Seputar Masjid; Loyalitas Takmir

Seputar Masjid; Loyalitas Takmir

Share :

 

Dr. Agus Hermanto, MHI Ketua Masjid Darul Hidayah Kemiling Bandar Lampung

Sebuah loyalitas harus ada pada setiap organisasi, termasuk organisasi masjid. Loyalitas adalah sebuah sikap totalitas yang diberikan seseorang dengan tanpa adanya pamrih, lalu pertanyaannya adalah. Apakah loyalitas itu harus berupa uang? Tentu tidak, pada saatnya loyalitas dapat berupa uang, namun pada kesempatan yang lain tidak harus uang, bisa pikiran dan juga tenaga. Pengurus masjid adalah sumber daya manusia, yang setiap mereka pasti memiliki kelebihan yang tidak sama, maka ikhtiar memilih hingga menentukan nama-nama pengurus harus dapat disesuaikan dengan kompetensi yang dimiliki oleh masing-masing bagian, ada yang punya ketekunan, keahlian dalam bidang agama maka seyogyanya diletakkan sebagai bidang ibadah, ada sebagian yang memiliki keahlian dalam hal komunikasi dan hobi mengumpulkan masa dan hobi dalam hal kajian atau pengajian, maka letakkan dalam bidang PHBI, ada juga yang memiliki potensi dalam bidang pembangunan maka lakukanlah sebagai bagian pembangunan, begitu juga kompetensi lainnya seperti sekretaris dan bendahara.

Loyalitas tidak harus cari perhatian, tapi loyalitas adalah stimulus untuk konsisten pada bidang yang menjadi amanatnya, dan turut mendukung program kerja yang dibuat bersama, loyalitas bukan bentuk menyenangkan pada ketua, tapi loyalitas adalah membantu dan mewujudkan hajat bersama dalam menjalankan kegiatan yang penting untuk diprioritaskan. Nabi mengajarkan agar kita menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, implementasinya adalah melaksanakan sesuatu untuk kepentingan orang banyak sesuai kompetisi yang kita miliki, punya harta, salurkan harta kita untuk kemaslahatan, punya tenaga, lakukan sesuatu yang bermanfaat untuk orang banyak, punya ide, salurkan ide tersebut untuk membangun peradaban dan meletakkan sebuah sistem dalam berorganisasi, punya waktu, luangkan waktu itu untuk kemaslahatan bersama.

Rasulullah saw bersabda, (خير الناس أنفعهم للناس) “sebaik-baiknya orang adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain” dalam membangun kesejahteraan masjid, penting bagi kita memiliki jiwa yang tulus, itupun tidak cukup, tapi dia harus punya sikap kebersamaan dalam menjalankan segala hal, bermitra, berkolaborasi dan senantiasa saling menopang dan mensupport antara satu bagian dengan bagian lainnya. Jika hal itu tidak terjadi, maka tidak akan terwujud sebuah kemajuan, melainkan yang ada adalah (أنا خير منه) aku lebih baik darinya. Kalimat ini sederhana, tapi apa jadinya jika diimplementasikan dalam sebuah organisasi terutama di lingkungan masjid. Adzan harus dia, imam harus dia, mudik harus dia, marbot harus dia dan semua hal harus seijinnya, yakinlah dia akan capek dan galau pada saatnya.

Dampak buruknya ketika kebersamaan tidak dibangun maka akan sulit membangun kenyamanan, ingin mewujudkan masjid yang bersih, tapi loyalis jamaah sangatlah rendah untuk bekerjasama, kerja bakti dan peduli. Ingin kegiatan taklim berjalan, tapi jamaah pada umumnya enggan didominasi oleh pribadinya. Sungguh merugi ketika masjid dibangun melalui egoisme mandiri tanpa memandang kemaslahatan umat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *