Dr. Wahyu Abdul Jafar, M.HI (Dosen Fakultas Syariah UIN Jurai Siwo Lampung)
Indonesia tidak pernah dibangun dari satu warna. Sejak awal, bangsa ini tumbuh dari keberagaman suku, agama, bahasa, budaya, dan tradisi. Perbedaan bukan sesuatu yang datang belakangan. Perbedaan adalah bagian dari identitas Indonesia. Karena itu, persatuan bangsa sebenarnya bukan berarti membuat semua orang menjadi sama. Persatuan justru berarti kemampuan untuk hidup bersama meskipun kita berbeda. Persoalannya, hidup dalam perbedaan tidak selalu mudah. Di tengah perkembangan teknologi dan media sosial, perbedaan pandangan yang dahulu mungkin hanya menjadi perbincangan di lingkungan terbatas kini dapat berubah menjadi pertengkaran terbuka. Satu unggahan dapat memancing ribuan komentar. Perbedaan pilihan politik dapat merusak pertemanan. Perbedaan keyakinan kadang diperlakukan seolah-olah menjadi alasan untuk merendahkan orang lain. Di sinilah toleransi dan moderasi menjadi semakin penting. Bukan sebagai slogan yang hanya muncul dalam seminar atau pidato, tetapi sebagai sikap yang benar-benar dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Toleransi Bukan Berarti Kehilangan Keyakinan
Ada kesalahpahaman yang perlu diluruskan. Toleransi sering dianggap sebagai sikap mencampuradukkan keyakinan atau menganggap semua pandangan harus dibenarkan. Padahal, toleransi tidak menuntut seseorang meninggalkan keyakinannya. Seseorang tetap boleh meyakini agamanya sebagai kebenaran, menjalankan ibadahnya, mempertahankan prinsipnya, dan memiliki pandangan politik tertentu. Pada saat yang sama, ia harus mampu mengakui bahwa orang lain juga memiliki hak untuk menjalankan keyakinan dan kehidupannya secara bermartabat. Dengan kata lain, toleransi bukan tentang menghilangkan perbedaan. Toleransi adalah kemampuan mengelola perbedaan tanpa menjadikannya alasan untuk melakukan kekerasan atau permusuhan. Kita boleh berbeda, tetapi tidak harus saling membenci. Kita boleh tidak setuju, tetapi tidak harus saling merendahkan. Dan kita boleh memiliki keyakinan yang berbeda, tetapi tetap bisa bekerja sama sebagai sesama warga negara.
Moderasi Bukan Sikap Setengah-Setengah
Hal yang sama berlaku pada istilah moderasi. Moderasi terkadang dipahami secara keliru sebagai sikap tidak memiliki prinsip. Seolah-olah orang yang moderat adalah orang yang selalu berada di tengah dan tidak berani mengambil sikap. Padahal, moderasi bukan berarti kehilangan prinsip. Moderasi adalah kemampuan menempatkan prinsip secara proporsional dan tidak berlebihan dalam menyikapi perbedaan. Orang yang moderat tetap dapat bersikap tegas terhadap sesuatu yang diyakininya salah. Namun, ketegasan tidak harus diwujudkan dalam kebencian. Perbedaan pendapat tidak harus berakhir dengan permusuhan. Dalam kehidupan berbangsa, sikap seperti inilah yang kita perlukan. Sebab demokrasi tidak mungkin berjalan jika setiap perbedaan dianggap sebagai ancaman.
Media Sosial dan Tantangan Baru Persatuan
Tantangan terbesar toleransi hari ini mungkin bukan hanya datang dari perbedaan itu sendiri, tetapi dari cara kita berinteraksi dengan perbedaan di ruang digital. Media sosial telah mengubah cara masyarakat berkomunikasi. Informasi bergerak sangat cepat, tetapi tidak selalu disertai kemampuan untuk memeriksa kebenarannya. Kita sering membagikan informasi hanya karena sesuai dengan pandangan kita. Kita mudah percaya kepada berita yang menguatkan kelompok sendiri dan cepat menolak informasi yang berasal dari kelompok berbeda. Akibatnya, masyarakat hidup dalam ruang informasi yang terkotak-kotak. Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika perbedaan tersebut dipelihara oleh konten yang sengaja memancing kemarahan. Ujaran kebencian, fitnah, stereotip terhadap kelompok tertentu, dan informasi palsu dapat dengan mudah menyebar karena emosi memang lebih cepat menarik perhatian dibandingkan penjelasan yang tenang. Dalam situasi seperti ini, menjaga persatuan bangsa tidak cukup hanya dengan menyerukan “jangan terprovokasi”. Masyarakat perlu memiliki literasi digital yang baik. Sebelum membagikan sesuatu, kita perlu bertanya sederhana: apakah informasi ini benar? Apakah bermanfaat? Apakah dapat merugikan orang lain? Apakah saya akan mengatakan hal yang sama jika bertemu langsung dengan orang yang menjadi sasaran? Pertanyaan sederhana semacam itu sebenarnya adalah bentuk moderasi di ruang digital.
Persatuan Dimulai dari Hal-Hal Kecil
Kita sering membicarakan persatuan dalam konteks yang sangat besar: keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, ancaman disintegrasi, konflik sosial, atau kepentingan nasional. Semua itu penting. Tetapi persatuan sebenarnya dimulai dari hal-hal kecil. Ia dimulai dari kesediaan menyapa tetangga yang berbeda agama. Dari kemampuan bekerja sama dengan orang yang berbeda pilihan politik. Dari kesediaan menghormati tradisi masyarakat lain. Dari kebiasaan mendengarkan pendapat sebelum memberikan penilaian. Persatuan juga tumbuh ketika seseorang tidak menjadikan identitas kelompok sebagai alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain. Jika hal-hal sederhana ini semakin banyak dilakukan, persatuan tidak lagi menjadi konsep abstrak. Ia menjadi kebiasaan sosial.
Pendidikan Harus Mengajarkan Cara Hidup Bersama
Toleransi dan moderasi juga harus menjadi bagian penting dari pendidikan. Sekolah tidak cukup hanya mengajarkan anak bagaimana mendapatkan nilai tinggi. Anak perlu belajar bagaimana hidup bersama orang yang berbeda. Mereka harus terbiasa bekerja dalam kelompok yang beragam. Mereka perlu belajar berdiskusi tanpa menghina. Mereka perlu memahami bahwa berbeda pendapat bukan berarti bermusuhan. Hal yang sama berlaku di lingkungan keluarga. Orang tua memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk cara anak melihat perbedaan. Anak yang tumbuh dalam keluarga yang terbiasa menghormati tetangga, tidak menghina kelompok lain, dan terbuka terhadap perbedaan akan memiliki bekal yang lebih kuat untuk hidup di tengah masyarakat yang majemuk. Karakter toleran tidak lahir dari ceramah satu atau dua jam. Ia tumbuh dari keteladanan yang dilihat berulang-ulang.
Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat Punya Tanggung Jawab Besar
Dalam masyarakat Indonesia, tokoh agama dan tokoh masyarakat memiliki pengaruh yang sangat besar. Karena itu, suara mereka seharusnya menjadi jembatan ketika masyarakat menghadapi perbedaan. Agama tidak boleh digunakan sebagai bahan bakar untuk memperbesar kebencian. Sebaliknya, nilai-nilai agama semestinya menjadi sumber etika untuk membangun kehidupan bersama yang damai. Tokoh agama dapat memainkan peran penting dalam menjelaskan bahwa menjaga persatuan, menghormati manusia, dan menghindari kekerasan merupakan bagian dari tanggung jawab moral. Demikian pula tokoh masyarakat. Mereka seharusnya tidak hanya hadir ketika konflik sudah terjadi, tetapi aktif membangun ruang dialog sebelum konflik muncul. Masyarakat membutuhkan lebih banyak orang yang mampu menjadi jembatan, bukan mereka yang terus memperlebar jurang.
Berbeda Bukan Berarti Terpecah
Indonesia akan selalu memiliki perbedaan. Kita tidak mungkin menghapus perbedaan suku, agama, budaya, pilihan politik, maupun cara pandang. Yang dapat kita lakukan adalah memastikan bahwa perbedaan tersebut tidak berubah menjadi permusuhan. Di sinilah toleransi dan moderasi menemukan maknanya. Toleransi mengajarkan kita untuk menghormati orang lain tanpa harus kehilangan identitas. Moderasi mengajarkan kita untuk bersikap proporsional tanpa kehilangan prinsip. Keduanya bukan tanda kelemahan. Justru dibutuhkan keberanian untuk menahan diri ketika kita memiliki kesempatan untuk menyerang orang lain. Dibutuhkan kedewasaan untuk mendengarkan ketika kita sebenarnya ingin membantah. Dan dibutuhkan kebijaksanaan untuk mengakui bahwa hidup bersama tidak selalu berarti harus sepakat dalam segala hal. Bangsa ini tidak membutuhkan masyarakat yang selalu sepakat. Indonesia membutuhkan masyarakat yang mampu berbeda tanpa saling menghancurkan. Pada akhirnya, persatuan bangsa tidak hanya dijaga oleh aparat, undang-undang, atau simbol-simbol kenegaraan. Persatuan juga dijaga oleh sikap kita sehari-hari: bagaimana kita berbicara kepada tetangga, bagaimana kita memperlakukan orang yang berbeda keyakinan, bagaimana kita menggunakan media sosial, dan bagaimana kita menyikapi perbedaan pendapat. Jika toleransi menjadi kebiasaan dan moderasi menjadi cara berpikir, keberagaman tidak akan menjadi sumber perpecahan. Ia justru menjadi kekuatan. Sebab Indonesia tidak akan menjadi kuat karena semua warganya berpikir sama. Indonesia akan menjadi kuat ketika warganya mampu berbeda, saling menghormati, dan tetap berdiri bersama sebagai satu bangsa.
