Dr. Agus Hermanto, MHI Dosen UIN Raden Intan Lampung
Krisis ekologi kenapa kali didefinisikan menjadi dua, yaitu krisis internal dan eksternal. Krisis internal adalah disebabkan kerusakan alam secara alamiah, dimana Allah Ta’ala menciptakan alam semesta secara thabiiyyah (fitrah), dan konsekuensi dari ciptaan akan rusak, binasa dan hancur baik dalam waktu dekat atau lambat. Sedangkan yang kedua adalah krisis eksternal yaitu krisis yang dipicu oleh sebuah perilaku manusia. Selain ciptakan Tuhan yang bersifat alamiyah, manusia makhluk sempurna yang diamanahi akal pikiran yang kemudian mampu melakukan banyak rekayasa yang dapat mewarnai alam semesta, diantara hal yang paling menonjol dari karya manusia adalah kemampuan menciptakan teknologi.
Kemajuan teknologi kerap kali menjadi tantangan tersendiri, meskipun sejatinya manfaat teknologi sangatlah luar biasa, dan sangat membantu pekerjaan yang sekalipun sulit dijangkau oleh manusia. Namun pada sisi lain, kemajuan teknologi kerap kali berdampak negatif pada keberlangsungan lingkungan, mulai dari polusi sisa pembakaran, alat bakar yang juga berasal dari sumberdaya alam, juga limbah dari hasil sisa produksi yang kerap kali meresahkan masyarakat.
Bakar bakar yang berasal dari alam, seperti batu bara, dan sejenisnya adalah sumberdaya alam non terbarukan, meskipun dapat diperbarui namun membutuhkan rentan waktu yang cukup lama, ketika sumberdaya alam ini dipakai setiap saat hingga kemudian ada sebagian yang melakukan oknum “tidak menggali dengan benar” sehingga berdampak besar pada alam dan lingkungan dan mengancam kehidupan. Alam tidak pernah rugi, karena ia diciptakan sesuai fitrahnya “seimbang” sehingga ketika ia dieksploitasi karena keserakahan manusia, maka ia akan membentuk keseimbangan baru, dan dampak dari pemilihan “keseimbangan baru” tersebut, kerap kali menimbulkan musibah dan bencana alam, dan dari bencana alam itulah manusia dan seluruh kehidupan dirugikan, karena meninggal dan punah.
Hasil pembakaran teknologi yang kerap kali menyebabkan polusi pada udara, sehingga minimnya udara sehat, yang jika hal ini tidak segera ditangani dengan baik, maka kehidupan manusia dan juga makhluk hidup lainnya akan terancam. Asap hasil pembakaran akan dihirup oleh manusia dan manusia akan terjangkit macam penyakit, mulai dari radang, paru-paru dan juga kesehatan lainnya. Begitu juga pada hewan yang ada disekitarnya, kerap kali mengalami kematian dan terancam punah karena kurangnya udara segar.
Begitu juga hasil sisa produksi kerap kali juga menjadi limbah pada lingkungan sekitar, seperti pabrik misalnya limbah sisa produksi yang kemudian mengganggu masyarakat hingga masyarakat kesulitan mencari air jernih, dan jika air limbah itu berupa racun atau sejenisnya sesuai kadar yang ada didalam kandungannya, maka akan menjadikan manusia terjangkit penyakit bahkan meninggal dunia, selain manusia, hewan yang ada disekitarnya juga akan terancam dari kepunahan, ikan misalnya yang membutuh kan air bersih
