Kritik Biosentrisme Menuju Lingkungan Berkelanjutan

Kritik Biosentrisme Menuju Lingkungan Berkelanjutan

Share :

Dr. Agus Hermanto, MHI Dosen UIN Raden Intan Lampung

Bio yang berasal dari kata biologi yang berarti ilmu yang mempelajari seluk belum makhluk hidup, sedangkan sentris adalah sentral, yang jika digabungkan akan menjadi sebuah susunan makna bahwa mahkluk hidup sebagai sentral atau sebagai penguasa di alam dan lingkungan di antara benda yang ada, sehingga sederhananya bahwa setiap makhluk hidup sebagai subjek atau pelaku sedangkan alam atau lingkungan sebagai objek atau sesuatu yang diberdayakan.

Konsep makhluk hidup berarti mencakup segala hal yang dapat berperan dan identik sesuatu yang memiliki nyawa, termasuk manusia, hewan dan mikroba. Jika pandangan ini diteruskan, maka yang terjadi adalah sebuah konsep bahwa makhluk hidup itu sama, termasuk manusia, yang terjadi kemudian hewan harus dijaga, dilindungi, sedangkan manusia misalnya dimakan oleh harimau, diterkam hewan buas atau diinjak gajah hutan akan menjadi fenomena yang biasa dan tidak ada martabatnya, karena sejatinya derajat mereka sama dan tidak ada bedanya.

Dalam Islam sangat menjunjung tinggi moral, manusia di tunjuk oleh Tuhan sebagai Khalifah, tugas mulia ini diemban oleh manusia sepenuhnya atas anugrah akal pikiran yang melekat padanya. Namun demikian, bahwa tugas Khalifah bukan penguasa tunggal sebagaimana paham antroposentrisme, melainkan Khalifah artinya adalah wakil Tuhan di planet bumi, yang wajib menjaga prinsip tauhid, ayat, adil, amanah dan keseimbangan. Kerusakan alam yang terjadi tidak serta merta dapat dikatakan sebagai sunatullah, tapi manusia juga harus berpikir bahwa anugrah akal bukan sekedar suatu yang melekat, melainkan suatu hal yang harus digunakan dengan baik, namun demikian juga tidak dipungkiri bahwa akal juga memiliki potensi buruk hingga melakukan banyak kerusakan, dan dari situlah Allah tunjukkan kebesarannya atas perbuatan yang dilakukan oleh manusia agar manusia kembali ke jalan yang benar, yaitu jalan yang diridhai dan diberkahi Tuhan sebagai rabbul alamin.

Manusia hidup di planet bumi ini meneruskan misi kerasulan yaitu sebagai rahmatan lil’alamin yaitu rahmat bagi semesta bukan laknat bagi semesta, sedangkan keserakahan, berlebihan, kesombongan, semua itu adalah bentuk pengkhianatan terhadap tugas Khalifah, dan Allah akan minta pertanggungjawaban atas perbuatan yang dilakukannya. Allah memberikan banyak anugrah dan kenikmatan di planet bumi ini untuk dinikmati, namun hal ini bersifat timbal balik, bahwa alam dan lingkungan butuh dirawat dan dijaga serta dipelihara oleh manusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *