Semangat Sumpah Pemuda Menuju Indonesia Emas dan UIN Raden Intan yang Terus Mendunia

Semangat Sumpah Pemuda Menuju Indonesia Emas dan UIN Raden Intan yang Terus Mendunia

Share :

Prof. Dr. Efa Rodiah Nur, M.H Dekan Fakultas Syari’ah UIN Raden Intan Lampung

Sejarah Indonesia pernah ditentukan oleh keberanian sekelompok anak muda yang belum memiliki negara merdeka, tetapi telah memiliki keyakinan tentang masa depan bangsanya. Pada 28 Oktober 1928, mereka menyatukan tekad melampaui batas suku, agama, bahasa daerah, dan asal-usul. Para pemuda itu tidak mewariskan kekuasaan ataupun kemewahan. Mereka meninggalkan sesuatu yang jauh lebih berharga, yakni kesadaran bahwa Indonesia hanya dapat dibangun melalui persatuan. Sembilan puluh delapan tahun kemudian, warisan tersebut kembali mengetuk kesadaran generasi muda untuk menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks.

Sumpah Pemuda lahir melalui perjalanan panjang yang mempertemukan beragam organisasi pergerakan, seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Celebes, Jong Ambon, dan Jong Islamieten Bond. Perbedaan identitas tidak menghalangi mereka untuk mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa, dan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Peristiwa bersejarah itu memperlihatkan bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak selalu berawal dari kekuatan ekonomi atau kemapanan politik, tetapi dapat tumbuh dari keberanian generasi muda membangun cita-cita bersama. Kesadaran inilah yang menjadi salah satu fondasi penting perjalanan Indonesia menuju kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 pada 28 Oktober 2026 mengusung tema “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia.” Tema tersebut menghadirkan pesan yang relevan dengan perjalanan bangsa menuju Indonesia Emas 2045. Patriotisme tidak cukup diwujudkan melalui kebanggaan terhadap simbol negara, tetapi harus tercermin dalam tanggung jawab membangun negeri. Kegigihan diperlukan untuk menghadapi persaingan dunia yang semakin terbuka, sedangkan empati menjadi pengingat bahwa kemajuan bangsa harus menghadirkan manfaat bagi seluruh masyarakat. Ketiga nilai tersebut merupakan bekal penting bagi generasi muda Indonesia dalam menyongsong satu abad kemerdekaan.

Indonesia Emas 2045 bukan sekadar impian tentang negara yang memiliki perekonomian besar, teknologi maju, dan infrastruktur modern. Cita-cita tersebut menuntut lahirnya manusia Indonesia yang berilmu, berkarakter, berintegritas, dan memiliki kepedulian sosial. Kemajuan teknologi tanpa kebijaksanaan dapat melahirkan ketimpangan baru, sedangkan kecerdasan tanpa tanggung jawab berpotensi menjauhkan manusia dari nilai kemanusiaan. Tantangan terbesar generasi muda bukan hanya memenangkan persaingan global, melainkan memastikan bahwa ilmu pengetahuan dan kemajuan peradaban tetap berpihak kepada kepentingan masyarakat.

Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar dalam menyiapkan generasi tersebut. Kampus tidak lagi cukup menjadi tempat mahasiswa memperoleh gelar akademik, tetapi harus berkembang sebagai ruang pembentukan karakter, kepemimpinan, kreativitas, dan pengabdian. UIN Raden Intan Lampung memperlihatkan ikhtiar untuk mengambil peran dalam perubahan tersebut. Perguruan tinggi Islam yang tumbuh di Bumi Ruwa Jurai ini terus mengembangkan kualitas pendidikan, penelitian, tata kelola, prestasi mahasiswa, dan jejaring internasional. Semangat Intellectuality, Spirituality, Integrity menjadi landasan penting untuk menghadirkan pendidikan tinggi yang mengintegrasikan kecerdasan intelektual, kedalaman spiritual, dan kekuatan moral.

Perjalanan UIN Raden Intan Lampung menuju panggung dunia tidak dapat dilepaskan dari kepemimpinan Rektor Prof. H. Wan Jamaluddin Z., M.Ag., Ph.D. Kepercayaan yang kembali diberikan kepadanya untuk memimpin periode 2026-2030 merupakan momentum melanjutkan transformasi institusi. Arah kepemimpinannya menekankan penguatan mutu akademik, inovasi, kolaborasi, serta perluasan pengakuan internasional. Komitmen tersebut sejalan dengan visi UIN Raden Intan Lampung untuk menjadi rujukan internasional dalam pengembangan ilmu keislaman integratif-multidisipliner yang berwawasan lingkungan pada 2035. Visi ini menghadirkan hubungan strategis antara kemajuan perguruan tinggi Islam dan cita-cita Indonesia Emas satu dekade berikutnya.

Keberhasilan sebuah universitas tentu tidak bertumpu pada satu figur kepemimpinan. Kerja kolektif menjadi kekuatan yang menentukan keberlanjutan perubahan. Rektor didukung oleh Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan Prof. Andi Thahir, Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan Prof. Safari, serta Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama Bambang Budiwiranto. Sinergi pimpinan universitas, dekan, ketua lembaga, dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa menjadi modal penting dalam memperkuat kualitas institusi. Kepemimpinan yang baik tidak hanya menghasilkan kebijakan, tetapi mampu membuka ruang bagi tumbuhnya gagasan, keberanian berinovasi, dan kesempatan berprestasi.

Perkembangan UIN Raden Intan Lampung mulai memperoleh pengakuan melalui sejumlah capaian akademik internasional. Pada pemeringkatan Times Higher Education Sustainability Impact Ratings 2026, kampus ini menempati kelompok peringkat dunia 801–1000, meningkat dari kelompok 1001–1500 pada tahun sebelumnya. UIN Raden Intan juga berada pada posisi kedua di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri dalam pemeringkatan tersebut. Capaian lain terlihat melalui Transparent Ranking OpenAlex edisi Juli 2026 yang menempatkan UIN Raden Intan pada peringkat kedua PTKIN berdasarkan indikator dampak publikasi ilmiah. Penghargaan Diktis Award 2026 turut menjadi bentuk apresiasi terhadap perkembangan institusi. Prestasi tersebut memperlihatkan kemajuan, sekaligus menghadirkan tanggung jawab agar pengakuan internasional benar-benar mencerminkan peningkatan kualitas pendidikan dan kebermanfaatan penelitian.

Penguatan sumber daya akademik menjadi bagian lain dari perkembangan tersebut. Pengukuhan 16 guru besar pada Juli 2026 menambah jumlah profesor UIN Raden Intan Lampung menjadi 58 orang. Kehadiran para guru besar dari berbagai disiplin ilmu merupakan modal intelektual untuk memperkuat tradisi penelitian, publikasi, dan pengembangan pengetahuan. Gelar profesor tentu bukan akhir pengabdian akademik. Kepakaran yang dimiliki harus mampu menjawab persoalan masyarakat, mulai dari pendidikan, ekonomi syariah, hukum keluarga, teknologi, hingga keberlanjutan lingkungan. Reputasi sebuah universitas pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh banyaknya karya ilmiah, tetapi juga oleh sejauh mana ilmu tersebut memberikan manfaat.

Semangat mendunia juga tumbuh melalui keberanian mahasiswa menembus batas geografis. Linda Nuriya Kurniawan, mahasiswa Ekonomi Syariah sekaligus Duta Kampus UIN Raden Intan Lampung 2026, memperoleh kesempatan mengikuti Mandarin Summer Camp di Da Yeh University, Taiwan, pada Juli–Agustus 2026. Pengalaman tersebut memberinya ruang untuk mempelajari bahasa, mengenal budaya, dan membangun pertemanan dengan mahasiswa dari berbagai negara. Langkah Linda memperlihatkan bahwa mahasiswa perguruan tinggi Islam memiliki kesempatan mengembangkan kemampuan global tanpa harus kehilangan identitas keislaman dan keindonesiaannya. Dunia internasional bukan ruang yang harus ditakuti, melainkan tempat untuk belajar, berkolaborasi, dan memperkenalkan kualitas generasi muda Indonesia.

Kisah inspiratif lainnya hadir dari M. Nawfal Faroukhi NPA, mahasiswa Program Studi Hukum Tata Negara Fakultas Syariah. Keberhasilannya mengikuti program International Youth Exchange ke Singapura dan Malaysia melalui skema pembiayaan penuh, sekaligus meraih posisi ketiga sebagai IYESM SDG’s Ambassador, menunjukkan kapasitas mahasiswa UIN Raden Intan dalam kompetisi internasional. Prestasi tersebut lahir melalui proses seleksi yang menuntut kemampuan komunikasi, berpikir kritis, dan pemahaman terhadap persoalan global. Pengalaman Nawfal mempertegas pentingnya mempersiapkan mahasiswa yang tidak hanya memahami teori di ruang kuliah, tetapi juga mampu menyampaikan gagasan dan mengambil peran dalam percakapan dunia.

Kegigihan generasi muda UIN Raden Intan juga terlihat melalui prestasi olahraga, seni, dan keagamaan. Pada International Open Senkaido Karate Championship Series VIII 2026 di Jakarta, UKM Karate INKAI UIN Raden Intan meraih tiga medali emas, enam perak, dan dua perunggu. Kontingen kampus turut membawa pulang tujuh medali pada Pekan Kreativitas Mahasiswa IV PTKIN se-Sumatera 2026 di Palembang. Prestasi tersebut menjadi gambaran bahwa mahasiswa mampu mengembangkan potensi dalam beragam bidang. Setiap medali menyimpan cerita tentang latihan, pengorbanan waktu, disiplin, dan keberanian menghadapi kegagalan. Semangat inilah yang memiliki hubungan erat dengan nilai kegigihan sebagaimana ditekankan dalam peringatan Sumpah Pemuda tahun ini.

Cerita perjuangan mahasiswa tidak selalu berlangsung di arena kompetisi internasional. Rizki Maulidamayri memberikan contoh kegigihan melalui keberhasilannya menyelesaikan pendidikan sambil bekerja dan meraih predikat Wisudawan Terbaik Universitas pada September 2026. Masa studi tiga tahun sembilan bulan dengan capaian akademik yang membanggakan menjadi bukti bahwa keterbatasan keadaan tidak harus memadamkan cita-cita. Kisah tersebut patut menjadi inspirasi bagi mahasiswa yang sedang berjuang menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Indonesia Emas memerlukan generasi tangguh yang mampu menjaga harapan, bahkan ketika jalan menuju keberhasilan tidak selalu mudah.

Internasionalisasi UIN Raden Intan Lampung juga memiliki makna yang lebih luas daripada mengirim mahasiswa ke luar negeri. Kehadiran mahasiswa internasional memperlihatkan perkembangan kampus sebagai ruang perjumpaan lintas bangsa. Nurma Cena, mahasiswa asal Thailand Selatan, berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana pada 2026 dan menyampaikan sambutan mewakili wisudawan internasional. Pengalamannya mempelajari bahasa Indonesia dan mengenal budaya masyarakat Lampung memperlihatkan bahwa hubungan antarbangsa dapat dibangun melalui pendidikan. Kampus yang mendunia bukan hanya kampus yang dikenal di luar negeri, tetapi juga mampu menjadi rumah pembelajaran yang terbuka bagi masyarakat dunia.

Nilai empati memperoleh makna lebih nyata ketika mahasiswa hadir di tengah masyarakat. Pada 2026, UIN Raden Intan Lampung melibatkan 4.378 mahasiswa dalam enam skema Kuliah Kerja Nyata, mencakup pengabdian transformatif, pendidikan, pesantren, dakwah humanis, dan berbagai bentuk pemberdayaan lainnya. Program KKN Transformatif diarahkan pada isu ketahanan pesisir, ekowisata perkotaan, ekonomi hijau, serta pengentasan kemiskinan. Rektor Prof. Wan Jamaluddin mengingatkan mahasiswa agar menjadikan pengabdian sebagai ruang belajar dari masyarakat, bukan datang dengan merasa paling mengetahui. Pesan tersebut menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan harus disertai kerendahan hati, kepedulian, dan kemampuan memahami kebutuhan masyarakat.

Kepekaan sosial juga terlihat melalui pengembangan inovasi yang menjawab kebutuhan nyata. Program pengabdian dosen UIN Raden Intan pada Oktober 2026, misalnya, memperkenalkan aplikasi Ruang Dengar untuk mendukung layanan konseling di Sekolah Rakyat Terintegrasi 35 Bandar Lampung. Inovasi tersebut menggambarkan pentingnya mempertemukan teknologi dan kepedulian kemanusiaan. Dunia pendidikan membutuhkan semakin banyak gagasan yang membantu masyarakat mengatasi persoalan sehari-hari. Kemajuan teknologi akan memiliki nilai lebih besar apabila mampu memperluas akses layanan, memberikan perlindungan, dan menghadirkan rasa aman bagi kelompok yang membutuhkan.

Berbagai capaian tersebut patut diapresiasi, tetapi kemajuan perguruan tinggi juga perlu dilihat secara kritis. Peringkat internasional, penghargaan institusi, dan medali kejuaraan tidak boleh membuat kampus mengabaikan mahasiswa yang membutuhkan dukungan pendidikan. Kesempatan mengembangkan kemampuan bahasa asing, memperoleh beasiswa, mengikuti kompetisi, dan mengakses pembelajaran berkualitas perlu diperluas secara berkeadilan. Pelaksanaan seleksi KIP Kuliah 2026, termasuk terbukanya akses bagi calon mahasiswa dari keluarga terdampak pemutusan hubungan kerja dan mahasiswa difabel sesuai persyaratan, merupakan bagian dari ikhtiar memperluas kesempatan pendidikan. Semangat Indonesia Emas menuntut agar prestasi dapat berjalan beriringan dengan pemerataan kesempatan.

Tradisi keilmuan Islam memberikan landasan moral yang kuat bagi perjalanan tersebut. Al-Qur’an dalam Surah Al-Hujurat ayat 13 menegaskan bahwa keberagaman manusia merupakan jalan untuk saling mengenal. Nilai ini memiliki kedekatan dengan semangat Sumpah Pemuda yang menempatkan persatuan di atas sekat identitas kedaerahan. Pendidikan Islam yang berwawasan kebangsaan perlu melahirkan generasi yang mampu berdialog dengan dunia, menghormati perbedaan, dan menjaga kemaslahatan bersama. Semangat hubbul wathan atau cinta tanah air harus hadir melalui karya nyata, sedangkan nilai khidmah menjadi pengingat bahwa ilmu memperoleh kemuliaannya ketika diabdikan untuk kepentingan manusia.

Perjalanan menuju Indonesia Emas 2045 masih menyisakan waktu sembilan belas tahun. Rentang waktu tersebut merupakan kesempatan penting bagi perguruan tinggi untuk mempersiapkan generasi yang akan memimpin Indonesia pada masa mendatang. UIN Raden Intan Lampung memiliki peluang memperkuat kontribusi melalui inovasi pendidikan, riset berdampak, pengembangan kewirausahaan, internasionalisasi, serta pengabdian kepada masyarakat. Kepemimpinan rektor dan seluruh jajaran perlu terus menghadirkan ekosistem akademik yang mendorong mahasiswa menjadi pembelajar sepanjang hayat, pemimpin yang berintegritas, serta warga dunia yang tetap memiliki akar kebangsaan.

Generasi 1928 telah memberikan pelajaran bahwa keberanian bermimpi dapat mengubah perjalanan sejarah. Generasi 2026 memiliki tanggung jawab meneruskan keberanian tersebut melalui kecerdasan, kerja keras, dan kepedulian. Semangat Sumpah Pemuda harus hidup dalam ruang kuliah, laboratorium penelitian, gelanggang prestasi, pengabdian masyarakat, dan kerja sama internasional. UIN Raden Intan Lampung yang terus mendunia dapat menjadi bagian dari ikhtiar besar tersebut. Indonesia Emas tidak akan lahir hanya dari kemegahan cita-cita, tetapi dari generasi muda yang mampu mengubah ilmu menjadi karya, prestasi menjadi pengabdian, dan kecintaan kepada tanah air menjadi kemaslahatan bagi sesama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *