Mengembalikan Ruh Kemerdekaan: Antara Syukur dan Hawa Nafsu

Mengembalikan Ruh Kemerdekaan: Antara Syukur dan Hawa Nafsu

Share :

 

 

H. Agus Mukhandar, M.Pd.I Penyuluh Agama Islam Kemenag Bandar Lampung/Ketua Dewan Dakwah Kota Bandar Lampung

Kemerdekaan adalah anugerah agung dari Allah ﷻ yang patut disyukuri. Tidak sedikit darah, air mata, dan jiwa yang dikorbankan para pahlawan bangsa demi mengangkat martabat negeri ini dari belenggu penjajahan. Namun, setelah lebih dari tujuh dekade merdeka, patut kita bertanya: apakah ruh kemerdekaan itu masih hidup dalam diri kita, ataukah ia sudah bergeser menjadi sekadar rutinitas perayaan?

Makna Merdeka yang Hakiki

Banyak orang mengira merdeka berarti bebas melakukan apa saja tanpa batas. Padahal, bebas tanpa arah justru bentuk lain dari keterjajahan. Seseorang yang hidup sesukanya, mengumbar hawa nafsu, sejatinya masih menjadi budak—budak syahwat, budak amarah, budak keserakahan.

Islam mengajarkan bahwa merdeka sejati adalah ketika manusia melepaskan penghambaan kepada selain Allah menuju penghambaan hanya kepada Allah semata. Allah ﷻ berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)

Ucapan Rib‘ī bin ‘Āmir: Definisi Merdeka yang Sesungguhnya

Sejarah mencatat, seorang sahabat mulia bernama Rib‘ī bin ‘Āmir pernah berhadapan dengan Panglima Persia, Rustum. Ketika ditanya apa tujuan umat Islam datang ke negeri mereka, beliau menjawab dengan tegas:

“Kami datang untuk membebaskan manusia dari penghambaan sesama manusia menuju penghambaan hanya kepada Allah; dari sempitnya dunia menuju luasnya akhirat; dari kezaliman agama-agama menuju keadilan Islam.”

Ucapan singkat ini sarat makna, dan bila kita jabarkan:

1. “Membebaskan manusia dari penghambaan sesama manusia menuju penghambaan hanya kepada Allah”
* Islam datang untuk mengangkat martabat manusia agar tidak diperbudak sesama makhluk, baik oleh penguasa, harta, atau hawa nafsu.
* Hanya Allah yang berhak ditaati mutlak. Inilah inti kemerdekaan sejati: laa ilaaha illallah.
2. “Dari sempitnya dunia menuju luasnya akhirat”
* Dunia itu fana, penuh keterbatasan, sementara akhirat adalah kehidupan abadi.
* Islam membebaskan manusia dari pandangan hidup yang sempit, hanya mengejar dunia, kepada orientasi hidup yang luas: dunia untuk akhirat.
3. “Dari kezaliman agama-agama menuju keadilan Islam”
* Sistem kepercayaan sebelum Islam banyak yang menindas rakyat kecil, menguntungkan segelintir orang.
* Islam hadir membawa keadilan universal: mengatur hubungan dengan Allah, dengan sesama, dan dengan alam.

Inilah definisi merdeka yang sesungguhnya: bebas dari segala belenggu selain Allah, dan hidup di bawah keadilan Islam.

Antara Syukur dan Hawa Nafsu

Syukur adalah ruh kemerdekaan. Dengan syukur, kita menjaga nikmat kemerdekaan agar tetap membawa kebaikan, sebagaimana firman Allah:

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu…”
(QS. Ibrahim: 7)

Namun, dalam praktik, semangat syukur itu sering terkikis oleh hawa nafsu. Perayaan kemerdekaan kadang dipenuhi dengan kegiatan yang tidak ada hubungannya dengan nilai perjuangan: lomba makan kerupuk, balap karung, adu bantal di atas sungai, bahkan ada lomba yang berisiko mencelakakan. Lebih menyedihkan lagi, ada perlombaan yang melanggar syariat Islam, seperti joget balon campur antara laki-laki dan perempuan, atau pertandingan dengan pakaian yang tidak pantas.

Apakah ini wujud syukur atas kemerdekaan, ataukah justru pelecehan terhadap makna merdeka?

Menyemai Perayaan yang Bermakna

Perayaan kemerdekaan seharusnya diarahkan pada kegiatan yang:
1. Menguatkan iman dan syukur, misalnya doa bersama, lomba tilawah, atau kajian perjuangan Islam dalam kemerdekaan.
2. Mendidik generasi muda, dengan lomba pengetahuan sejarah, karya tulis, atau pidato kebangsaan.
3. Menumbuhkan solidaritas, seperti bakti sosial, donor darah, santunan anak yatim, atau membersihkan lingkungan.
4. Menyehatkan jasmani, melalui olahraga yang aman, mendidik, dan sesuai norma syariat.

Dengan begitu, perayaan kemerdekaan bukan sekadar hura-hura, melainkan menjadi sarana syukur, pendidikan, dan persatuan.

Kemerdekaan sejati bukan hanya terbebas dari penjajahan bangsa asing, tetapi juga dari belenggu hawa nafsu. Ucapan Rib‘ī bin ‘Āmir mengingatkan kita bahwa merdeka berarti hanya menghambakan diri kepada Allah ﷻ semata.

Perayaan kemerdekaan yang benar adalah wujud syukur kepada Allah, penghormatan kepada para pahlawan, dan penguatan iman serta persatuan bangsa. Mari kita kembalikan ruh kemerdekaan ini. Jangan sampai peringatan kemerdekaan berubah menjadi pesta nafsu dan kelalaian. Sebab, bangsa yang merdeka adalah bangsa yang mensyukuri nikmat Allah dan menundukkan diri hanya kepada-Nya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *