5 Unsur Manusia untuk Terselenggaranya Kebaikan menurut Prof Mukri

5 Unsur Manusia untuk Terselenggaranya Kebaikan menurut Prof Mukri

Share :

 

 

Bandar Lampung – MUI Lampung Digital

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Lampung, Prof Dr KH Muhammad Mukri, mengungkapkan bahwa terselenggaranya kebaikan dalam kehidupan manusia membutuhkan keseimbangan lima unsur utama yang terdapat dalam diri setiap individu. Kelima unsur tersebut adalah jasad, nafsu, akal, hati, dan ruh.

Hal tersebut disampaikannya dalam sambutan pada Musyawarah Daerah (Musda) MUI Provinsi Lampung yang berlangsung di Hotel Horison, Bandar Lampung, Jumat (16/10/2026).

Prof Mukri yang kembali terpilih sebagai Ketua Umum MUI Lampung masa khidmah 2026–2031 menjelaskan bahwa kelima unsur tersebut juga dikenal dalam kearifan Jawa dengan istilah rogo, karso, cipto, roso, dan sukmo. Menurutnya, keseimbangan seluruh unsur tersebut menjadi modal penting agar manusia mampu menghadirkan kebaikan, baik bagi dirinya sendiri maupun masyarakat luas.

Ia menjelaskan, unsur pertama adalah jasad atau rogo, yakni bagian lahiriah manusia yang harus dijaga kesehatannya. Jasad memiliki hak untuk mendapatkan makanan yang baik dan halal, istirahat cukup, serta aktivitas fisik yang mendukung kesehatan.

“Namun, jasad tidak cukup hanya dipenuhi kebutuhan fisiknya. Seluruh anggota tubuh juga harus diarahkan untuk menjalankan ibadah dan melakukan berbagai aktivitas yang bermanfaat.,” jelasnya.

Dengan jasad yang sehat, seseorang dapat lebih optimal menjalankan tanggung jawabnya. Tangan digunakan untuk membantu sesama, kaki melangkah menuju kebaikan, dan seluruh anggota tubuh menjadi sarana pengabdian kepada Allah.

Unsur kedua adalah nafsu atau karso. Menurutnya, nafsu merupakan kekuatan besar dalam diri manusia yang harus dikelola dan diarahkan. Nafsu dapat menjadi energi positif apabila dikendalikan, tetapi juga berpotensi merusak apabila dibiarkan mengikuti keinginan tanpa batas.

Dalam Islam dikenal tingkatan nafsu, mulai dari ammarah yang cenderung mengajak kepada keburukan, lawwamah yang mulai menyadari dan menyesali kesalahan, hingga muthmainnah atau jiwa yang tenang.

Karena itu, nafsu bukan untuk dimatikan, melainkan dididik agar manusia mampu mengubah keserakahan menjadi sikap qana’ah serta mengarahkan keinginannya menuju sesuatu yang diridhai Allah.

Unsur ketiga adalah akal atau cipto. Akal merupakan anugerah Allah yang memungkinkan manusia berpikir, memahami persoalan, menimbang sesuatu, dan mengambil keputusan secara bijaksana.

Prof Mukri mengingatkan bahwa Al-Qur’an berulang kali mendorong manusia menggunakan akalnya melalui ungkapan afala ta’qilun yang berarti apakah kamu tidak berpikir, serta ulul albab yang merujuk kepada orang-orang yang berakal.

Dengan akal, manusia diharapkan mampu membaca tanda-tanda kebesaran Allah, mengembangkan ilmu pengetahuan, membedakan kebenaran dan kebatilan, serta merencanakan masa depan dengan baik.

Meski demikian, kemampuan berpikir harus tetap dipandu nilai-nilai agama agar kecerdasan tidak justru digunakan untuk melakukan kecurangan maupun tindakan yang merugikan orang lain.

Unsur keempat adalah hati atau roso. Hati menjadi pusat kesadaran batin yang memengaruhi emosi, kepekaan sosial, dan nilai-nilai moral seseorang.

Dari hati yang bersih akan lahir kasih sayang, empati, ketulusan, dan keikhlasan. Sebaliknya, hati yang tidak terjaga dapat menjadi tempat tumbuhnya berbagai penyakit batin seperti iri, dengki, kesombongan, dan kebencian.

Oleh sebab itu, menjaga kebersihan hati menjadi bagian penting dalam membangun pribadi yang mampu menghadirkan kebaikan. Semakin bersih hati seseorang, semakin besar pula kemampuannya untuk bersikap bijaksana dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

Adapun unsur kelima adalah ruh atau sukmo, yakni unsur terdalam manusia yang berkaitan dengan kehidupan dan kesadaran spiritual dalam hubungannya dengan Allah SWT.

“Jika hati berkaitan dengan rasa dan dinamika batin, ruh mengingatkan manusia tentang hakikat keberadaan, tujuan penciptaan, serta pentingnya menjaga hubungan dengan Sang Pencipta.,” katanya.

Kesadaran spiritual tersebut perlu dipelihara melalui ibadah, zikir, doa, dan berbagai bentuk penghambaan kepada Allah agar manusia tidak kehilangan arah dalam menjalani kehidupan.

Prof Mukri menekankan bahwa kelima unsur tersebut tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Seluruhnya harus dibangun secara seimbang agar manusia mampu menjalankan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik.

Jasad harus dijaga kesehatannya, nafsu dikendalikan arahnya, akal dipandu oleh agama, hati dibersihkan dari berbagai penyakit batin, dan ruh senantiasa didekatkan kepada Allah.

“Ketidakseimbangan salah satu unsur tersebut dapat memengaruhi keseluruhan kehidupan manusia. Mereka yang hanya berorientasi pada jasad berpotensi terjebak dalam kehidupan materialistis. Sementara orang yang selalu mengikuti hawa nafsu dapat terjerumus pada perbuatan tercela,” katanya.

Demikian pula, kecerdasan akal tanpa tuntunan agama dapat disalahgunakan, hati yang kotor akan sulit menerima kebenaran, sedangkan lemahnya kesadaran spiritual dapat membuat kehidupan kehilangan makna.

Melalui pemahaman tersebut, Prof Mukri mengajak seluruh pengurus MUI untuk menjadikan keseimbangan lima unsur manusia sebagai bekal dalam menjalankan amanah organisasi.

Menurutnya, pengabdian kepada umat tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan intelektual maupun kekuatan fisik, tetapi juga membutuhkan niat yang benar, pengendalian diri, kebersihan hati, dan kedekatan kepada Allah.

Dengan keseimbangan tersebut, ia berharap setiap pengurus mampu membangun kolaborasi, memperkuat konsolidasi, serta menjalankan khidmah secara maksimal demi terselenggaranya kebaikan dan kemaslahatan bagi masyarakat luas. (Muhammad Faizin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *