Hurriyatul Musyarrofah Ketua PC Fatayat NU Kota Bandar Lampung
Di tengah derasnya arus digital, dunia maya telah menjadi ruang yang begitu akrab bagi anak-anak. Dari hiburan, belajar, hingga bersosialisasi semuanya kini bisa dilakukan hanya lewat genggaman. Namun, ketika layar mulai menggantikan pelukan, dan notifikasi lebih menarik daripada suara ibu, kita patut bertanya: adakah yang tergerus dari jiwa anak-anak kita?
Dalam situasi inilah peran seorang ibu menjadi sangat vital. Ibu bukan sekadar sosok pengasuh, tetapi garda terdepan dalam menjaga kewarasan anak di tengah badai digital. Ketika anak mulai kehilangan minat berinteraksi di dunia nyata, ibu hadir sebagai jembatan yang menghubungkan kembali mereka dengan kehidupan yang penuh makna yang bisa disentuh, dirasakan, dan dinikmati tanpa perantara layar.
Kecanduan gadget bukan semata kesalahan teknologi, melainkan sinyal bahwa ada kekosongan yang tidak terisi dengan interaksi nyata, kasih sayang, dan perhatian yang tulus. Anak-anak yang larut dalam dunia maya sejatinya sedang mencari sesuatu: hiburan, teman, pelarian, atau bahkan pengakuan. Di sinilah kasih ibu harus lebih dahulu hadir daripada cahaya layar. Dengan dialog yang hangat, pelukan yang menenangkan, dan kehadiran yang konsisten, ibu mampu menjadi sumber ketenangan yang tak bisa digantikan oleh algoritma mana pun.
Membangun kembali dunia nyata anak bukan berarti menolak teknologi, melainkan menyeimbangkan. Ibu bijak bukan yang melarang tanpa arah, tetapi yang mengarahkan dengan kasih. Momen makan bersama tanpa gawai, waktu khusus bermain di luar rumah, atau bahkan mendampingi anak saat menggunakan gadget secara produktif semua ini adalah langkah kecil yang bisa menciptakan perubahan besar.
Tentu, tantangan tak sedikit. Ibu juga manusia yang lelah, sibuk, bahkan kadang turut terjebak dalam rutinitas digitalnya sendiri. Namun, ketika ibu memilih untuk hadir sepenuhnya bagi anak bukan sekadar secara fisik tetapi juga secara emosional di situlah kebangkitan dunia nyata anak bisa dimulai.
Anak-anak membutuhkan dunia nyata untuk tumbuh utuh: bermain tanah, tertawa bersama, bertengkar lalu berdamai, dan mencicipi getirnya pengalaman hidup. Dunia yang mengajarkan empati, keberanian, dan kasih sayang secara langsung. Dan ibu, dengan segala kelembutan dan kekuatannya, adalah tokoh utama dalam cerita besar ini.
Di era yang semakin digital ini, mari kita tidak lupa bahwa anak-anak tetap butuh dunia yang nyata. Dan dunia itu, dimulai dari pelukan ibu.
