Bandar Lampung – MUI Lampung Digital
Ketika krisis lingkungan semakin nyata melalui perubahan iklim, berkurangnya keanekaragaman hayati, dan rusaknya keseimbangan alam, pesantren mulai mengambil peran yang lebih luas. Tidak hanya menjadi ruang pendidikan keagamaan, pesantren juga dapat menjadi tempat lahirnya kesadaran ekologis yang mengajarkan manusia untuk kembali membangun hubungan yang harmonis dengan alam.
Pesantren Ekologi Ath Thaariq menjadi salah satu contoh gerakan tersebut. Di bawah kepemimpinan Nyai Nissa Saadah Wargadipura, pesantren ini mengembangkan gagasan bahwa merawat bumi bukan sekadar aktivitas sosial, melainkan bagian dari pengabdian manusia kepada Tuhan. Alam dipandang sebagai amanah yang harus dijaga, bukan sekadar sumber daya yang dapat dimanfaatkan tanpa batas.
Pandangan tersebut disampaikan Nyai Nissa dalam Diskusi Publik Lamban Inspirasi Seri 7 dengan tema “Edukasi Ekoteologi di Lingkungan Pendidikan dan Pesantren”. Dalam forum itu, ia membagikan pengalaman Ath Thaariq dalam membangun pendidikan yang mempertemukan nilai-nilai keislaman, kepedulian lingkungan, pertanian berkelanjutan, serta kehidupan sosial masyarakat.
Menurut Nyai Nissa, persoalan ekologis hari ini tidak dapat dilihat hanya sebagai persoalan sampah, pencemaran, atau kerusakan hutan. Krisis lingkungan merupakan persoalan cara manusia memandang dirinya di tengah alam. Ketika manusia kehilangan kesadaran bahwa dirinya merupakan bagian dari semesta, hubungan dengan bumi pun berubah menjadi hubungan eksploitasi.
Bagi Ath Thaariq, pendidikan ekologis menjadi salah satu jalan untuk mengembalikan kesadaran tersebut. Pesantren tidak hanya mengajarkan manusia untuk memahami hubungan dengan Tuhan, tetapi juga bagaimana menjalankan tanggung jawab terhadap seluruh ciptaan-Nya.
Salah satu nilai utama yang dikembangkan Ath Thaariq terangkum dalam pesan “Menanam untuk Tuhan, Semesta, dan Sesama.” Kalimat tersebut bukan sekadar slogan, tetapi menjadi filosofi kehidupan pesantren yang menempatkan aktivitas menanam sebagai bentuk ibadah dan penghormatan terhadap kehidupan.
Bagi Nyai Nissa, ketika seseorang menanam, ia sedang membangun hubungan dengan tanah, air, tumbuhan, dan makhluk hidup lainnya. Proses tersebut mengajarkan manusia tentang kesabaran, keseimbangan, serta kesadaran bahwa kehidupan tidak berjalan secara individual, melainkan saling bergantung satu sama lain.
Nilai-nilai tersebut kemudian diterapkan dalam keseharian santri. Mereka tidak hanya mempelajari teks keagamaan, tetapi juga belajar mengenal tanah, mengelola kebun, memahami pangan, dan melihat lingkungan sebagai bagian dari proses pendidikan spiritual.
Salah satu pendekatan yang menjadi perhatian Ath Thaariq adalah agroekologi. Pendekatan ini melihat pertanian bukan hanya sebagai cara menghasilkan makanan, tetapi sebagai upaya menjaga keberlangsungan kehidupan secara menyeluruh.
Dalam perspektif agroekologi, tanah tidak hanya dipandang sebagai media produksi, melainkan sebagai ruang kehidupan yang memiliki hubungan dengan manusia, tumbuhan, hewan, dan berbagai unsur alam lainnya. Karena itu, praktik pertanian harus dilakukan dengan mempertimbangkan keseimbangan ekosistem.
Melalui pengembangan kebun dan berbagai praktik pertanian berkelanjutan, Ath Thaariq berupaya membangun kemandirian pangan sekaligus menjaga pengetahuan lokal yang diwariskan masyarakat. Santri diajak memahami bahwa pangan yang dikonsumsi manusia memiliki perjalanan panjang yang berkaitan dengan alam dan kehidupan petani.
Bagi Nyai Nissa, ajaran Islam memiliki hubungan yang erat dengan kepedulian terhadap lingkungan. Konsep Islam sebagai rahmatan lil alamin tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan manusia, tetapi juga mencakup hubungan manusia dengan seluruh makhluk ciptaan Tuhan.
Karena itu, pendidikan ekologis di Ath Thaariq tidak dibatasi hanya untuk kalangan pesantren. Ruang pembelajaran dibuka bagi masyarakat luas, termasuk mereka yang memiliki latar belakang berbeda, karena persoalan lingkungan merupakan persoalan bersama yang melampaui batas identitas.
Keterbukaan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran bahwa menjaga bumi merupakan tanggung jawab kemanusiaan. Alam tidak mengenal batas agama, kelompok, maupun wilayah ketika menghadapi dampak kerusakan ekologis.
Dalam gerakan ekologis yang dikembangkan Ath Thaariq, perempuan juga memiliki posisi penting. Nyai Nissa melihat bahwa perempuan memiliki pengalaman dan peran besar dalam merawat kehidupan, mulai dari keluarga hingga lingkungan sekitar.
Melalui pendekatan ecofeminisme, pesantren berupaya menghadirkan ruang yang setara bagi perempuan untuk terlibat dalam gerakan lingkungan. Perempuan tidak hanya dipandang sebagai penerima manfaat, tetapi juga sebagai penggerak perubahan ekologis.
Pandangan tersebut menghadirkan pemaknaan yang lebih luas terhadap konsep kepedulian lingkungan. Mengurangi sampah, menggunakan kembali barang, dan mendaur ulang bukan hanya tindakan teknis, tetapi juga bagian dari perubahan cara hidup manusia agar lebih menghargai alam.
Selain melalui pendidikan langsung, Ath Thaariq juga memanfaatkan berbagai media untuk menyebarkan gagasan ekologi. Aktivitas pesantren dikomunikasikan melalui berbagai platform, mulai dari media massa, media digital, hingga media sosial.
Bagi Nyai Nissa, perubahan kesadaran tidak dapat terjadi apabila gagasan ekologis hanya berhenti di satu tempat. Pesan tentang hubungan manusia, Tuhan, dan alam perlu terus disebarluaskan agar menjadi gerakan bersama.
Pada akhirnya, pesan yang ingin disampaikan melalui Pesantren Ekologi Ath Thaariq adalah pentingnya menghadirkan manusia yang tidak hanya memiliki kesalehan spiritual, tetapi juga kesalehan ekologis.
Kesalehan ekologis berarti memahami bahwa manusia memiliki tanggung jawab menjaga keseimbangan bumi. Manusia bukan pemilik tunggal alam, melainkan bagian dari jaringan kehidupan yang saling membutuhkan.
Dari pesantren yang tumbuh bersama tanah, tanaman, dan nilai-nilai spiritual, Nyai Nissa Wargadipura menunjukkan bahwa agama dan lingkungan bukan dua hal yang terpisahkan. Keduanya dapat berjalan bersama untuk membangun kehidupan yang lebih selaras antara manusia, alam, dan Tuhan. (Rita Zaharah)
