Bandar Lampung – MUI Lampung Digital
Di tengah meningkatnya persoalan lingkungan seperti sampah, pencemaran, perubahan iklim, dan perilaku konsumtif manusia terhadap alam, muncul pertanyaan mendasar: apakah kepedulian terhadap lingkungan sudah menjadi bagian dari pendidikan keagamaan.
Pertanyaan tersebut menjadi pintu masuk pemikiran Suci Wulan Pawhestri, M.Si., Dosen UIN Raden Intan Lampung, dalam Diskusi Publik Lamban Inspirasi Seri 7 bertajuk “Edukasi Ekoteologi di Lingkungan Pendidikan dan Pesantren”. Dalam forum tersebut, Suci Wulan Pawhestri, M.Si., mengajak masyarakat melihat bahwa persoalan lingkungan tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis, tetapi juga menyangkut nilai, perilaku, dan kesadaran spiritual manusia.
Melalui gagasan ekoteologi, Suci Wulan Pawhestri, M.Si., menawarkan cara pandang bahwa hubungan manusia dengan alam tidak dapat dipisahkan dari hubungan manusia dengan Tuhan. Lingkungan bukan sekadar ruang yang menyediakan sumber daya bagi manusia, tetapi merupakan bagian dari ciptaan yang memiliki nilai dan harus dijaga bersama.
Menurut Suci Wulan Pawhestri, M.Si., tantangan terbesar dalam persoalan lingkungan saat ini bukan semata-mata karena manusia tidak mengetahui pentingnya menjaga alam. Banyak orang telah memahami bahwa lingkungan harus dilindungi, tetapi pengetahuan tersebut belum selalu berubah menjadi tindakan nyata.
Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa krisis lingkungan berkaitan erat dengan krisis perilaku dan krisis implementasi. Nilai-nilai agama sebenarnya telah mengajarkan tanggung jawab manusia terhadap alam, tetapi nilai tersebut belum sepenuhnya menjadi praktik ekologis dalam kehidupan sehari-hari.
Persoalan lingkungan, menurut Suci Wulan Pawhestri, M.Si.,, tidak cukup dipahami hanya melalui pendekatan teknologi. Sampah, pencemaran, perubahan iklim, dan pemborosan sumber daya merupakan persoalan yang juga berakar pada cara manusia berpikir dan bertindak terhadap alam. Karena itu, perubahan ekologis harus dimulai dari perubahan nilai dan perilaku manusia.
Dalam konteks tersebut, ekoteologi hadir sebagai pendekatan yang mempertemukan antara iman dan kepedulian terhadap bumi. Ekoteologi bukan hanya berbicara mengenai ajaran agama tentang lingkungan, tetapi bagaimana nilai keagamaan diterjemahkan menjadi tindakan nyata dalam kehidupan.
Suci Wulan Pawhestri, M.Si., menjelaskan bahwa ekoteologi merupakan perpaduan antara iman, kesadaran ekologis, dan tindakan. Hubungan manusia dengan Tuhan dapat tercermin dari bagaimana manusia memperlakukan sesama makhluk dan lingkungan yang ada di sekitarnya.
Dalam perspektif Islam, menjaga bumi merupakan bagian dari amanah manusia. Konsep khalifah, amanah, dan mizan menjadi dasar penting bahwa manusia bukan pemilik mutlak alam, melainkan pihak yang diberi tanggung jawab untuk mengelola dan menjaga keseimbangannya.
Manusia sebagai khalifah memiliki kewajiban merawat bumi, menjaga alam dengan penuh tanggung jawab, serta mempertahankan keseimbangan ciptaan. Nilai keagamaan memberikan landasan moral agar manusia tidak melakukan tindakan yang merusak lingkungan.
Suci Wulan Pawhestri, M.Si., melihat lembaga pendidikan Islam, khususnya pesantren, memiliki peran strategis dalam membangun budaya peduli lingkungan. Pesantren tidak hanya menjadi tempat pembelajaran ilmu agama, tetapi juga ruang pembentukan karakter dan kebiasaan ekologis.
Penerapan ekoteologi dapat dimulai dari aktivitas sederhana yang dilakukan secara konsisten. Beberapa praktik yang dapat dilakukan antara lain penghematan air, pemanfaatan kembali air wudu, pemilahan sampah, bank sampah, pengurangan penggunaan plastik, pengembangan kebun pesantren, pembuatan kompos, efisiensi energi, penghijauan, serta memasukkan nilai lingkungan dalam pembelajaran.
Menurut Suci Wulan Pawhestri, M.Si., pendidikan lingkungan tidak cukup hanya diberikan melalui teori. Nilai ekologis harus menjadi pengalaman nyata yang dilakukan setiap hari oleh peserta didik dan seluruh warga lembaga pendidikan. Dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara terus-menerus, budaya peduli lingkungan dapat tumbuh dan menjadi bagian dari identitas lembaga.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa berbagai gerakan lingkungan yang telah dilakukan masih menghadapi sejumlah tantangan. Banyak kegiatan positif seperti penghijauan, pemilahan sampah, bank sampah, kebun pesantren, pengurangan plastik, dan pemanfaatan air wudu telah berjalan, tetapi belum seluruhnya menjadi sistem yang kuat.
Beberapa kendala yang masih ditemukan antara lain program yang bergantung pada individu tertentu, dokumentasi kegiatan yang belum konsisten, keterbatasan data mengenai penggunaan air, energi, dan sampah, keterbatasan lahan, masih ditemukannya plastik sekali pakai, serta belum sepenuhnya masuk dalam kebijakan kelembagaan.
Karena itu, menurut Suci Wulan Pawhestri, M.Si., tantangan terbesar bukan hanya bagaimana membuat kegiatan lingkungan, tetapi bagaimana menjadikan kegiatan tersebut sebagai sistem dan budaya lembaga. Kepedulian ekologis harus menjadi bagian dari tata kelola pendidikan, bukan hanya program sesaat.
Dalam diskusi tersebut, Suci juga memperkenalkan gagasan Sustainability Islamic Education Metric (SIEMetric) sebagai salah satu pendekatan untuk mengukur penerapan ekoteologi dalam lembaga pendidikan Islam.
SIEMetric melihat keberlanjutan melalui beberapa aspek, yaitu nilai Islam, pendidikan, tata kelola, aksi lingkungan, pengukuran, dan perbaikan berkelanjutan. Melalui pendekatan ini, keberhasilan lembaga tidak hanya dilihat dari seberapa hijau lingkungannya, tetapi juga sejauh mana nilai ekologis telah menjadi budaya bersama.
Menurut Suci Wulan Pawhestri, M.Si., pesantren dan madrasah dapat mengambil langkah nyata melalui penyusunan kurikulum berbasis ekoteologi, pembentukan kelompok santri peduli lingkungan, pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan, serta penyelenggaraan pelatihan dan workshop lingkungan.
Ekoteologi bukan hanya tentang bagaimana manusia memahami pentingnya menjaga alam, tetapi bagaimana nilai tersebut hadir dalam perilaku sehari-hari. Pesantren dapat menjadi living laboratory ekoteologi, tempat iman berkembang menjadi kesadaran, kebiasaan, budaya, dan memberikan dampak nyata bagi lingkungan.
Melalui gagasan tersebut, Suci Wulan Pawhestri, M.Si., mengingatkan bahwa menjaga bumi bukan sekadar agenda lingkungan, melainkan bagian dari tanggung jawab manusia sebagai makhluk yang diberi amanah. Masa depan bumi tidak hanya ditentukan oleh kemajuan teknologi, tetapi juga oleh nilai dan karakter manusia dalam memperlakukan alam. (Rita Zaharah)
