KH. Suryani M. Nur Sekretaris FKUB Provinsi Lampung
Tahun 2026 menghadirkan sebuah pertemuan makna yang jarang terjadi yakni perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili berdekatan dengan tibanya bulan suci Ramadhan 1447 Hijriyah. Di tengah keragaman yang menjadi ciri khas Provinsi Lampung, momentum ini bukan sekadar kebetulan kalender, melainkan peluang sosial yang sarat pesan kebangsaan.
Imlek identik dengan harapan baru, kebajikan, dan penghormatan terhadap nilai keluarga. Sementara Ramadhan mengajarkan pengendalian diri, empati, serta pendalaman spiritualitas. Jika ditarik ke ruang publik, keduanya memiliki titik temu: menguatkan etika hidup bersama. Dalam konteks masyarakat majemuk, perjumpaan ini seharusnya menjadi pengingat bahwa nilai universal lintas agama selalu dapat berdialog.
Lampung sejak lama dikenal sebagai miniatur Indonesia. Perbedaan etnis, budaya, dan agama bukanlah hal asing. Namun, keragaman hanya akan menjadi kekuatan apabila dirawat dengan kesadaran kolektif. Di sinilah makna penting dari dua momentum tersebut yaitu membangun harmoni bukan hanya dalam simbol seremonial, tetapi dalam praktik keseharian.
Pertama, dari aspek sosial-kultural. Perayaan Imlek yang penuh nuansa kekeluargaan dan Ramadhan yang sarat kegiatan kebersamaan (seperti buka puasa bersama dan berbagi) sama-sama menciptakan ruang interaksi sosial. Jika dikelola dengan baik, masyarakat dapat menjadikan periode ini sebagai ajang mempererat relasi antarwarga. Kehadiran lintas komunitas dalam kegiatan sosial akan memperkecil jarak psikologis yang seringkali muncul akibat stereotip.
Kedua, dari aspek etika publik. Ramadhan mendorong umat Islam untuk menahan diri, bukan hanya dari makan dan minum, tetapi juga dari amarah, prasangka, dan konflik. Imlek pun mengajarkan semangat keberuntungan yang berakar pada kerja keras, kejujuran, dan kebajikan. Jika nilai-nilai ini diterjemahkan dalam perilaku sosial, kita memperoleh fondasi etika bersama: saling menghormati, menjaga ucapan, dan mengedepankan kebajikan dalam ruang publik.
Ketiga, dari aspek ekonomi kerakyatan. Momentum keagamaan biasanya meningkatkan aktivitas ekonomi, dari sektor UMKM hingga pariwisata. Namun, lebih dari sekadar transaksi, periode ini dapat diarahkan pada semangat berbagi dan keadilan sosial. Ramadhan menanamkan nilai zakat dan sedekah, sementara Imlek menekankan tradisi berbagi rezeki. Jika sinergi ini digerakkan secara inklusif, dampaknya dapat memperkuat solidaritas ekonomi, terutama bagi kelompok rentan.
Keempat, dari aspek ketahanan sosial dan kerukunan. Di era digital, gesekan antarwarga sering dipicu oleh misinformasi dan ujaran kebencian. Dua momentum besar ini seyogianya menjadi periode refleksi bersama untuk menahan diri dari provokasi. Kerukunan bukan hanya tanggung jawab tokoh agama atau lembaga formal, tetapi tanggung jawab setiap individu dalam cara berpikir, berbicara, dan bertindak.
Namun, kita juga perlu jujur bahwa harmoni tidak lahir secara otomatis. Ia membutuhkan kesadaran, pendidikan toleransi, serta keteladanan.
Perayaan yang damai harus dibarengi dengan empati sosial. Ibadah yang khusyuk perlu disertai penghormatan pada keberadaan pihak lain. Tanpa itu, momentum hanya akan menjadi rutinitas simbolik yang cepat berlalu.
Yang paling esensial adalah menjadikan kebersamaan ini sebagai narasi kolektif. Bahwa masyarakat Lampung mampu menunjukkan kepada Indonesia: keberagaman bukan sekadar realitas demografis, tetapi energi moral. Energi yang melahirkan sikap saling menjaga, saling memahami, dan saling menguatkan.
Imlek membawa harapan baru. Ramadhan membawa penyucian jiwa. Ketika keduanya beriringan, masyarakat memiliki kesempatan langka untuk meneguhkan kembali nilai-nilai kemanusiaan. Sebab pada akhirnya, esensi dari setiap perayaan dan ibadah adalah sama: menjadikan manusia lebih bijak, lebih peduli, dan lebih damai dalam hidup bersama.
Momentum ini bukan hanya milik satu komunitas, melainkan milik seluruh warga. Dan harmoni yang lahir darinya adalah investasi sosial paling berharga bagi masa depan Lampung yang rukun, inklusif, dan bermartabat.
