Kiai. Khabibul Muttaqin, SHI Pengasuh PP Nashihuddin Bandar Lampung
Pondok Pesantren Nashihuddin yang terletak di Kemiling, Bandar Lampung, hadir sebagai oase pendidikan ruhani dan intelektual di tengah derasnya arus globalisasi dan modernisasi. Pesantren ini bukan sekadar tempat menimba ilmu agama, tetapi menjadi pusat pembentukan karakter, kedisiplinan, dan integritas spiritual. Sejak fajar hingga malam hari, kehidupan santri diatur dalam siklus harian yang sarat dengan nilai-nilai pendidikan dan pengasuhan. Setiap waktu diisi dengan aktivitas bermakna yang menumbuhkan jiwa dan kecerdasan.
Hari-hari para santri dimulai sebelum matahari terbit. Selepas salat Subuh, mereka langsung menyetorkan hafalan Al-Qur’an. Aktivitas ini tidak hanya menjadi sarana pelatihan hafalan, melainkan juga melatih konsistensi dan kesadaran spiritual sejak dini. Setoran pagi ini menjadi tonggak awal yang membuka hari dengan keberkahan. Setelahnya, para santri bersiap untuk mengikuti pendidikan formal di sekolah mitra pesantren, sesuai jenjang masing-masing mulai dari MI, MTs, MA, hingga SMK.
Pendidikan formal di pagi hari mencakup pelajaran umum seperti Matematika, Bahasa Indonesia, IPA, IPS, dan lainnya. Namun yang menjadikan proses ini istimewa adalah bahwa semua ilmu umum itu diajarkan dalam nuansa religius yang kuat. Para guru tidak hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai akhlak, tanggung jawab, dan kedisiplinan dalam belajar. Dengan demikian, pendidikan formal di Pondok Pesantren Nashihuddin berjalan berdampingan dengan pembentukan karakter Islami.
Setelah pelajaran formal usai menjelang siang, para santri kembali ke pondok dan mengikuti kegiatan ngaji bersama pengasuh pesantren. Salah satu kitab yang dipelajari secara rutin adalah Ta’limul Muta’allim. Kitab klasik ini mengajarkan tentang adab menuntut ilmu, menghormati guru, dan mencari keberkahan dalam proses belajar. Pengasuh pesantren membacakan isi kitab dengan metode bandungan, sementara para santri menyimak, mencatat, dan memahami maknanya secara mendalam. Dari proses ini, para santri bukan hanya mendapatkan ilmu, tetapi juga spirit keilmuan yang penuh keikhlasan dan kesungguhan.
Menjelang sore, setelah salat Asar, para santri mengikuti kegiatan sorogan dan setoran kitab-kitab nahwu dasar seperti Jurumiyah dan Ngimriti. Sorogan adalah metode klasik di mana santri membaca kitab langsung di hadapan guru secara individu. Sedangkan setoran digunakan untuk mengevaluasi hafalan dan pemahaman struktur bahasa Arab. Kegiatan ini melatih keberanian, ketelitian, dan penguasaan kaidah nahwu. Jurumiyah, sebagai kitab dasar nahwu, memperkenalkan struktur kalimat bahasa Arab secara sistematis, sedangkan Ngimriti melengkapi dengan pemahaman aplikatif. Dari sini, para santri dipersiapkan untuk bisa membaca dan memahami kitab kuning secara mandiri.
Selepas Magrib, para santri kembali mengaji Al-Qur’an. Ada yang menyetorkan hafalan, ada pula yang mengikuti kelas tahsin dan tartil. Kegiatan ini bertujuan untuk memperbaiki kualitas bacaan Al-Qur’an sesuai tajwid, memperindah lantunan, dan memperkuat hafalan. Tidak hanya itu, kegiatan ini juga mempererat hubungan spiritual santri dengan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Suasana menjelang malam menjadi waktu yang penuh ketenangan dan khidmat.
Kemudian, selepas Isya, para santri mengikuti kegiatan Madrasah Diniyah. Di sesi ini mereka mempelajari ilmu-ilmu keislaman seperti fikih, akidah, akhlak, tafsir, dan sejarah Islam. Materi yang disampaikan bersifat sistematis dan terstruktur sesuai jenjang pendidikan diniyah masing-masing. Kegiatan ini menjadi sarana penguatan pemahaman agama secara konseptual. Madrasah Diniyah adalah tonggak penting dalam pendidikan pesantren karena membentuk kerangka berpikir Islami dalam menyikapi kehidupan sehari-hari. Santri tidak hanya mengerti tentang hukum agama, tetapi juga memahami hikmah dan nilai-nilai moral di balik setiap ketentuan syariat.
Menjelang malam, para santri kembali ke kamar untuk beristirahat. Namun sebelum tidur, sebagian santri masih menyempatkan diri untuk murojaah hafalan atau membaca kitab. Kedisiplinan waktu dan kecintaan terhadap ilmu menjadi budaya yang tertanam kuat di pesantren. Pagi pun kembali menyapa. Setelah salat Subuh berjamaah, mereka kembali menyetorkan hafalan Al-Qur’an yang telah disiapkan. Siklus ini terus berulang dari hari ke hari, memperkuat kedalaman spiritual, kecintaan terhadap ilmu, dan ketekunan dalam belajar.
Pola harian yang teratur dan padat ini bukan dimaksudkan untuk membebani santri, tetapi justru menjadi sarana pembentukan karakter yang kuat. Santri dilatih untuk menghargai waktu, menjaga amanah, hidup mandiri, serta memiliki daya tahan mental dalam menghadapi tantangan. Selain aspek keilmuan, kehidupan sehari-hari di pesantren juga mengajarkan nilai-nilai sosial dan kemandirian. Para santri saling membantu, berbagi tugas kebersihan, mencuci pakaian sendiri, dan menjaga kebersihan lingkungan. Semua itu adalah bagian dari pendidikan yang tak tertulis namun sangat membekas dalam jiwa.
Kehidupan di Pondok Pesantren Nashihuddin menjadikan para santri akrab dengan semangat kebersamaan, solidaritas, dan saling tolong-menolong. Tidak ada ruang untuk individualisme yang berlebihan. Mereka belajar menjadi pribadi yang rendah hati, menghormati guru, dan menyayangi sesama. Nilai-nilai ini menjadi bekal penting yang akan mereka bawa saat kembali ke masyarakat.
Pondok Pesantren Nashihuddin juga terus berinovasi dalam mengembangkan sistem pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Meski tetap menjaga tradisi pesantren yang klasik, pesantren ini juga tidak menutup diri dari teknologi dan informasi. Beberapa kegiatan seperti penguatan literasi digital, pelatihan keterampilan, dan pengenalan teknologi dilakukan secara selektif untuk menyiapkan santri menghadapi tantangan global.
Pesantren ini menjadi contoh bahwa pendidikan Islam tidak harus terisolasi dari perkembangan dunia luar. Justru dengan fondasi ruhani yang kuat, para santri bisa menjadi agen perubahan di masyarakat. Mereka tidak hanya ahli dalam ilmu agama, tetapi juga memiliki wawasan luas dan keterampilan hidup yang adaptif. Inilah bentuk pendidikan integratif yang ditawarkan oleh Pondok Pesantren Nashihuddin.
Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat dan tantangan moral yang semakin kompleks, Pondok Pesantren Nashihuddin hadir sebagai benteng akidah, pusat ilmu, dan ladang amal. Pendidikan di pesantren ini bukan hanya mencetak cendekiawan muslim, tetapi juga pribadi-pribadi yang tangguh secara spiritual, intelektual, dan sosial. Santri Nashihuddin dipersiapkan menjadi generasi penerus yang mampu menjaga warisan keilmuan Islam dan menghadirkan solusi bagi persoalan umat.
Pesantren ini tidak hanya membentuk pribadi-pribadi berilmu, tapi juga pribadi-pribadi yang siap mengabdi. Ia membekali santrinya bukan hanya dengan kitab dan hafalan, tetapi dengan kepekaan sosial dan tanggung jawab moral. Dari santri-santri inilah akan lahir pemimpin-pemimpin masa depan yang jujur, amanah, dan cinta pada ilmu serta agama.
Pondok Pesantren Nashihuddin layak menjadi model pendidikan Islam terpadu di era modern. Dengan struktur kegiatan harian yang tertib dan bermakna, ia menanamkan kedalaman ilmu, kemuliaan akhlak, dan kekuatan mental. Di saat banyak lembaga pendidikan terjebak pada formalitas dan rutinitas kosong, pesantren ini justru menampilkan wajah pendidikan yang hidup, bermakna, dan mencerdaskan.
Semoga pesantren ini terus tumbuh, berkembang, dan menjadi cahaya peradaban Islam di Lampung dan Indonesia. Dari Nashihuddin, cahaya ilmu dan akhlak akan terus menyala, menerangi generasi, dan memperkuat pondasi bangsa yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia.
