Bandar Lampung – MUI Lampung Online
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Lampung Prof. KH Moh Mukri mengibaratkan MUI seperti payung besar umat Islam Indonesia sekaligus menjadi ruang bersama untuk menyatukan dan mengkolaborasikan berbagai organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam.
Menurutnya, keberadaan MUI memiliki posisi strategis karena di dalamnya berhimpun para ulama, zuama, dan cendekiawan Muslim dari berbagai latar belakang.
“MUI itu seperti payung bagi umat Islam Indonesia. Di bawah payung ini ada banyak ormas Islam dengan karakter, tradisi, dan program yang berbeda,” katanya.
“Perbedaan tersebut jangan menjadi alasan untuk saling menjauh, tetapi justru menjadi kekuatan untuk berkolaborasi,” ujarnya saat memberikan arahan pada Rapat Perdana Caretaker MUI Kabupaten Lampung Timur, di Kantor MUI Provinsi Lampung, Kamis (13/8/2026).
Ia mengatakan, setiap ormas Islam memiliki kelebihan dan bidang pengabdian masing-masing. Ada yang kuat dalam pendidikan, dakwah, pesantren, sosial kemanusiaan, pemberdayaan ekonomi, kesehatan, kepemudaan maupun bidang lainnya.
Menurutnya, seluruh potensi tersebut perlu dipertemukan agar menjadi kekuatan bersama bagi kemaslahatan umat.
“Jangan kita berpikir siapa yang paling besar atau siapa yang paling kuat. Yang harus kita pikirkan adalah apa yang bisa kita kerjakan bersama untuk umat,” tegasnya.
Ia menilai persoalan umat yang semakin kompleks tidak mungkin diselesaikan oleh satu organisasi saja. Karena itu, dibutuhkan komunikasi, koordinasi dan kolaborasi antarormas Islam.
Terlebih di era post truth saat ini di mana informasi yang benar dan yang salah sulit untuk diverifikasi. Jika tidak disikapi dengan baik maka akan menambah sulitnya komunikasi dan kolaborasi.
“Kalau potensi umat berjalan sendiri-sendiri, tentu hasilnya tidak akan maksimal. Tetapi kalau kita satukan dalam semangat ukhuwah dan kolaborasi, insyaallah dampaknya akan jauh lebih besar,” jelasnya.
Ia menambahkan, kolaborasi tidak berarti menghilangkan identitas masing-masing organisasi. Setiap ormas tetap memiliki karakter dan tradisi perjuangannya sendiri.
Justru, perbedaan tersebut dapat menjadi kekuatan apabila diarahkan pada tujuan yang sama.
MUI sebagai Shadiqul Hukumah
Dalam arahannya, Prof. Mukri juga menekankan posisi MUI sebagai shadiqul hukumah, yakni mitra pemerintah dalam membangun kemaslahatan masyarakat.
Menurutnya, kemitraan dengan pemerintah harus dibangun secara konstruktif dan proporsional. MUI dapat memberikan pandangan keagamaan, menyampaikan aspirasi umat, sekaligus ikut menciptakan suasana kehidupan masyarakat yang aman, damai dan kondusif.
“Shadiqul hukumah bukan berarti MUI kehilangan independensinya. MUI tetap memiliki fungsi memberikan masukan, kritik dan pandangan berdasarkan ilmu dan kemaslahatan,” ungkapnya.
Ia menilai hubungan ulama dan pemerintah harus menjadi hubungan kemitraan yang saling menghormati. Pemerintah membutuhkan pandangan para ulama dalam berbagai persoalan yang bersentuhan dengan kehidupan masyarakat, sementara ulama juga membutuhkan ruang komunikasi agar aspirasi umat dapat disampaikan melalui jalur yang baik.
“MUI bisa menjadi jembatan antara ulama, umat dan pemerintah. Ketika ada kebijakan yang baik, kita dukung dan edukasi masyarakat. Kalau ada yang perlu diperbaiki, kita sampaikan masukan secara konstruktif,” tuturnya.
Oleh karena itu ia berharap jajaran caretaker dapat segera membangun komunikasi dengan berbagai unsur umat Islam dan mempersiapkan proses konsolidasi organisasi dengan baik.
“Bangun komunikasi dengan semua pihak. Jadilah payung besar umat, rumah bersama bagi ormas Islam, ruang kolaborasi antarkekuatan umat, sekaligus mitra strategis pemerintah dalam mewujudkan kemaslahatan masyarakat dan bangsa,” harapnya.
Hadir pada rapat perdana tersebut para pengurus Caretaker MUI Lampung Timur yang terdiri dari KH Ihya Ulumuddin (Ketua) KH Suryani M Nur (Wakil Ketua) H Muhammad Faizin (Sekretaris) Ujang Tomi (Wakil Sekretaris) dan para anggota yakni KH Moh. Fahimul Fuad, H.Sholihin Panji, KH Muslih, H.Budi Suharmanto dan H. Abdurrohman Sholeh.
