Dr. Agus Hermanto, MHI Dosen UIN Raden Intan Lampung
Ekosentris yang berasal dari dua kata, yaitu eko atau ekologi asal katanya, dan sentris. Dua kata ini jika digabungkan akan berarti bahwa lingkungan adalah penguasa tunggal, makna yang lebih mendalam lagi adalah bahwa lingkungan adalah sumber dari segala unsur yang tinggal di dalamnya dan setiap unsur itu tidak memiliki intrinsik kecuali aturan alam itu sendiri. Ekosentrisme berbeda dengan antroposentrisme, jika antroposentrisme adalah paham yang meyakini bahwa manusia sebagai penguasa tunggal, sedangkan ekosentrisme justru alam adalah sebagai penguasa tunggal. Lalu bagaimana kedudukan makhluk terutama manusia?
Dalam paradigma ini, manusia tidaklah memiliki intrinsik yang lebih melainkan setara dengan yang lainnya baik dari unsur makhluk hidup ataupun benda mati. Paham ini meyakini bahwa hukum alam akan tetap berlaku bagi siapa saja, dan alam akan berputar sesuai fitrah Tuhan. Sifat alamiah ini dapat dibenarkan, namun dalam Islam bahwa hubungan antara alam dan manusia adalah dua unsur yang berbeda, meskipun demikian, bahwa Allah ciptakan alam semesta sengaja untuk manusia, untuk memenuhi kebutuhan manusia, untuk saling berinteraksi dengan manusia dan untuk saling melengkapi hingga Allah tekankan bahwa diciptakannya alam semesta adalah untuk menyempurnakan tugas manusia sebagai Khalifah.
Peran Khalifah ini pernah Allah tawarkan pada alam seperti gunung, namun gunung tidak siap mengembannya dan hingga Allah tunjuk manusia dengan akal pikiran yang dimilikinya.
Jika alam dan lingkungan sebagai tempat tinggal bagi semua makhluk dapat dibenarkan, namun jika alam dan lingkungan sebagai penguasa tunggal akan bertentangan dengan konsep Khalifah, dimana kedudukan manusia sebagai makhluk sempurna layak untuk dimuliakan dan tidak dapat disamakan dengan makhluk lainnya. Namun demikian, tidak juga dapat dikatakan bahwa alam dan lingkungan sebagai objek sebagaimana konsep antroposentrisme atau biosentrisme.
