Lamban Inspirasi Hadirkan Diskusi Seri ke-7 Bahas Ekoteologi, Menguatkan Kesadaran Menjaga Bumi sebagai Amanah Ilahi

Lamban Inspirasi Hadirkan Diskusi Seri ke-7 Bahas Ekoteologi, Menguatkan Kesadaran Menjaga Bumi sebagai Amanah Ilahi

Share :

Bandar Lampung – MUI Lampung Digital 

Di tengah meningkatnya persoalan lingkungan yang dihadapi dunia saat ini, kesadaran manusia untuk kembali memahami hubungan antara Tuhan, alam, dan kehidupan menjadi semakin penting. Berangkat dari kegelisahan tersebut, Lamban Inspirasi menghadirkan ruang dialog melalui Diskusi Publik Lamban Inspirasi Seri ke-7 dengan tema “Edukasi Ekoteologi di Lingkungan Pendidikan dan Pesantren”, Jumat (18/9/2026).

Kegiatan ini menjadi ikhtiar untuk mempertemukan gagasan akademik, pengalaman praktis, serta nilai-nilai keagamaan dalam membaca berbagai persoalan ekologis yang berkembang di masyarakat. Melalui pendekatan ekoteologi, diskusi ini mengajak peserta memahami bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab sosial, tetapi juga bagian dari pengabdian manusia kepada Allah SWT.

Founder Lamban Inspirasi, Dr. Agus Hermanto, M.H.I., dalam sambutan pembukaan menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan respons terhadap berbagai persoalan kontemporer, khususnya isu lingkungan yang semakin kompleks dan membutuhkan perhatian bersama.

Menurut Dr. Agus Hermanto, MHI, ekoteologi merupakan sebuah bidang ilmu yang mengkaji hubungan antara agama, manusia, dan alam. Ilmu ini memberikan perspektif bahwa alam bukan sekadar sumber daya yang dapat dimanfaatkan, melainkan ciptaan Allah SWT yang memiliki nilai, keteraturan, dan kebermaknaan yang harus dijaga.

“Melalui diskusi ini, kita ingin menghadirkan ruang belajar bersama. Banyak ilmu yang dapat diperoleh dari para narasumber yang memiliki kompetensi dan pengalaman pada bidang masing-masing. Harapannya, kegiatan ini dapat memperluas pemahaman kita bahwa menjaga bumi merupakan bagian dari tanggung jawab spiritual manusia,” ujar Dr. Agus.

Diskusi Publik Lamban Inspirasi Seri ke-7 ini menghadirkan sejumlah narasumber yang memiliki kepakaran dalam bidang lingkungan, pendidikan, dan ekologi berbasis nilai keagamaan. Mereka adalah Prof. Dr. Ir. Eko Teguh Paripurno, M.T. dari Universitas Pembangunan Nasional (Veteran), Nyai Nissa Warqadipura selaku Pimpinan Pesantren Ekologi Ath Thariq, serta Suci Wulan Pawhestri, M.Si. dari UIN Raden Intan Lampung.

Sementara itu, diskusi dipandu oleh Kartika S., M.Pd., dosen UIN Raden Intan Lampung, yang mengarahkan jalannya dialog agar berbagai perspektif tentang ekoteologi, pendidikan lingkungan, dan peran pesantren dalam menjaga bumi dapat tersampaikan secara mendalam.

Mengusung tema “Edukasi Ekoteologi di Lingkungan Pendidikan dan Pesantren”, forum ini menegaskan bahwa lembaga pendidikan memiliki posisi strategis dalam membentuk kesadaran ekologis generasi muda. Pendidikan tidak hanya bertugas mencerdaskan manusia secara intelektual, tetapi juga membangun karakter yang memiliki kepedulian terhadap keberlangsungan kehidupan.

Dalam perspektif ekoteologi Islam, seluruh alam semesta diciptakan oleh Allah SWT dengan keteraturan dan tujuan tertentu. Setiap unsur kehidupan memiliki perannya masing-masing dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Karena itu, manusia sebagai khalifah di bumi memiliki amanah untuk merawat, bukan merusak.

Dr. Agus Hermanto, MHI menjelaskan bahwa kerusakan lingkungan dapat dipahami melalui dua sisi. Pertama, kerusakan internal, yaitu perubahan yang terjadi secara alamiah sebagai bagian dari proses kehidupan bumi. Kedua, kerusakan eksternal, yaitu kerusakan yang muncul akibat tindakan manusia, terutama ketika perilaku eksploitatif, keserakahan, dan hilangnya kesadaran moral menyebabkan ketidakseimbangan alam.

“Allah SWT menciptakan bumi dalam keadaan seimbang. Ketika manusia tidak mampu menjaga keseimbangan tersebut dan melakukan tindakan yang melampaui batas, maka dampaknya akan kembali kepada kehidupan manusia itu sendiri,” ungkapnya.

Diskusi yang berlangsung secara daring melalui platform Zoom tersebut diikuti oleh 79 peserta dari berbagai wilayah di Indonesia. Peserta berasal dari beragam latar belakang, mulai dari akademisi, mahasiswa, pendidik, aktivis lingkungan, hingga masyarakat umum yang memiliki kepedulian terhadap isu keberlanjutan.

Kehadiran peserta dari berbagai daerah menunjukkan bahwa isu ekoteologi memiliki ruang yang luas untuk dikembangkan. Kesadaran menjaga lingkungan tidak lagi menjadi isu kelompok tertentu, tetapi menjadi tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.

Pada kesempatan tersebut, Founder Lamban Inspirasi juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh tim Lamban Inspirasi yang telah mempersiapkan dan menyukseskan kegiatan Diskusi Publik Seri ke-7 ini.

“Terima kasih kepada seluruh tim Lamban Inspirasi yang telah bekerja dengan penuh dedikasi sehingga kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik. Semoga ikhtiar kecil ini menjadi bagian dari gerakan besar dalam membangun kesadaran ekologis masyarakat,” tutur Dr. Agus.

Ucapan penghargaan juga disampaikan kepada seluruh narasumber, yaitu Prof. Dr. Ir. Eko Teguh Paripurno, M.T., Nyai Nissa Warqadipura., Suci Wulan Pawhestri, M.Si.., serta moderator Kartika S., M.Pd., yang telah memberikan ilmu, pengalaman, dan perspektif berharga mengenai pentingnya membangun hubungan harmonis antara manusia dan alam.

Melalui Diskusi Publik Lamban Inspirasi Seri ke-7, pesan utama yang ingin diwariskan adalah bahwa bumi bukan hanya tempat tinggal manusia, tetapi juga amanah dari Sang Pencipta. Merawat lingkungan berarti menjaga kehidupan, menghormati ciptaan Allah SWT, dan menghadirkan keberlanjutan bagi generasi yang akan datang. (Rita Zaharah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *