H. Wahyu Iryana Sekretaris Kopertais XV Lampung
Ada orang yang mengejar ilmu agar namanya dikenal. Ada pula orang yang mencari ilmu karena merasa memiliki utang kepada masa lalu. Yang pertama sibuk membangun panggung, sedangkan yang kedua sibuk menyelamatkan warisan. Di antara hiruk-pikuk zaman yang semakin gemar mengukur kecendekiaan melalui gelar, jabatan, jumlah pengikut, publikasi, dan sorotan media, kisah Mbah Riyan dari Kudus terasa seperti sebuah anomali. Ia hadir bukan dengan kemewahan simbol akademik, melainkan dengan kesunyian kerja intelektual: membaca, menulis, memberi catatan, meneliti, dan mentahqiq kitab-kitab ulama terdahulu.
Nama sehari-harinya dikenal sebagai Supriyanto, sementara dalam dunia turats ia menggunakan nama Ibnu Harjo Al-Jawi. Di kampung, ia dikenal sebagai orang sederhana; dalam dunia kitab, namanya muncul di halaman-halaman karya ulama yang berabad-abad sebelumnya telah menjadi bagian dari jaringan intelektual Islam. Radar Kudus pernah memberitakan bahwa ia lahir di Desa Wates, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, menempuh pendidikan hingga SMA di Kudus, kemudian memperoleh kesempatan belajar di LIPIA Jakarta. Dalam kehidupan kesehariannya, ia tetap menjalani pekerjaan sederhana, termasuk pekerjaan bangunan dan pekerjaan lain yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Di sinilah kisah Mbah Riyan menjadi menarik. Bukan karena ia harus diposisikan sebagai manusia tanpa kekurangan, apalagi dikultuskan, melainkan karena perjalanan hidupnya memperlihatkan satu hal yang mulai langka: seseorang yang bersedia menghabiskan waktunya untuk pekerjaan ilmu yang tidak selalu menghasilkan popularitas.
Dalam tradisi Islam, pekerjaan semacam itu bukan pekerjaan kecil. Justru dari pekerjaan yang sering tidak terlihat itulah sebuah peradaban dapat bertahan.
Seorang muhaqqiq bekerja seperti seorang arkeolog yang menggali reruntuhan masa lalu. Ia berhadapan dengan teks, varian bacaan, kesalahan penyalinan, istilah yang berubah, kutipan yang harus dilacak, nama-nama ulama yang harus diverifikasi, dan hubungan antarkitab yang tidak selalu mudah ditemukan. Karena itu, tahqiq bukan sekadar pekerjaan mencetak kembali kitab lama. Ia merupakan bentuk tanggung jawab ilmiah terhadap teks.
Ketika seorang muhaqqiq membuka kembali sebuah kitab, sesungguhnya ia sedang membuka percakapan antara abad yang telah berlalu dengan manusia yang hidup hari ini. Mungkin inilah cara paling tepat memahami pekerjaan Ibnu Harjo Al-Jawi. Ia tidak sedang menciptakan masa lalu. Ia sedang membuat masa lalu dapat dibaca kembali. Salah satu bukti yang dapat dilihat langsung terdapat pada edisi Bidayatul Hidayah karya Imam al-Ghazali yang diterbitkan Maktabah At-Turmusy. Pada edisi tersebut, Ibnu Harjo Al-Jawi dicantumkan sebagai pentahqiq. Karya al-Ghazali ini bukan sembarang kitab. Ia sering ditempatkan sebagai pengantar menuju Ihya’ ‘Ulum al-Din dan membahas tiga ranah penting: adab ketaatan, meninggalkan kemaksiatan, serta hubungan manusia dengan Allah dan sesama manusia.
Ada sesuatu yang sangat indah jika pekerjaan Mbah Riyan dibaca melalui kitab ini.
Seorang yang memilih jalan sunyi justru menghidupkan kembali kitab yang sejak awal mengajarkan adab sebelum kebanggaan atas ilmu. Al-Ghazali seakan mengingatkan bahwa ilmu yang tidak mengubah perilaku dapat berubah menjadi beban. Orang boleh menguasai banyak kitab, tetapi apabila ilmu tidak melahirkan ketundukan, kejujuran, dan pengendalian diri, maka pengetahuan itu belum mencapai tujuan hakikinya. Di tengah dunia akademik yang semakin kompetitif, Bidayatul Hidayah menjadi semacam cermin. Kita sering bertanya berapa banyak tulisan yang telah diterbitkan, berapa banyak sitasi yang diperoleh, atau berapa banyak orang yang mengikuti kita. Kitab ini mengajak kita bertanya lebih sederhana: setelah banyak membaca, apakah diri kita menjadi lebih baik?
Jejak tahqiq Ibnu Harjo juga terlihat dalam karya-karya fikih yang sangat dekat dengan tradisi pesantren. Maktabah At-Turmusy mencantumkan namanya sebagai pentahqiq Fathul Qorib al-Mujib karya Syekh Muhammad bin Qasim al-Ghazi, sebuah syarah atas Matan Abu Syuja’ yang sangat populer dalam tradisi fikih Syafi’i. Ia juga tercatat sebagai pentahqiq Fathul Mu’in karya Syekh Zainuddin al-Malibari. Kitab ini merupakan salah satu kitab fikih yang sangat luas digunakan dalam pesantren dan menjadi bagian penting dari tradisi pengajaran fikih Syafi’iyyah di Nusantara. Di sini kita melihat bahwa kerja Ibnu Harjo tidak berhenti pada tasawuf. Ia masuk ke wilayah fikih, akidah, akhlak, qira’at, dan berbagai cabang keilmuan Islam. Dengan demikian, sosoknya lebih tepat dibaca sebagai pekerja turats lintas disiplin, bukan sekadar penulis satu tema. Dalam bidang akidah, misalnya, Maktabah At-Turmusy mencatat Syarah Tijan ad-Darori karya Syekh Nawawi al-Bantani dengan Ibnu Harjo Al-Jawi sebagai pentahqiq. Kitab ini menjadi menarik karena membawa kita kepada sosok ulama Nusantara yang pengaruhnya jauh melampaui batas geografis Banten. Syekh Nawawi al-Bantani adalah salah satu mata rantai penting jaringan ulama Jawi di Haramain. Karya-karyanya dipelajari di pesantren hingga hari ini. Ketika karya beliau ditahqiq kembali, yang sebenarnya sedang dikerjakan bukan hanya penyuntingan buku, melainkan pemeliharaan memori intelektual ulama Nusantara.
Hal serupa terlihat pada Qomi’ at-Thughyan ‘ala Mandzumati Syu’ab al-Iman karya Syekh Nawawi al-Bantani yang juga dicantumkan oleh Maktabah At-Turmusy dengan Ibnu Harjo sebagai pentahqiq. Kitab tersebut membahas cabang-cabang iman dan memadukan pembahasan akhlak dengan hadis.
Jika Bidayatul Hidayah berbicara tentang disiplin diri, Fathul Qorib dan Fathul Mu’in berbicara tentang fikih, sementara Syarah Tijan ad-Darori dan Qomi’ at-Thughyan bergerak dalam wilayah akidah dan iman, maka terlihat sebuah spektrum yang luas: fiqih, akidah, akhlak, tasawuf, dan pendidikan ruhani.
Ada pula Mirqah Su’ud at-Tashdiq fi Syarhi Sulam at-Taufiq karya Syekh Nawawi al-Bantani yang dicantumkan dengan Ibnu Harjo Al-Jawi sebagai pentahqiq.
Sementara itu, karya ulama Nusantara lain yang penting adalah Nashihatul Muslimin wa Tadzkirotul Mu’minin karya Syekh Abdus Samad al-Palimbani, yang oleh katalog Maktabah At-Turmusy juga dicatat dengan Ibnu Harjo Al-Jawi sebagai pentahqiq. Nama Syekh Abdus Samad al-Palimbani sendiri membawa kita kepada sejarah intelektual Melayu-Nusantara abad ke-18. Ia bukan sekadar nama dalam kitab kuning, tetapi bagian dari jaringan ulama Nusantara yang terhubung dengan Haramain dan tradisi intelektual Islam global. Maka, ketika karya ulama Palembang tersebut kembali dihadirkan melalui edisi tahqiq, kita sebenarnya sedang menyaksikan sebuah proses repatriasi intelektual: warisan yang pernah hidup dalam jaringan Islam dunia dikembalikan agar dapat dibaca oleh generasi sekarang.
Lebih jauh lagi, daftar karya yang dihimpun dari tulisan Ibnu Harjo sendiri memperlihatkan keluasan proyeknya. Di antara yang tercatat terdapat Al-Istihsan, Haqiqotuhu wa Hujjiyyatuhu, Dilalah Qorinah Al-Muwadlobah ‘Inda Al-Ushuliyyin, Rodd Al-Hadits Al-Dlo’if bi Al-Kulliyyah Fitnah Kabiroh Mu’ashiroh, serta sejumlah ta’liqat atas karya Syekh Mahfudz al-Tarmasi al-Jawi dalam tema ijtihad, taklid, akidah, dan tasawuf. Terdapat pula Tahqiq Al-Kalimat fi Al-Ushul Al-Fiqhiyyat karya Abul Hasan al-Bakri al-Syafi’i dan Al-Taufiq Al-Jaliy Bain Al-Asy’ariy wa Al-Hambaliy karya Abdul Ghani al-Nabulusi. Daftar yang dipublikasikan tersebut bahkan menghimpun puluhan karya yang pernah ia coret, kaji, atau tahqiq.
Namun, ada satu karya yang sangat menarik untuk melihat hubungan antara Mbah Riyan dengan tradisi intelektual Jawi, yaitu Hilyat as-Sibyan Syarh Fath ar-Rahman fi Tajwid al-Qur’an karya Syekh Nawawi al-Bantani. Sebuah penelitian akademik tahun 2025 secara eksplisit mencatat edisi Hilyat as-Sibyan yang ditahqiq Ibnu Harjo Al-Jawi, diterbitkan Maktabah Ibnu Harjo Al-Jawi di Sukabumi pada 2016. Penelitian tersebut bahkan menjadikan edisi tahqiq itu sebagai salah satu sumber primer dalam mengkaji persoalan qira’at di dalam kitab tersebut.
Ini menunjukkan sesuatu yang sangat penting. Tahqiq bukan sekadar aktivitas “membersihkan” teks dari kesalahan. Hasil tahqiq kemudian dapat menjadi sumber primer bagi penelitian akademik berikutnya. Dengan kata lain, seorang muhaqqiq sering kali bekerja sebelum seorang peneliti datang.
Ia menyiapkan tanahnya.
Ia membuka jalannya.
Ia memperbaiki teksnya.
Kemudian peneliti generasi berikutnya dapat masuk, membaca, membandingkan, dan menghasilkan pengetahuan baru.
Karena itulah tradisi tahqiq sesungguhnya sangat dekat dengan semangat historiografi. Seorang sejarawan tidak mungkin bekerja dengan baik tanpa kritik sumber. Seorang filolog tidak dapat membaca naskah tanpa kritik teks. Dan seorang muhaqqiq tidak mungkin mempertanggungjawabkan edisinya tanpa ketelitian terhadap sumber.
Di titik inilah Mbah Riyan menjadi menarik bagi dunia akademik modern.
Ia menunjukkan bahwa orang yang bekerja di luar ruang universitas pun dapat melakukan kerja yang secara metodologis sangat dekat dengan kerja filologi dan penelitian akademik.
Pada Januari 2026, Ibnu Harjo Al-Jawi juga tercatat sebagai salah satu narasumber dalam kegiatan Dauroh Tahqiq Turats Nusantara di Sunggingan yang diikuti mahasiswa dan pegiat kajian manuskrip Islam klasik. Kehadirannya di forum semacam ini menunjukkan bahwa pekerjaan yang selama ini dilakukan secara personal mulai berkelindan dengan kebutuhan pendidikan tahqiq turats di lingkungan akademik dan pesantren.
Di sinilah saya kira dunia perguruan tinggi perlu belajar.
Kita memang membutuhkan profesor.
Kita membutuhkan doktor.
Kita membutuhkan jurnal bereputasi.
Kita membutuhkan indeksasi, sitasi, akreditasi, dan berbagai instrumen akademik modern.
Tetapi semua itu hanyalah alat.
Ilmu tidak boleh kehilangan ruh karena terlalu sibuk mengurus instrumennya.
Sebelum dunia mengenal Scopus, Google Scholar, h-index, dan berbagai ukuran bibliometrik, para ulama telah memiliki budaya intelektual yang sangat kompleks. Mereka menulis mukhtashar, membuat syarah, menyusun hasyiyah, memberi ta’liq, melakukan ikhtishar, mengkritik pendapat, membandingkan riwayat, dan menjaga kesinambungan sanad. Kitab-kitab seperti Al-Risalah al-Syafi’i, Al-Mustashfa al-Ghazali, Al-Muwafaqat al-Syatibi, Jami’ Bayan al-‘Ilm wa Fadhlih Ibn Abd al-Barr, dan Tadhkirat al-Sami’ wa al-Mutakallim Ibn Jama’ah menunjukkan bahwa peradaban Islam sejak awal tidak memisahkan ilmu dari etika, metodologi, dan tanggung jawab sosial. Dalam tradisi tersebut, ilmu bukan sekadar milik orang yang memiliki ruangan kerja bagus.
Ilmu adalah amanah.
Dan amanah itu dapat dikerjakan di mana saja.
Bahkan dari sebuah rumah sederhana.
Bahkan dari sela-sela pekerjaan.
Bahkan oleh seseorang yang tidak selalu dipanggil dengan gelar akademik.
Mungkin inilah bagian paling menarik dari Mbah Riyan.
Ia mengingatkan kita bahwa kesederhanaan hidup tidak identik dengan kesederhanaan pikiran.
Tangan yang pada siang hari digunakan untuk bekerja membangun rumah dapat menjadi tangan yang sama yang pada malam hari membangun jembatan pengetahuan. Batu bata yang disusun satu demi satu memiliki kemiripan dengan halaman kitab yang disusun dengan ketekunan: keduanya membutuhkan kesabaran, ketelitian, dan kesediaan mengerjakan sesuatu yang hasilnya tidak selalu segera terlihat.
Rumah yang dibangun seorang tukang bangunan dapat menjadi tempat manusia berteduh.
Kitab yang ditahqiq seorang muhaqqiq dapat menjadi tempat generasi berteduh secara intelektual.
Yang satu menyelamatkan manusia dari hujan.
Yang lain menyelamatkan manusia dari kelupaan.
Dan peradaban, pada dasarnya, adalah usaha manusia melawan kelupaan.
Kita harus tetap kritis terhadap setiap cerita tentang tokoh. Jangan sampai kekaguman berubah menjadi kultus. Klaim tentang jumlah karya, pengakuan internasional, penghargaan, atau popularitas harus selalu diperiksa melalui katalog penerbit, edisi kitab, penelitian akademik, dan sumber yang dapat ditelusuri. Justru karena itu, karya-karya yang benar-benar dapat dilihat seperti Bidayatul Hidayah, Fathul Qorib, Fathul Mu’in, Syarah Tijan ad-Darori, Qomi’ at-Thughyan, Mirqah Su’ud at-Tashdiq, Nashihatul Muslimin, Hilyat as-Sibyan, Sabilul Iddikar, dan karya-karya lain yang tercatat jauh lebih penting daripada cerita heroik tentang dirinya. Sebab bukti terbaik seorang ilmuwan bukanlah seberapa banyak orang memujinya. Bukti terbaiknya adalah karya yang dapat dibaca dan diuji.
Di sinilah Mbah Riyan memberikan pelajaran yang sangat relevan.
Ia mengajarkan bahwa seseorang tidak harus terkenal terlebih dahulu untuk menjadi bermanfaat. Ia tidak harus menunggu panggung untuk bekerja. Ia tidak harus menunggu orang lain mengakui keilmuannya untuk mulai menulis.
Kadang-kadang ilmu justru tumbuh paling subur ketika tidak terlalu banyak ditonton.
Mungkin karena itulah istilah al-mastur terasa tepat sebagai metafora untuk membaca sosoknya.
Mastur bukan berarti gelap.
Mastur bukan berarti tidak memiliki cahaya.
Mastur adalah sesuatu yang tidak dipertontonkan.
Ada cahaya yang sengaja disimpan agar tidak membakar dirinya sendiri.
Ada ilmu yang tidak sibuk menampilkan pemiliknya.
Dan ada orang yang memilih membiarkan kitab berbicara atas namanya.
Pada akhirnya, Mbah Riyan bukan sekadar cerita tentang seorang lelaki sederhana dari Kudus yang memiliki kemampuan membaca dan mentahqiq kitab-kitab klasik. Ia adalah pengingat bahwa di balik kemajuan teknologi, digitalisasi, media sosial, dan budaya popularitas, manusia tetap membutuhkan sesuatu yang jauh lebih tua: ketekunan membaca.
Di saat orang berlomba menjadi viral, ada yang memilih menjadi berguna.
Di saat orang mengejar tepuk tangan, ada yang memilih membuka halaman kitab.
Di saat orang ingin namanya disebut, ada yang justru menghidupkan nama ulama yang telah wafat berabad-abad lalu.
Dan di saat banyak orang ingin meninggalkan foto, ia memilih meninggalkan teks.
Barangkali inilah bentuk kealiman yang paling sunyi.
Bukan ketika manusia berkata, “Lihatlah betapa alimnya aku.”
Tetapi ketika sebuah kitab yang telah berusia ratusan tahun kembali terbuka di tangan seorang santri, seorang mahasiswa, seorang peneliti, atau seorang pembaca biasa dan di antara halaman-halaman itu terdapat jejak tangan seorang muhaqqiq yang bekerja tanpa banyak suara.
Nama boleh tersembunyi.
Wajah boleh tidak dikenal.
Panggung boleh tidak tersedia.
Tetapi ilmu harus tetap menyala.
Sebab pada akhirnya, yang paling panjang umur dari seorang manusia bukanlah popularitasnya, melainkan manfaat yang terus berjalan setelah dirinya selesai berjalan.
Dan mungkin itulah pesan terdalam dari Mbah Riyan Al-Mastur dari Kudus:
ilmu tidak selalu membutuhkan panggung untuk menjadi besar; terkadang ia justru menjadi besar karena seseorang rela memilih jalan sunyi.
