KH. Suryani M. Nur (Ketua MUI Provinsi Lampung dan Sekretaris FKUB Provinsi Lampung)
Momentum 21 April selalu menghadirkan ingatan kolektif bangsa terhadap perjuangan emansipasi wanita yang diwariskan oleh R.A. Kartini. Hari Kartini merupakan panggilan moral untuk terus menghadirkan wanita-wanita tangguh yang mampu mengambil peran strategis dalam pembangunan bangsa. Dalam konteks kekinian, semangat Kartini menemukan relevansinya dalam sosok-sosok wanita muda yang tampil sebagai pemimpin, salah satunya adalah dr. Jihan Nurlela, MM.
Menariknya, refleksi ini semakin bermakna ketika bersanding dengan momentum ulang tahun beliau pada 22 April 2026, yang menandai usia kematangan dalam kepemimpinan dan pengabdian. Lahir pada 22 April 1994, perjalanan hidup Jihan Nurlela menunjukkan transformasi yang tidak hanya personal, tetapi juga sosial dan struktural, dari seorang dokter, menjadi anggota DPD RI, hingga kini mengemban amanah sebagai Wakil Gubernur Lampung.
Perlu kita ketahui bahwa Jihan Nurlela merupakan putri dari KH. Chalim (semoga Allah merahmati, dan mengampuni dosanya), seorang kyai kharismatik di Lampung Timur yang saya kagumi. Latar belakang keluarga religius ini memberi fondasi nilai yang kuat dalam pembentukan karakter kepemimpinan Jihan Nurlela, terutama dalam hal akhlak, amanah, dan kedekatan dengan umat. Nilai-nilai keislaman yang tertanam sejak dini tampak menjadi ruh dalam setiap langkah pengabdian yang dijalankannya.
Dalam perspektif kepemimpinan, sosok ini merepresentasikan model kepemimpinan transformasional yang terintegrasi. Ia tidak sekadar menjalankan fungsi administratif kekuasaan, tetapi berupaya menghadirkan perubahan paradigma dalam masyarakat. Kepemimpinan transformasional ditandai oleh kemampuan menginspirasi, membangun visi, serta mendorong perubahan yang berkelanjutan. Hal ini terlihat dari bagaimana ia membawa isu kesehatan, pemberdayaan wanita, dan pelayanan publik ke dalam ruang kebijakan yang lebih strategis.
Namun demikian, kepemimpinan Jihan tidak berdiri dalam satu dimensi. Ia juga memperlihatkan kedekatan emosional dengan masyarakat, yang dapat dikategorikan sebagai pendekatan populis yang empatik. Latar belakangnya sebagai dokter memberikan sentuhan humanis dalam memahami persoalan rakyat. Ia tidak berbicara dari menara gading kekuasaan, tetapi dari pengalaman langsung melayani masyarakat.
Di sisi lain, pendekatan teknokratis juga tampak dalam gaya kepemimpinannya. Rasionalitas, data, dan solusi konkret menjadi bagian dari cara berpikirnya dalam merespons berbagai persoalan daerah. Ini menunjukkan bahwa kepemimpinan seorang wanita masa kini tidak hanya berbasis perasaan, tetapi juga kuat dalam analisis dan pengambilan keputusan.
Jika kita tarik dalam konteks nilai-nilai keislaman, kepemimpinan seperti ini selaras dengan prinsip maslahah (kemaslahatan umum), di mana setiap kebijakan diarahkan untuk menghadirkan kebaikan bagi masyarakat luas. Allah SWT berfirman:
اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَمٰنٰتِ اِلٰٓى اَهْلِهَاۙ وَاِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ اَنْ تَحْكُمُوْا بِالْعَدْلِۗ
Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada pemiliknya. Apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu tetapkan secara adil……” (QS. An-Nisa: 58)
Ayat ini menegaskan bahwa kepemimpinan adalah amanah yang harus dijalankan dengan keadilan dan tanggung jawab. Selain itu, Allah SWT juga berfirman:
وَقُلِ اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهٗ وَالْمُؤْمِنُوْنَۗ
Artinya: Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah, rasul-Nya, dan orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu. (QS. At-Taubah: 105)
Ayat ini memberikan dorongan bahwa setiap kerja dan pengabdian akan dinilai, sehingga kepemimpinan harus diisi dengan kerja nyata, karya nyata, bukan hanya kata-kata, bukan sekadar retorika.
Adapun dalam hadits shahih, Rasulullah SAW bersabda:
كلكم راع وكلكم مسؤول عن رعيته
Artinya: Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menegaskan bahwa kepemimpinan bukanlah kehormatan semata, melainkan tanggung jawab besar di hadapan Allah SWT. Momentum Hari Kartini menjadi cermin bahwa perjuangan wanita tidak berhenti pada kesetaraan akses, tetapi berlanjut pada kualitas kontribusi. Wanita tidak hanya hadir, tetapi juga memimpin, menginspirasi, dan mentransformasikan.
Dalam hal ini, Jihan Nurlela dapat dilihat sebagai representasi “Kartini masa kini” wanita yang tidak hanya memperjuangkan ruang, tetapi juga mengisi ruang tersebut dengan karya nyata dan pengabdian. Sebagai tokoh muda, kehadirannya memberikan harapan baru bagi generasi penerus, khususnya kaum wanita bahwa kepemimpinan bukanlah ruang yang eksklusif, melainkan ruang pengabdian yang terbuka bagi siapa saja yang memiliki kapasitas, integritas, dan komitmen.
Akhirnya, peringatan Hari Kartini yang beriringan dengan ulang tahun dr. Jihan Nurlela, MM menjadi momentum reflektif yang sarat makna. Ini bukan sekadar pertemuan tanggal, tetapi pertemuan nilai antara sejarah perjuangan dan realitas kepemimpinan masa kini. Semoga kehadiran pemimpin-pemimpin wanita seperti ini terus memperkuat peran strategis wanita dalam membangun bangsa, khususnya di Provinsi Lampung yang kita cintai.
Dengan penuh rasa hormat dan do’a yang tulus, kami mengucapkan Selamat Hari Ulang Tahun kepada dr. Jihan Nurlela, MM (22 April 1994 – 22 April 2026). Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan keberkahan usia, kesehatan yang sempurna, serta kekuatan dalam mengemban amanah untuk kemaslahatan umat dan bangsa, khususnya masyarakat Lampung, dan senantiasa menjadi bagian dari wanita-wanita hebat yang menginspirasi, menggerakkan, dan membawa perubahan menuju Lampung yang lebih berkeadilan dan bermartabat. Selamat Hari Kartini, 21 April. Semoga semangat perjuangan R.A. Kartini terus hidup dalam jiwa wanita Indonesia, menjadi cahaya yang menerangi jalan pengabdian, menguatkan peran, dan menghadirkan kemajuan bagi umat dan bangsa. Wallahu a’lam bish-shawab.
