rasulullah saw.:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“Sesungguhnya segala amal perbuatan tergantung pada niatnya.”
Dengan niat yang benar, seseorang akan memiliki arah dan tujuan yang jelas dalam setiap aktivitas yang dilakukan, termasuk ketika mendapatkan amanah untuk berkhidmah di tengah masyarakat.
Prinsip ketiga adalah nida’, yang dimaknai sebagai zikir atau doa senantiasa mengingat Allah. Setelah memiliki niat yang kuat, seseorang tidak boleh melupakan hubungan spiritual dengan Sang Pencipta.
Zikir dan doa menjadi sarana menjaga hati agar tidak mudah tergelincir dari tujuan awal. Sebab, keberhasilan yang tidak disertai kedekatan kepada Allah berpotensi melahirkan kesombongan dan penyalahgunaan amanah.
Selanjutnya, prinsip keempat adalah al, yang dimaknai sebagai kemampuan berpikir secara jelas dan tegas. Manusia diberikan keistimewaan berupa akal yang harus digunakan secara optimal untuk menghadirkan gagasan, menyelesaikan persoalan, dan memberikan manfaat bagi kehidupan.
Kemampuan berpikir tersebut harus diarahkan untuk kebaikan, bukan digunakan untuk melakukan kecurangan, memanipulasi keadaan, atau merugikan orang lain.
Adapun prinsip kelima adalah musnad, yang dalam pemaknaan filosofis tersebut dikaitkan dengan amal nyata yang dilandasi keikhlasan.
Menurut Prof Mukri, niat baik, ketaatan, zikir, dan kemampuan berpikir harus bermuara pada tindakan nyata. Sebab, keberhasilan tidak cukup hanya dibangun melalui gagasan maupun keinginan, tetapi harus diwujudkan melalui kerja dan pengabdian yang sungguh-sungguh.
Kelima prinsip tersebut juga relevan diterapkan dalam kehidupan berorganisasi, termasuk di lingkungan MUI. Ia mengingatkan bahwa setiap pengurus harus memiliki niat yang lurus, bersedia bekerja sama, dan menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab.
Prof Mukri menegaskan bahwa MUI bukanlah tempat untuk berkompetisi mencari kedudukan, melainkan wadah untuk berkolaborasi dalam menghadirkan kemaslahatan bagi umat.
Karena itu, ia mengajak seluruh jajaran kepengurusan MUI Lampung masa khidmah 2026–2031 untuk memperkuat konsolidasi internal dan memaksimalkan pengabdian dengan berpegang pada pesan Rasulullah saw.:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
“Kesuksesan diharapkan tidak hanya dimaknai sebagai pencapaian pribadi, tetapi juga kemampuan seseorang menghadirkan manfaat nyata bagi agama, masyarakat, bangsa, dan negara,” pungkasnya.
