Wahyu Hidayat, M.H., M.Ag,: Bencana Bukan Takdir Alam, Melainkan Cermin Cara Manusia Mengelola Lingkungan

Wahyu Hidayat, M.H., M.Ag,: Bencana Bukan Takdir Alam, Melainkan Cermin Cara Manusia Mengelola Lingkungan

Share :

Bandar Lampung – MUI Lampung Digital

Diskusi Publik Lamban Inspirasi Seri 1 digelar sebagai ruang intelektual yang mempertemukan gagasan, kepedulian, dan kegelisahan publik terhadap isu lingkungan dan kebencanaan. Mengusung tema “Penanggulangan Bencana dan Pentingnya Merawat Lingkungan”, kegiatan ini menjadi forum reflektif untuk membaca dan merespons persoalan ekologis yang semakin nyata dirasakan masyarakat, baik di tingkat lokal maupun nasional. Kegiatan ini digagas oleh Dr. Agus Hermanto, M.HI selaku Founder Lamban Inspirasi dan dipandu oleh Ahmad Burhanuddin, M.HI sebagai moderator, yang bersama-sama menghadirkan ruang dialog kritis dan bermakna bagi publik.

Narasumber Diskusi Publik Lamban Inspirasi Seri 1, Wahyu Hidayat, M.H., M.Ag, menegaskan bahwa bencana tidak dapat lagi dipahami sebagai peristiwa alam semata. Dalam paparannya, Analis Bencana BPBD Provinsi Lampung ini mengajak peserta melihat bencana secara lebih jernih dan kritis, sebagai hasil interaksi antara fenomena alam dengan kerentanan sosial, budaya, serta kebijakan manusia. Cara manusia mengelola ruang hidup, menurutnya, menjadi faktor penentu apakah sebuah fenomena alam berubah menjadi bencana atau tidak.

Wahyu Hidayat, M.H., M.Ag, menjelaskan bahwa kerusakan lingkungan memiliki kontribusi langsung terhadap meningkatnya risiko bencana. Deforestasi, alih fungsi lahan, betonisasi kawasan perkotaan, serta eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan telah menghilangkan daya dukung dan daya serap alam. Ketika hujan ekstrem atau gempa terjadi, alam tidak lagi mampu meredam dampak, sehingga kerusakan dan jumlah korban menjadi jauh lebih besar. Dalam konteks inilah, ia menegaskan bahwa istilah “bencana alam” sesungguhnya menyesatkan, karena alam hanya menyediakan ancaman, sementara manusialah yang memperbesar kerentanan.

Lebih lanjut, Wahyu memaparkan konsep dasar risiko bencana yang terdiri dari tiga unsur utama, yaitu ancaman (hazard), kerentanan (vulnerability), dan kapasitas. Risiko akan meningkat tajam ketika ancaman bertemu dengan kerentanan di ruang dan waktu yang sama. Sebaliknya, risiko dapat ditekan apabila kapasitas masyarakat diperkuat melalui literasi kebencanaan, kesiapsiagaan, infrastruktur yang tangguh, serta kebijakan pembangunan yang berkelanjutan. Menurutnya, manusia memiliki kendali besar atas dua unsur terakhir, yakni kerentanan dan kapasitas.

Dalam penjelasannya, Wahyu Hidayat, M.H., M.Ag, juga menyoroti bahwa bencana merupakan cermin rapuhnya relasi manusia dengan alam. Tidak semua orang terdampak bencana dengan cara yang sama, karena faktor sosial, ekonomi, serta akses terhadap sumber daya sangat memengaruhi tingkat kerentanan. Oleh sebab itu, penanggulangan bencana tidak dapat dilepaskan dari isu keadilan sosial dan keberpihakan kepada kelompok rentan.

Ia menekankan pentingnya fase pra-bencana sebagai tahapan paling krusial dalam siklus penanggulangan bencana. Mitigasi dan kesiapsiagaan harus menjadi prioritas utama, bukan sekadar respons ketika bencana telah terjadi. Wahyu mengkritisi kecenderungan masyarakat yang lebih reaktif dalam memberi bantuan pascabencana, tetapi kurang antusias dalam merawat lingkungan dan mencegah risiko sejak dini. Menurutnya, menanam pohon sebelum banjir jauh lebih strategis daripada sekadar menyalurkan bantuan setelah bencana datang.

Dalam kerangka solusi, Wahyu Hidayat memperkenalkan pendekatan Eco-DRR (Ecosystem-based Disaster Risk Reduction), yakni pengurangan risiko bencana berbasis ekosistem. Mangrove, hutan, ruang terbuka hijau, dan daerah resapan air bukan hanya elemen lingkungan, tetapi juga pelindung alami yang efektif dalam meredam energi bencana. Pendekatan ini dinilai lebih berkelanjutan dibandingkan pembangunan infrastruktur keras yang mahal dan berisiko tinggi dalam jangka panjang.

Wahyu Hidayat menegaskan bahwa penanggulangan bencana harus dimulai dari perubahan cara berpikir dan diakhiri dengan tindakan nyata. Merawat lingkungan bukan sekadar pilihan moral atau isu aktivisme, melainkan strategi hidup untuk memastikan keberlangsungan generasi mendatang. Melalui literasi bencana serta kolaborasi antara masyarakat, akademisi, dan pemerintah, ia optimistis masa depan yang lebih tangguh dan berkelanjutan masih dapat diwujudkan. (Rita Zaharah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *