Kiai. Khabibul Muttaqin, SHI Pengasuh PP Nashihuddin Bandar Lampung
Perjalanan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan bukanlah proses yang singkat, melainkan hasil dari perjuangan panjang, darah, air mata, dan doa. Dalam sejarah itu, santri dan ulama memiliki posisi yang sangat penting. Mereka tidak hanya tampil sebagai guru spiritual dan pengajar ilmu agama, tetapi juga sebagai pejuang, penuntun moral, sekaligus penggerak rakyat dalam melawan penjajahan. Dalam konteks peringatan HUT RI ke-80 dengan tema “Bersatu, Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju”, refleksi terhadap kiprah santri dan ulama semakin menemukan relevansinya. Mereka menjadi teladan bagaimana persatuan dan kedaulatan dapat diraih melalui keteguhan iman, keberanian, dan keikhlasan berkorban demi bangsa.
Sejak awal abad ke-20, pesantren menjadi basis perlawanan kultural dan ideologis terhadap kolonialisme. Ulama menyadari bahwa penjajahan bukan sekadar dominasi politik dan ekonomi, tetapi juga ancaman terhadap iman dan budaya bangsa. Karena itu, semangat perjuangan tidak hanya dilandasi nasionalisme, tetapi juga keyakinan religius bahwa membela tanah air merupakan bagian dari iman. Dalam banyak kesempatan, ulama menegaskan kaidah hubbul wathan minal iman (cinta tanah air adalah bagian dari iman) sebagai spirit untuk menggerakkan santri dan rakyat.
Tokoh-tokoh ulama seperti KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan, KH Wahid Hasyim, KH Zainul Arifin, KH Agus Salim, hingga Buya Hamka tampil bukan hanya sebagai pemimpin umat, tetapi juga pemimpin bangsa. Mereka menyatukan visi nasionalisme dan Islam dalam satu tarikan nafas perjuangan. Saat para tokoh bangsa merumuskan dasar negara, ulama juga hadir memberi pandangan bijak agar Indonesia merdeka berdiri di atas fondasi persatuan. Di sini terlihat peran ulama yang bukan hanya mengawal kemerdekaan secara fisik, tetapi juga mengawal fondasi ideologis bangsa.
Puncak kiprah santri dan ulama dalam mengawal kemerdekaan terlihat pada peristiwa Resolusi Jihad 22 Oktober 1945. KH Hasyim Asy’ari menyerukan bahwa melawan penjajah yang kembali ingin menguasai Indonesia setelah proklamasi adalah fardhu ‘ain bagi umat Islam. Seruan ini memantik semangat rakyat untuk mengangkat senjata, dan meletuslah pertempuran 10 November di Surabaya yang kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan. Tanpa peran ulama dan santri, mungkin perlawanan rakyat tidak akan seheroik itu. Resolusi Jihad menjadi bukti bahwa santri bukan sekadar penuntut ilmu di bilik pesantren, tetapi juga penjaga kedaulatan bangsa.
Tidak hanya di Jawa, di berbagai daerah santri dan ulama juga memainkan peran penting. Di Aceh, Teungku Chik di Tiro dan ulama-ulama Dayah menjadi motor perlawanan terhadap Belanda. Di Sulawesi, KH Ahmad Dahlan Mandar dan para ulama Bugis-Makassar memimpin perlawanan rakyat. Di Kalimantan, ulama Banjar ikut mengobarkan jihad melawan penjajah. Hal ini menunjukkan bahwa kontribusi ulama dan santri tersebar di seluruh Nusantara, menjadikan pesantren sebagai pusat energi perjuangan yang menyatukan rakyat lintas etnis dan budaya.
Kini, delapan puluh tahun setelah proklamasi, bangsa Indonesia masih mengingat dengan penuh rasa syukur kiprah besar santri dan ulama itu. Namun, penghormatan terhadap jasa mereka tidak cukup hanya dengan mengenang sejarah, melainkan juga dengan meneruskan perjuangan sesuai dengan tantangan zaman. Jika dulu musuh bangsa adalah kolonialisme dan imperialisme, maka kini tantangan yang dihadapi berupa kemiskinan, kebodohan, ketimpangan sosial, radikalisme, dan disrupsi digital. Dalam kerangka itulah tema HUT RI ke-80: Bersatu, Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju menemukan makna yang dalam.
Santri masa kini dituntut untuk mengembangkan kiprah yang lebih luas. Tidak hanya mengaji kitab di pesantren, tetapi juga menguasai ilmu pengetahuan modern, teknologi, ekonomi, hingga politik. Ulama pun perlu hadir sebagai penuntun moral yang meneguhkan akhlak bangsa di tengah derasnya arus globalisasi. Persatuan yang dulu menjadi modal utama melawan penjajah harus tetap dijaga untuk melawan ancaman disintegrasi. Kedaulatan yang dulu dipertaruhkan dengan senjata kini harus diwujudkan melalui kemandirian ekonomi, ketahanan pangan, dan penguasaan teknologi. Sejahtera yang dulu diimpikan dengan terbebasnya rakyat dari penindasan, kini harus diwujudkan dengan pemerataan pembangunan dan keadilan sosial.
Perjalanan sejarah membuktikan bahwa tanpa peran ulama dan santri, bangsa ini mungkin kehilangan arah moral. Ulama adalah penjaga nurani bangsa. Ketika bangsa ini berada di persimpangan jalan, ulama hadir memberikan panduan agar tidak terjerumus pada perpecahan. Pada masa kemerdekaan, peran itu sangat nyata. Kini, peran yang sama tetap dibutuhkan agar Indonesia tidak terseret arus pragmatisme politik, korupsi, dan hedonisme yang menggerogoti sendi-sendi kehidupan berbangsa.
Momentum HUT RI ke-80 menjadi ajang refleksi bagaimana menempatkan kembali santri dan ulama sebagai bagian integral dari pembangunan nasional. Pemerintah perlu memberi ruang lebih besar bagi pesantren untuk berkembang sebagai pusat pendidikan yang melahirkan generasi yang tidak hanya alim dalam agama, tetapi juga mumpuni dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Santri harus diberi kesempatan menjadi bagian dari pemimpin bangsa, baik di bidang politik, ekonomi, maupun sosial. Dengan demikian, kiprah mereka mengawal kemerdekaan tidak berhenti di masa lalu, tetapi terus berlanjut di masa depan.
Di sisi lain, ulama perlu terus meneguhkan peran sebagai perekat persatuan. Dalam masyarakat yang majemuk, perbedaan sering kali berpotensi memecah belah. Ulama dengan wibawanya dapat menjembatani perbedaan itu dengan semangat toleransi dan ukhuwah. Nilai-nilai moderasi beragama yang diajarkan di pesantren sangat relevan untuk membangun Indonesia yang bersatu. Jika persatuan tetap terjaga, maka cita-cita berdaulat, sejahtera, dan maju akan lebih mudah diwujudkan.
Kiprah santri dan ulama juga sangat penting dalam menjaga demokrasi Indonesia. Demokrasi yang sehat bukan hanya soal mekanisme politik, tetapi juga soal etika dan moralitas. Ulama dapat menjadi suara penyeimbang, mengingatkan para pemimpin agar tidak tergelincir pada kepentingan pribadi. Santri, dengan semangat kritisnya, dapat menjadi bagian dari gerakan masyarakat sipil yang memperjuangkan keadilan. Dengan demikian, cita-cita kemerdekaan untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia akan semakin nyata.
Refleksi delapan puluh tahun kemerdekaan mengajarkan kita bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawan. Santri dan ulama adalah pahlawan dalam makna yang luas. Mereka bukan hanya mengangkat senjata, tetapi juga mengangkat doa, ilmu, dan moralitas untuk bangsa. Dalam konteks ini, santri dan ulama adalah penopang utama semangat kebangsaan. Tanpa mereka, kemerdekaan tidak akan pernah terwujud, dan tanpa mereka pula, kemerdekaan tidak akan pernah bermakna.
Kini, tugas generasi muda, termasuk para santri, adalah meneruskan estafet perjuangan itu. Mengawal kemerdekaan di era digital berarti berjuang melawan kebodohan dengan literasi, melawan hoaks dengan kebenaran, melawan intoleransi dengan toleransi, dan melawan ketertinggalan dengan inovasi. Ulama, dengan kebijaksanaannya, tetap menjadi rujukan moral yang menjaga bangsa ini agar tidak kehilangan arah. Bersama-sama, ulama, santri, dan seluruh elemen bangsa harus menjaga agar Indonesia tetap bersatu, berdaulat, sejahtera, dan maju.
Kita dapat menegaskan bahwa kiprah santri dan ulama dalam mengawal kemerdekaan RI adalah bagian dari identitas nasional yang tak terpisahkan. Mereka bukan hanya bagian dari sejarah, tetapi juga bagian dari masa depan. Peringatan HUT RI ke-80 dengan tema Bersatu, Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju mengingatkan kita semua bahwa semangat perjuangan itu harus terus hidup dalam setiap langkah pembangunan bangsa. Kemerdekaan bukanlah tujuan akhir, melainkan awal dari perjuangan panjang untuk mewujudkan kesejahteraan dan keadilan.
Dengan meneladani keberanian, keikhlasan, dan keteguhan santri dan ulama, kita bisa yakin bahwa Indonesia akan terus melangkah menuju masa depan yang lebih cerah. Bersatu adalah syarat, berdaulat adalah jalan, rakyat sejahtera adalah tujuan, dan Indonesia maju adalah cita-cita bersama. Semua itu hanya bisa terwujud jika kita terus menghidupkan semangat pengabdian santri dan ulama dalam setiap denyut nadi perjuangan bangsa.
