Krisis Kepedulian Menjadi Pemicu Utama Banjir

Krisis Kepedulian Menjadi Pemicu Utama Banjir

Share :

Dr. Agus Hermanto, MHI Dosen UIN Raden Intan Lampung

Banjir terjadi pada susut-sudut kota, dan bahkan pada pelosok-pelosok desa, hal ini kerap dianggap sederhana atau disederhanakan, baik oleh pemerintah, atau bahkan masyarakat pada umumnya dengan alasan bahwa ini adalah kejadian alam yang datang dari Tuhan. Jika paradigma kita masih seperti ini, maka sebenarnya kita sedang lalai hingga tidak peduli terhadap sesuatu yang terjadi di sekitar kita.
Apakah kita lupa bahwa Allah menganugerahkan kepada kita berupa akal pikiran untuk berpikir? Apakah kita juga lupa bahwa setiap yang terjadi dari berbagai musibah alam ada faktor pemicunya, yaitu manusia? Hal inilah yang penting untuk kita renungkan. Secara logika sehat, bahwa banjir yang terjadi adalah akibat kurangnya serapan air, atau telah ada serapan air namun tersumbat oleh sampah atau pasir dan sejenisnya, sehingga parit-parit menjadi mampet bahkan posisi parit sudah rata dengan tanah yang ada disekitarnya, sehingga tidak lagi dapat membedakan antara parit dan hamparan tanah biasa. Realita ini terjadi khususnya di daerah perkotaan, karena padatnya perumahan dan juga bangunan serta pondasi-pondasi beton sehingga kondisi air sulit terserap ke bumi, dan secara otomatis akan menggenang karena sulit untuk mengalir kedataran yang rendah.

Adapun kejadian banjir yang melanda pelosok desa biasanya disebabkan oleh penebangan liar pada daerah pegunungan untuk dijadikan lahan pertanian, pada satu sisi kita mengatakan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia, alasan ini dapat dibenarkan, namun pada sisi lainnya kerap kali upaya-upaya itu dilakukan oleh manusia tanpa berpikir kadar yang dapat dimanfaatkan dan juga tanpa berpikir pada akibat yang akan membahayakan bagi warga sekitar. Ketika pohon ditebang dan tidak ada upaya reboisasi, maka secara otomatis yang terjadi adalah erosi (longsor) yang disebabkan oleh penggundulan hutan yang menyebabkan hilangkan keseimbangan. Jika saja manusia pada saat mengelola lahan senantiasa berpikir pada sebuah akibat dan dampak lalu berupaya untuk melakukan sebuah pengelolaan yang minim resiko, maka keseimbangan akan senantiasa terjadi dan akan minim terjadinya banjir dan kejadian alam yang serupa.

Dari sinilah kita dapat berpikir, apakah kita masih menyalahkan Tuhan dengan alasan taqdir hingga kita tidak berupaya melakukan sesuatu perbaikan pada lingkungan kita, coba sejenak kita berpikir, jika satu sampah plastik dibuang oleh satu orang setiap hari, dan dari jumlah orang yang melintas setiap orangnya membuang sampah satu, berapa jumlah orang yang melintas dan berapa jumlah sampah yang dibuangnya. Namun jika setiap orang tertib membuang sampah pada tempatnya, maka tidak akan ada sampah yang tercecer hingga lingkungan bersih nyaman dirasakan pastilah akan minim terjadinya bencana alam khususnya banjir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *