Ketum MUI Lampung: Kuasa Tanpa Rasa Datangkan Bala

Ketum MUI Lampung: Kuasa Tanpa Rasa Datangkan Bala

Share :

Bandar Lampung, MUI Lampung Digital

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Lampung, Prof. H. Muhammad Mukri, menegaskan bahwa kepemimpinan tidak boleh dijalankan hanya sebatas kuasa, melainkan harus disertai dengan rasa kepedulian dan tanggung jawab terhadap rakyat.

Hal tersebut ia sampaikan dalam kegiatan Koordinasi MUI Provinsi Lampung bersama MUI Kabupaten dan Kota se-Lampung yang berlangsung di Hotel Horizon Bandarlampung, Senin (8/9/2025).

“Kuasa yang dijalankan tanpa rasa hanya akan mendatangkan bala. Jabatan yang tidak diiringi dengan empati, keadilan, dan kemanusiaan justru akan membawa malapetaka bagi bangsa dan masyarakat,” katanya.

Ia menekankan bahwa pemimpin seharusnya menjadikan kekuasaan sebagai amanah untuk menebar kebaikan, bukan sekadar sebagai alat untuk menguasai.

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama ini pun menyoroti fenomena sebagian pejabat yang kerap mempertontonkan kekayaan dan gaya hidup glamor di tengah kehidupan masyarakat yang masih banyak menghadapi kesulitan.

Sikap seperti itu, menurutnya, hanya akan melukai hati rakyat dan memperlebar jarak antara pemimpin dengan yang dipimpin. Pemimpin, kata dia, seharusnya tampil sederhana, rendah hati, dan mampu merasakan penderitaan rakyat agar kehadirannya membawa keteladanan.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga ucapan. Dengan menekankan ungkapan “mulutmu harimaumu,” ia menegaskan bahwa setiap perkataan seorang pemimpin memiliki dampak besar. Kata-kata bisa menjadi sumber kebaikan jika bijak diucapkan, namun sebaliknya, bisa menimbulkan masalah serius apabila disampaikan dengan ceroboh dan menyakitkan hati masyarakat.

Landasan kepemimpinan yang benar menurutnya sudah ditegaskan dalam Al-Qur’an. Prof. Mukri mengutip Surat Ali Imran ayat 159, yang menjelaskan bahwa Rasulullah SAW berhasil memimpin umat karena kelembutan dan kasih sayangnya.

“Seandainya beliau bersikap keras dan berhati kasar, niscaya umat akan menjauh. Nilai kelembutan inilah yang harus diteladani oleh para pemimpin masa kini dalam berinteraksi dengan rakyatnya,” ungkapnya.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa kebahagiaan hakiki tidak terletak pada jabatan atau materi, melainkan pada terselenggaranya kebaikan yang nyata dalam kehidupan bersama. Kepemimpinan yang amanah dan membawa maslahat akan menghadirkan keberkahan bagi seluruh umat.

Karena itu, Prof. Mukri mengajak semua pihak, khususnya para pemimpin, untuk mengedepankan kelembutan, kesederhanaan, dan keteladanan dalam menjalankan amanah.

“Amanah kepemimpinan adalah jalan untuk menebar kebaikan, bukan untuk kepentingan pribadi,” tegasnya pada kegiatan yang merupakan rangkaian Ijtima Ulama dan Umara yang diselenggarakan oleh Majelis Ulama Indonesia provinsi Lampung ini.

Pada kegiatan Ijtima tersebut akan menghadirkan Ketua Majelis Ulama Indonesia pusat KH Cholil Nafis, Gubernur Lampung, Kapolda Lampung, dari Bank Indonesia dan narasumber lainnya. Kegiatan mengangkat tema Revitalisasi Peran Ulama dan Umara dalam Menjaga Kepercayaan Publik dan Keutuhan Bangsa. (Muhammad Faizin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *