Membangun Minat Nulis

Membangun Minat Nulis

Share :

Dr. Agus Hermanto, MHI Ketua Masjid Darul Hidayah Kemiling Bandar Lampung

Menulis merupakan kegiatan yang mengintegrasikan antara otak, hati dan tangan. Otak akan bekerja pada wilayah ide, gagasan dan pemikiran, hati akan bekerja pada wilayah kontrol diri agar apa yang dipikirkan oleh otak tidak serta merta dituangkan dalam sebuah tulisan sehingga akan berdampak buruk, seperti mencaci, menyindir, bahkan mengkritisi tanpa membangun, hati akan senantiasa menjaga sifat-sifat buruk tersebut hingga otak bekerja secara maksimal, terstruktur, logis dan ilmiah hingga dapat dituangkan oleh lentik jari dalam bentuk susunan kata menjadi sebuah kalimat dan paragraf yang mudah dibaca dan dipahami oleh orang lain. Karena tujuan menulis tidak lain adalah agar buah pikiran dapat tertuang dalam sebuah literasi hingga dibaca dan dipahami oleh seseorang dalam bentuk pengembangan ilmu pengetahuan, baik berupa nasehat, wawasan, edukasi ataupun tawaran pembaruan.

Untuk itu, sebenarnya apapun temanya yang kita tulis akan senantiasa dapat ditulis dan menjadi sebuah literasi baik opini, karya ilmiah ataupun novel. Namun demikian, tidak semudah itu seseorang dapat menuangkan buah pikirannya. Masih banyak orang yang mampu berbicara namun lemah dalam menulis, atau sebagian orang masih bertanya-tanya, darimana mulai menulis? tema apa yang layak untuk ditulis? kira-kira tulisan saya layak tidak dibaca oleh orang lain?

Mulai dari apa yang ada disekitar kita, karena menulis adalah untuk pengembangan pengetahuan agar meningkatkan kemampuan seseorang untuk menuangkan buah pikirannya dan agar bermanfaat bagi pembacanya, untuk memulai menulis carilah suatu hal yang sekiranya baik dan bermanfaat. Tema apapun akan senantiasa menjadi sebuah karya literasi asalkan kita mampu melakukan pendekatan pada tulisan tersebut, meskipun temanya “ajing” misalnya, akan tetap menarik manakala kita menulisnya dengan pendekatan hukum, maka akan menjadi sebuah judul “hukum najis mughaladhah pada jilatan anjing”. Untuk dapat dinyatakan sebuah tulisan layang atau tidak bukanlah suatu hal yang urgen bagi penulis, melainkan niat bagi seorang penulis haruslah bertujuan baik, jika tema ” anjing” dituangkan pada sebuah literasi untuk memaki seseorang maka tentunya tidak layak ditinjau dari manapun dan dengan pendekatan apapun, seperti halnya pisau sebagai alat akan berdaya maslahat manakala digunakan untuk melakukan hal yang baik sesuai fungsinya yaitu untuk mengiris, tapi jika pisau dimanfaatkan untuk melukai seseorang, maka dari sudut dan pendekatan apapun akan dianggap salah. Maka dari itu, mulailah menulis dari apa yang ada di sekitarmu, pilihlah tema yang baik dan tuangkan pikiranmu sesuatu yang berdaya maslahat maka akan layak dikonsumsi oleh pembaca. Selamat membaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *