Kritik Antroposentrisme Menuju Ekologi Berkelanjutan

Kritik Antroposentrisme Menuju Ekologi Berkelanjutan

Share :

Dr. Agus Hermanto, MHI Dosen UIN Raden Intan Lampung

Paradigma antroposentrisme melukai alam dan makhluk hidup lainnya. Dalam Islam konsep Khalifah bukan sebuah paradigma yang diasumsikan sebagai penguasa tunggal, melainkan bahwa manusia memiliki akal pikiran untuk senantiasa memanfaatkan pikirannya guna berpikir pada kebaikan dan berdampak pada kemaslahatan alam semesta. Antroposentrisme yang berarti bahwa manusia adalah penguasa tunggal, dan Islam tidak mengajarkan demikian, justru islam sangat menghargai bahwa setiap makhluk hidup dan alam serta lingkungan semuanya memiliki intrinsik (potensi) sesuai kapasitasnya masing-masing. Lantas apakah kerusakan alam dapat dituduhkan pada manusia atau memang secara alamiah? Benarkah Islam menganut paham antroposentrisme?

Islam adalah agama yang dibawa oleh Rasul Muhammad saw, seorang yang dianugerahi akhlak mulia dan kecerdasan berpikir. Islam hadir bukan di ruang kosong, melainkan hadirnya Islam untuk merespon akhlak buruk yang menimpa masyarakat jahiliyah. Dalam konteks lingkungan, sejatinya kerusakan alam sudah terjadi dari masa ke masa, bahkan dari masa nabi terdahulu dan terjadi pula pada masa sekarang, dan dari kerusakan itulah Allah tunjukkan sebuah akibat dari perilaku yang dilakukan oleh hambanya agar senantiasa kembali ke jalannya. Namun pada akhir dekade ini, kerusakan alam kerap kali identik dengan dua hal, yaitu meningkatnya populasi dan juga majunya teknologi. Dua hal ini kerap kali menjadi pemicu utama dari kerusakan alam semesta.

Manusia yang diamanahi Tuhan sebagai Khalifah kerap kali teledor hingga banyak melakukan kerusakan seperti pencemaran lingkungan, polusi udara, limbah pabrik, hingga eksploitasi sumberdaya alam secara berlebihan. Sikap ini mencerminkan sikap jahiliyah yang tidak tertata dan tidak adil dan tawazun dalam memperlakukan alam dan lingkungan. Betapa tidak, Khalifah yang berarti wakil Tuhan, sehingga tugas manusia terhadap lingkungan adalah bagian bagian dari upaya untuk menyempurnakan tugas manusia di bumi.

Integrasi Tuhan sebagai Rabbul alamin (Penguasa alam semesta), dan misi Nabi rahmatan lil’alamin (rahmat bagi semesta) adalah sebuah tugas hamba kepada sang Pencipta, bukan sebagai etika sosial saja, melainkan juga etika moral yang akan berakibat pada pahala dan dosa. Konsep Khalifah bukan penguasa melainkan pemelihara, hal itu tercermin pada sebuah ajaran agama bahwa setiap kita adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas hal yang kita pimpinan. Sebagai Khalifah merupakan bagian dari tanggungjawab yang harus dijalankan dengan baik, dan demi ketaatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *