Dr. KH. Suryani M. Nur, S.Sos., M.M. Wakil Ketua Umum MUI Provinsi Lampung
Peringatan Hari Sumpah Pemuda setiap 28 Oktober bukan hanya sekadar mengenang peristiwa bersejarah tahun 1928. Momentum ini mengajak kita memperbarui komitmen kebangsaan dan meneguhkan keyakinan bahwa masa depan Indonesia bergantung pada generasi muda yang berilmu, berkarakter, berintegritas, dan siap mengabdi. Semangat itu terasa relevan ketika kita menyaksikan putra-putri daerah meraih prestasi di tingkat nasional. Pada 29 Oktober 2026, dalam rangkaian Junior Chamber International (JCI) Batavia X SMESCO UMKM Business Summit 2026 di The Tribrata Dharmawangsa Convention Center, Jakarta, dr. Jihan Nurlela, M.M. (Wakil Gubernur Lampung), menerima penghargaan Ten Outstanding Young Persons (TOYP) Indonesia 2026. Junior Chamber International (JCI) adalah organisasi kepemudaan internasional non-pemerintah dan nirlaba yang beranggotakan para pemuda, profesional, dan pengusaha muda berusia antara 18 hingga 40 tahun. Penghargaan ini patut diapresiasi, sekaligus menjadi bahan refleksi tentang arti prestasi dan tanggung jawab.
Bagi saya, penghargaan bukan semata-mata tentang trofi atau pengakuan. Lebih penting, prestasi dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda bahwa usia bukan penghalang untuk berkarya, jabatan bukan tujuan akhir, dan keberhasilan seharusnya menghadirkan manfaat bagi masyarakat. Karena berlangsung sehari setelah Hari Sumpah Pemuda, pencapaian ini mengingatkan kita bahwa semangat kepemudaan harus diwujudkan melalui karya, inovasi, dan pengabdian nyata.
Dari Sumpah Pemuda ke Tantangan Zaman
Pada 1928, para pemuda dari berbagai latar belakang menyatukan tekad untuk bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan, Indonesia. Mereka mengajarkan bahwa perbedaan bukan alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk membangun masa depan bersama. Kini, tantangan generasi muda berbeda. Perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan, dan persaingan global membuka peluang sekaligus menghadirkan risiko. Anak muda tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi atau pencari pekerjaan, mereka perlu menjadi pencipta inovasi, pembangun usaha, dan penggerak perubahan. Untuk itu, pendidikan, keterampilan, karakter, kreativitas, serta kemampuan beradaptasi harus berjalan beriringan.
Kita juga perlu mengakui bahwa kesempatan belum selalu terbuka secara merata. Ada anak muda yang memiliki akses pendidikan dan jaringan luas, tetapi ada pula yang menghadapi keterbatasan ekonomi maupun geografis. Semangat Sumpah Pemuda harus mendorong pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat untuk memperluas kesempatan agar setiap anak bangsa dapat tumbuh berdasarkan kompetensi, kerja keras, dan integritas.
Prestasi Harus Berujung pada Pengabdian
Dalam perspektif Islam, prestasi perlu ditempatkan dalam kerangka syukur dan amanah. Allah SWT berfirman:
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ
Artinya: “Bekerjalah! Maka, Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu.” (QS. At-Taubah : 105).
Ayat ini mengingatkan bahwa niat baik harus diwujudkan dalam kerja dan karya nyata, bukan hanya sekedar kata. Bagi pejabat publik, penghargaan idealnya memperkuat komitmen pelayanan. Ukuran keberhasilan bukan hanya pengakuan yang diterima, melainkan sejauh mana kebijakan meningkatkan kesejahteraan, memperluas lapangan kerja, memperbaiki pendidikan dan kesehatan, serta menghadirkan pelayanan yang adil. dr. Jihan Nurlela mengatakan “Success is not measured by how far we go, but by how many lives are better, because we’re there”.
Rasulullah SAW bersabda, “Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya” (HR. Bukhari dan Muslim). Kepemimpinan, dengan demikian, adalah amanah. Penghargaan semestinya menjadi penyemangat untuk bekerja lebih baik, bukan alasan untuk berhenti melakukan evaluasi.
Kiprah Jihan Nurlela dapat menjadi inspirasi tentang pentingnya pendidikan, pengalaman, dan keberanian mengambil peluang. Latar belakang pendidikan kedokteran, gelar Magister Manajemen, pengalaman sebagai anggota DPD RI, serta amanahnya sebagai Wakil Gubernur Lampung menunjukkan perjalanan pengembangan kapasitas yang patut dicermati. Generasi muda perlu meneladani semangat belajar dan kesiapan menghadapi tanggung jawab, sembari memahami bahwa setiap perjalanan memiliki tantangan dan prosesnya sendiri.
Membangun Ekosistem bagi Anak Muda Lampung
Penghargaan ini juga relevan dengan kebutuhan pembangunan Lampung. Potensi pertanian, perkebunan, perikanan, pariwisata, ekonomi kreatif, dan industri halal perlu diolah agar memberi nilai tambah serta membuka pekerjaan yang layak. UMKM dan wirausaha muda membutuhkan akses pembiayaan, pendampingan, literasi digital, kemudahan perizinan, peningkatan kualitas produk, dan akses pasar yang lebih luas.
Di sinilah pentingnya entrepreneurial ecosystem atau ekosistem kewirausahaan: kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, lembaga keuangan, dan komunitas untuk membantu anak muda membangun usaha yang produktif. Prestasi akan memiliki dampak lebih besar ketika menginspirasi program yang berkelanjutan dan membuka kesempatan bagi lebih banyak orang, bukan berhenti pada seremoni. Kita juga perlu menegaskan bahwa kemajuan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan dan kemampuan ekonomi. Generasi muda memerlukan fondasi akhlak, kepedulian sosial, dan tanggung jawab kebangsaan. Karena itu, sinergi ulama dan umara penting untuk memperkuat pendidikan karakter, literasi keagamaan yang moderat, pemberdayaan ekonomi umat, dan ruang partisipasi anak muda. MUI dapat berkontribusi sesuai tugas dan kewenangannya, dengan tetap menjunjung komunikasi, keterbukaan, dan kemaslahatan masyarakat.
Mengukur Keberhasilan dari Manfaat
Tokoh dunia, diantaranya Nelson Mandela pernah menyatakan, “Education is the most powerful weapon which you can use to change the world” yang artinya bahwa pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia. Sementara itu, pemikiran manajemen Peter F. Drucker tokoh manajemen modern mengingatkan pentingnya efektivitas dan efisiensi bahwa “Efficiency is doing things right, effectiveness is doing the right things” yang artinya efisiensi adalah melakukan sesuatu dengan cara yang benar, sedangkan efektivitas adalah melakukan hal-hal yang benar. Jadi, bukan sekadar melakukan sesuatu dengan benar, tetapi memilih dan mengerjakan hal yang tepat. Keduanya menegaskan bahwa inspirasi harus disertai tindakan dan hasil yang dapat dirasakan.
Tidak semua anak muda harus menjadi pejabat atau tokoh nasional untuk disebut berhasil. Guru yang mendidik dengan tulus, dokter yang melayani dengan tanggung jawab, petani yang meningkatkan produktivitas, pengusaha yang membuka lapangan kerja, dan pemuda yang menggerakkan kegiatan sosial sama-sama berkontribusi bagi bangsa. Yang terpenting bukan semata-mata tingginya posisi, melainkan besarnya manfaat.
Allah SWT berfirman:
إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ
Artinya: “Jika kamu berbuat baik, berarti kamu telah berbuat baik untuk dirimu sendiri.” (QS. Al-Isra’ : 7).
Sebagai Wakil Ketua Umum MUI Provinsi Lampung, saya menyampaikan selamat dan apresiasi kepada dr. Jihan Nurlela, M.M., atas penghargaan yang diraih. Semoga pencapaian tersebut menjadi dorongan untuk terus meningkatkan pengabdian dan memperluas kesempatan bagi generasi muda Lampung untuk berkembang.
Pada momentum Hari Sumpah Pemuda, mari kita teguhkan semangat dare to lead, continue to learn, and serve with integrity, berani memimpin, terus belajar, dan mengabdi dengan integritas. Masa depan Lampung dan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh individu yang berprestasi, tetapi oleh kemampuan kita membangun persatuan dan membuka ruang agar semakin banyak anak muda dapat berkarya. Prestasi adalah kebanggaan, persatuan adalah kekuatan, amanah adalah tanggung jawab, dan pengabdian adalah ukuran kemuliaan. Selamat Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2026. Mari bergerak bersama, berkarya untuk bangsa, dan membangun Lampung yang maju, berdaya saing, religius, serta berkeadilan.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
