Dosen Fakultas Adab UIN Raden Intan Lampung Lolos Open Panel AICIS+ 2025 dengan Riset tentang AI dan Perdamaian

Dosen Fakultas Adab UIN Raden Intan Lampung Lolos Open Panel AICIS+ 2025 dengan Riset tentang AI dan Perdamaian

Share :

Bandar Lampung, MUI Lampung Digital

Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung kembali mencatatkan prestasi akademik tingkat internasional. Berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 7181 Tahun 2025, Dosen Fakultas Adab UIN Raden Intan Lampung, Muhamad Bisri Mustofa dan Wahyu Iryana resmi lolos sebagai peserta Open Panel dalam ajang Annual International Conference on Islam, Science, and Society (AICIS+) ke-24 Tahun 2025 yang digelar oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. Rabu (03/09/2025)

Dari 2434 Abstrak yang berasal dari 31 Negara, terpilih 234 abstrak yang akan dipresentasikan, ini juga menjadi rekor tertinggi dalam sejarah AICIS yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.

Konferensi internasional ini akan diselenggarakan pada 29-31 Oktober 2025, di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Depok, Jawa Barat, dengan dukungan penuh Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI. AICIS+ 2025 mengangkat tema besar tentang persinggungan ekoteologi, kemajuan teknologi, dan khazanah keilmuan Islam, guna melahirkan gagasan transformatif yang menjawab tantangan global.

Riset tentang Kecerdasan Buatan dan Perdamaian

Dalam forum tersebut, Bisri Mustofa akan mempresentasikan karya ilmiah berjudul “Human Touch versus Artificial Intelligence in Peacebuilding and Conflict Resolution: An Islamic Reflection Beyond Algorithms.” Karya ini ditempatkan dalam Sub-theme 7: Peacebuilding and Humanitarian Crises: Proposing Sustainable Strategies for Reconciliation and Responses to Global Humanitarian Challenges.

Penelitian ini menyoroti hubungan antara kemajuan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), dengan peran nilai-nilai kemanusiaan dalam membangun perdamaian. Menurut Bisri yang juga sebagai Trainer Moderasi Beragama, “AI memiliki potensi besar untuk menganalisis pola konflik, mendeteksi ujaran kebencian, serta memberikan data cepat bagi proses pengambilan keputusan. Namun, teknologi tidak dapat menggantikan dimensi empati, spiritualitas, dan etika Islam yang menjadi fondasi dalam menciptakan rekonsiliasi sejati”.

Dalam paper tersebut, terdapat tiga gagasan kunci. Pertama, ia mengkritisi kecenderungan overreliance pada algoritma dalam menganalisis konflik yang berisiko meniadakan aspek psikososial masyarakat. AI, menurutnya, memang unggul dalam membaca pola data, tetapi sering gagal menangkap nuansa emosional, trauma kolektif, serta aspirasi lokal yang justru menentukan keberhasilan rekonsiliasi.

Kedua, ia menawarkan perspektif Islam yang menekankan pentingnya human touch dalam proses perdamaian. Prinsip-prinsip Qur’ani tentang islah (perdamaian), rahmah (kasih sayang), dan ‘adl (keadilan) diletakkan sebagai etika dasar yang harus melengkapi kerja teknologi.

Dalam pandangan paper tersebut, rekonsiliasi yang sejati tidak bisa sepenuhnya dikalkulasi oleh mesin, tetapi harus lahir dari empati manusia yang dipandu oleh nilai spiritual.

Ketiga, menekankan perlunya paradigma augmented peacebuilding, yakni pendekatan yang memadukan kekuatan AI dengan kebijaksanaan kemanusiaan. AI dapat diposisikan sebagai alat pendukung untuk mempercepat diagnosis masalah, tetapi keputusan moral, negosiasi, dan rekonsiliasi harus tetap berada di tangan manusia.

“Teknologi kecerdasan buatan memang menawarkan solusi praktis dalam menganalisis konflik. Akan tetapi, Islam menegaskan bahwa perdamaian tidak hanya soal data dan algoritma, melainkan soal sentuhan kemanusiaan yang berlandaskan keadilan, kasih sayang, dan kebijaksanaan moral. Tanpa human touch, rekonsiliasi hanya akan berhenti pada aspek teknis, bukan substansi kemanusiaan,” ujar Bisri Mustofa, juga anggota Komisi Infokom MUI Provinsi Lampung.

Karya ini menjadi gagasan relevan di tengah meningkatnya konflik global, polarisasi politik, dan krisis kemanusiaan. Peran teknologi dalam manajemen konflik memang semakin besar, mulai dari early warning system berbasis big data hingga machine learning untuk memetakan risiko kekerasan. Namun, Bisri mengingatkan bahwa teknologi tanpa etika bisa menjadi alat reproduksi ketidakadilan baru.

Dengan mengintegrasikan perspektif Islam ke dalam diskursus perdamaian berbasis teknologi, riset ini tidak hanya memberi kontribusi akademik, tetapi juga menawarkan kerangka etis yang aplikatif. Prinsip-prinsip Islam dapat menjadi panduan normatif agar AI benar-benar menjadi instrumen keadilan sosial, bukan sekadar alat kalkulasi.

Keikutsertaan dalam AICIS+ 2025 diharapkan memperluas jejaring akademik internasional sekaligus membuka ruang kolaborasi riset lintas negara. Lebih jauh, gagasan yang ia tawarkan dapat menginspirasi akademisi, praktisi perdamaian, dan pengambil kebijakan untuk merancang strategi rekonsiliasi yang memadukan inovasi teknologi dengan kebijaksanaan kemanusiaan.

Melalui kontribusi ini, Muhamad Bisri Mustofa tidak hanya membawa nama baik Fakultas Adab UIN Raden Intan Lampung, tetapi juga menunjukkan bahwa perguruan tinggi Islam di Indonesia memiliki kapasitas untuk memberi sumbangsih pemikiran solutif bagi tantangan perdamaian di kancah global. (Rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *