Opini: Menjadi Haji Mabrur Lebih dari Sekadar Gelar

Opini: Menjadi Haji Mabrur Lebih dari Sekadar Gelar

Share :

 

 

Menjadi Haji Mabrur Lebih dari Sekadar Gelar
Syeh Sarip Hadaiyatullah, SHI., MHI
(Dosen UIN Raden Intan Lampung/Pengurus GANAS ANNAR MUI Lampung)

Setiap musim haji usai, Indonesia kembali menyambut ribuan warganya yang pulang dari Tanah Suci dengan penuh suka cita. Gelar Haji dan Hajjah pun mulai melekat di depan nama mereka, disambut karangan bunga, spanduk, hingga jamuan syukuran. Namun pertanyaan mendasarnya adalah apakah ibadah yang telah ditunaikan itu cukup untuk disebut mabrur. Apakah kemabruran hanya diukur dari ritual yang sah dan tuntas ataukah ia memerlukan bukti lebih dalam kehidupan nyata.

Dalam tradisi Islam, haji yang mabrur adalah haji yang diterima oleh Allah dan menghasilkan perubahan positif dalam diri seseorang. Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa haji mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga. Namun para ulama menegaskan bahwa indikator haji mabrur bukan hanya pada kesempurnaan manasik tetapi pada dampaknya setelah pulang. Apakah ia lebih jujur, lebih adil, lebih peduli pada sesama, dan lebih menjauhkan diri dari perbuatan maksiat.

Kemabruran sejati tidak terlihat dari busana ihram atau oleh-oleh dari Mekkah, melainkan dari keteguhan moral dan keistiqamahan setelah kembali ke lingkungan sosialnya. Seorang haji mabrur sejati adalah mereka yang menjadikan pengalaman spiritualnya sebagai titik balik untuk hidup lebih bermakna, lebih bersih, dan lebih bertanggung jawab di tengah masyarakat.

Perjalanan haji memang berat. Tidak hanya fisik yang diuji tetapi juga kesabaran, keikhlasan, dan pengendalian diri. Namun sesungguhnya tantangan yang lebih besar datang setelah pulang ke Tanah Air. Di sinilah medan ujian yang sebenarnya dimulai. Saat godaan korupsi datang, saat kesombongan menggoda karena merasa lebih suci, saat hasrat duniawi kembali merayu, dan saat tanggung jawab sosial memanggil

Banyak yang berhaji namun belum tentu berubah. Ada yang pulang dengan status haji tetapi tetap memimpin dengan zalim, berdagang dengan curang, atau berinteraksi dengan keras. Gelar Haji kadang hanya menjadi ornamen identitas bukan cermin akhlak. Padahal Islam tidak pernah mengajarkan ibadah untuk disombongkan melainkan untuk menjadikan manusia lebih rendah hati dan bermanfaat bagi sesamanya.

Haji sejatinya adalah ritual spiritual yang berimplikasi sosial. Dalam haji semua jemaah mengenakan pakaian yang sama, tidur bersama di padang Arafah dan Mina, tanpa sekat kelas dan jabatan. Ini adalah pelajaran besar tentang kesetaraan dan keadilan sosial. Maka seorang haji mabrur semestinya kembali dengan semangat egaliter, menjunjung nilai-nilai kemanusiaan, dan menjauhi segala bentuk diskriminasi serta ketidakadilan.

Di tengah realitas bangsa yang masih dipenuhi ketimpangan sosial, korupsi, dan krisis moral, kehadiran para haji seharusnya menjadi agen perubahan. Mereka bukan sekadar saksi Ka’bah dan Arafah tetapi juga pembawa pesan moral untuk membangun masyarakat yang lebih jujur, adil, dan peduli.

Di era media sosial tantangan lain muncul. Ibadah haji kerap diekspos berlebihan, dari momen thawaf hingga foto di depan Ka’bah. Tidak jarang niat yang semula tulus berubah menjadi ajang pencitraan. Bukan berarti tidak boleh berbagi tetapi ketika tujuan bergeser dari ibadah menjadi popularitas maka substansi mabrur pun dipertanyakan.

Menjadi haji mabrur bukan soal seberapa sering tampil dengan baju putih atau seberapa megah syukuran sepulang haji tetapi seberapa kuat komitmen moral yang lahir setelahnya. Apakah ia lebih tulus dalam bekerja, lebih amanah dalam menjalankan tugas, dan lebih aktif dalam menyebarkan kebaikan.

Peran negara juga penting. Pemerintah melalui Kementerian Agama terus mendorong bimbingan manasik haji yang tidak hanya menekankan aspek teknis ibadah tetapi juga pembinaan pasca haji. Selain itu tokoh agama, ormas Islam, dan lingkungan sosial harus bersama-sama mengingatkan bahwa haji bukan hanya soal keberangkatan dan kepulangan tapi juga kesinambungan amal setelahnya.

Masyarakat juga perlu membangun budaya yang sehat. Tidak hanya mengagungkan gelar Haji tetapi mendukung perubahan positif dari orang yang telah menunaikannya. Memberi ruang untuk mereka berkontribusi dan menjadi teladan bukan sekadar menaruh mereka di tempat istimewa tanpa esensi.

Menjadi haji mabrur lebih dari sekadar gelar atau status sosial. Ia adalah komitmen seumur hidup untuk memperbaiki diri dan lingkungan. Ketika seseorang pulang dari haji maka ia pulang membawa misi suci untuk menjadi teladan dalam kejujuran, pengabdian, dan kebermanfaatan.

Mabrur bukan diukur dari sorban, tidak pula dari undangan makan-makan. Mabrur adalah bagaimana seseorang memperlakukan orang lain setelah ia merasakan langsung kekhusyukan di Tanah Suci. Maka mari kita doakan semoga seluruh jemaah haji Indonesia tahun ini pulang membawa mabrur yang hakiki, mabrur yang membumi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *