Bandar Lampung – MUI Lampung Digital
Persoalan lingkungan hari ini tidak lagi dapat dipandang sebagai masalah yang berdiri sendiri. Banjir, kebakaran hutan, kerusakan ekosistem, hingga berbagai bencana ekologis menunjukkan adanya hubungan erat antara kondisi alam, perilaku manusia, serta sistem sosial yang berkembang di masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Prof. Dr. Ir. Eko Teguh Paripurno, M.T., Guru Besar Universitas Pembangunan Nasional (Veteran), dalam Diskusi Publik Lamban Inspirasi Seri ke-7 bertema “Edukasi Ekoteologi di Lingkungan Pendidikan dan Pesantren”.
Dalam paparannya, Prof. Dr. Ir. Eko Teguh Paripurno, M.T., menegaskan bahwa memahami persoalan lingkungan membutuhkan cara pandang yang lebih luas. Krisis ekologi bukan hanya berbicara mengenai kerusakan alam, tetapi juga menyangkut persoalan kemanusiaan, keadilan sosial, serta bagaimana masyarakat membangun hubungan dengan ruang hidupnya.
Menurutnya, berbagai persoalan ekologis yang terjadi saat ini memiliki keterkaitan dengan keputusan dan tindakan manusia dalam mengelola lingkungan. Karena itu, penyelesaian masalah lingkungan membutuhkan perubahan cara berpikir, bukan hanya mengandalkan pendekatan teknis.
“Persoalan lingkungan harus dilihat secara menyeluruh. Kita tidak cukup hanya memperbaiki dampaknya, tetapi juga perlu memahami akar persoalan yang menyebabkan munculnya kerusakan tersebut,” menjadi pesan penting dalam pemaparannya.
Prof. Dr. Ir. Eko Teguh Paripurno, M.T., menjelaskan konsep ekologi integral, yaitu pendekatan yang melihat lingkungan sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sosial manusia. Dalam pendekatan ini, persoalan lingkungan memiliki tiga dimensi utama, yakni keadilan lingkungan, keadilan sosial, dan keadilan antargenerasi.
Menurutnya, kerusakan lingkungan sering kali memberikan dampak yang lebih besar kepada kelompok masyarakat yang memiliki keterbatasan akses dan sumber daya. Karena itu, isu lingkungan juga harus dibaca sebagai isu keadilan, bukan hanya persoalan konservasi alam.
Ia memberikan gambaran bahwa berbagai fenomena seperti banjir di kawasan permukiman, kebakaran hutan, hingga pencemaran akibat sampah memiliki akar persoalan yang kompleks, mulai dari tata ruang yang kurang baik, perubahan fungsi lahan, pola konsumsi yang tidak berkelanjutan, hingga lemahnya kesadaran kolektif.
Dalam konteks kebencanaan, Prof. Dr. Ir. Eko Teguh Paripurno, M.T., menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat melalui pendekatan Pengurangan Risiko Bencana Berbasis Komunitas (PRBBK). Menurutnya, masyarakat bukan hanya pihak yang menerima dampak bencana, tetapi juga memiliki peran penting dalam membangun ketahanan lingkungan.
Ia mencontohkan berbagai praktik pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat, seperti penanaman mangrove di wilayah pesisir yang dapat membantu mengurangi abrasi, menahan gelombang, sekaligus menjaga keberlangsungan ekosistem pesisir.
“Ketahanan lingkungan tidak hanya dibangun melalui kebijakan besar, tetapi juga melalui langkah-langkah nyata yang dilakukan bersama masyarakat,” menjadi salah satu gagasan utama yang disampaikan Prof. Dr. Ir. Eko Teguh Paripurno, M.T., dalam diskusi tersebut.
Lebih lanjut, Prof. Dr. Ir. Eko Teguh Paripurno, M.T., menekankan pentingnya kolaborasi berbagai pihak dalam menghadapi tantangan ekologis. Menurutnya, persoalan lingkungan memiliki kompleksitas yang tinggi sehingga membutuhkan kontribusi dari berbagai bidang ilmu, komunitas, lembaga pendidikan, dan masyarakat luas.
Ia juga menyoroti pentingnya pendidikan lingkungan sebagai upaya membangun kesadaran sejak dini. Menurutnya, perubahan perilaku masyarakat terhadap lingkungan tidak dapat dilepaskan dari proses pembelajaran yang berkelanjutan, baik melalui sekolah, komunitas, maupun ruang sosial lainnya.
Dalam pemaparannya, Prof. Dr. Ir. Eko Teguh Paripurno, M.T., juga mengajak peserta melihat bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar aktivitas simbolik, melainkan membutuhkan tindakan nyata. Perubahan dapat dimulai dari tingkat individu melalui gaya hidup yang lebih bertanggung jawab, tingkat komunitas melalui kerja bersama, hingga tingkat kebijakan melalui tata kelola yang transparan dan berpihak pada keberlanjutan.
Diskusi yang diselenggarakan Lamban Inspirasi tersebut menjadi ruang penting untuk mempertemukan berbagai perspektif dalam memahami persoalan lingkungan. Kehadiran Prof. Dr. Ir. Eko Teguh Paripurno, M.T., memberikan penguatan bahwa keberlanjutan bumi membutuhkan kesadaran bersama dan kerja kolektif dari seluruh elemen masyarakat.
Melalui pemikiran tersebut, Prof. Dr. Ir. Eko Teguh Paripurno, M.T., mengajak peserta untuk melihat bumi sebagai ruang kehidupan bersama yang harus dijaga. Tantangan ekologis tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja, tetapi membutuhkan kepedulian, kolaborasi, dan tindakan nyata dari semua pihak. (Rita Zaharah)
