Bandar Lampung – MUI Lampung Digital
Diskusi Publik Lamban Inspirasi Seri 1 kembali digelar sebagai ruang intelektual yang mempertemukan gagasan, kepedulian, dan kegelisahan publik terhadap isu lingkungan dan kebencanaan. Mengusung tema “Penanggulangan Bencana dan Pentingnya Merawat Lingkungan”, kegiatan ini menjadi forum reflektif untuk membahas persoalan ekologis yang semakin nyata dirasakan masyarakat, baik di tingkat lokal maupun nasional.
Diskusi yang berlangsung secara daring via Zoom ini diikuti oleh peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari akademisi, mahasiswa, pegiat lingkungan, hingga masyarakat umum. Antusiasme peserta terlihat dari dinamika diskusi yang hidup dan penuh pertanyaan kritis, menandakan bahwa isu lingkungan bukan lagi wacana pinggiran, melainkan kebutuhan bersama yang mendesak untuk dibicarakan secara serius.
Founder Lamban Inspirasi, Dr. Agus Hermanto, M.HI, dalam pengantarnya menegaskan bahwa Lamban Inspirasi hadir sebagai ruang intelektual dan sosial yang terbuka bagi siapa saja. Lamban Inspirasi, yang berarti rumah inspirasi dalam bahasa Lampung, bukan sekadar nama, melainkan cerminan visi gerakan. Ia diharapkan menjadi ruang berinspirasi, tempat bertemunya ide, nilai, dan kolaborasi untuk merespons berbagai persoalan kontemporer, khususnya yang berkaitan dengan kemanusiaan dan keberlanjutan lingkungan.
Menurut Dr. Agus Hermanto, M.HI, Lamban Inspirasi tidak hanya berfungsi sebagai forum diskusi, tetapi juga sebagai ruang membangun kolaborasi, mengembangkan potensi diri, membuka wacana ilmiah, serta meraih pengetahuan yang hakiki. Diskusi publik yang diselenggarakan diarahkan untuk melahirkan kesadaran kritis dan cara pandang yang lebih utuh, tidak semata-mata teknis, tetapi juga filosofis, sosial, dan moral.
Ia menegaskan bahwa krisis lingkungan yang terjadi saat ini tidak hanya bersifat praktis, melainkan juga bersifat filosofis. Cara berpikir, paradigma, dan keyakinan manusia sangat menentukan sikap dan keputusan dalam memperlakukan alam. Oleh karena itu, upaya penanggulangan bencana dan perawatan lingkungan harus dimulai dari pembenahan mindset, bukan hanya mengandalkan pendekatan teknis semata.
Diskusi Publik Lamban Inspirasi Seri 1 ini menghadirkan Wahyu Hidayat, M.H., M.Ag, Analis Bencana BPBD Provinsi Lampung, sebagai narasumber. Dalam paparannya, ia menguraikan bahwa bencana bukan sekadar peristiwa alam, melainkan hasil interaksi antara ancaman, kerentanan, dan kapasitas manusia. Kerusakan lingkungan akibat aktivitas manusia yang tidak berkelanjutan, menurutnya, secara langsung memperbesar risiko bencana, sehingga upaya mitigasi harus dimulai jauh sebelum bencana terjadi.
Wahyu Hidayat juga menekankan pentingnya membangun kesadaran kolektif bahwa manusia memiliki kendali besar dalam menekan risiko bencana melalui perawatan lingkungan, literasi kebencanaan, dan kebijakan pembangunan yang berkelanjutan. Ia mengingatkan bahwa alam bukan musuh yang harus ditaklukkan, melainkan mitra kehidupan yang harus dijaga keseimbangannya.
Forum diskusi ini dimoderatori oleh Ahmad Burhanuddin, M.HI, yang mengarahkan jalannya diskusi secara dinamis dan reflektif. Dialog yang terbangun tidak hanya membahas data dan konsep kebencanaan, tetapi juga menyentuh dimensi moral dan tanggung jawab sosial dalam merawat lingkungan sebagai bagian dari strategi hidup bersama.
Diskusi Publik Lamban Inspirasi Seri 1 ini diselenggarakan oleh tim pengelola Rumah Jurnal tarqi.or.id, sebuah ekosistem akademik yang menaungi sembilan jurnal ilmiah dan satu penerbit buku, yaitu Nawa Islamia, Heksa, Dakwah dan Komunikasi, Polifera, Al-Mutawattir, Incluse, Juridika, Ekoteologi, dan Al-Fiqh, serta Penerbit Tarqi Publishing. Keberadaan rumah jurnal ini menunjukkan bahwa Lamban Inspirasi memiliki fondasi keilmuan yang kuat dan berorientasi pada penguatan literasi publik.
Menutup pengantarnya, Dr. Agus Hermanto, M.HI menyampaikan harapan agar Lamban Inspirasi senantiasa responsif terhadap isu-isu baru dan aktual, baik melalui diskusi publik, bedah buku, seminar, maupun agenda intelektual lainnya. Dengan mengutip kearifan lokal Lampung, ia menegaskan, “Mak kham sapa lagi, mak ganta kapan lagi”, sebuah ajakan reflektif bahwa perubahan harus dimulai sekarang dan oleh kita sendiri demi membangun masyarakat yang lebih sadar, tangguh, dan berdaya. (Rita Zaharah)
