Review Buku Ekoteologi Islam; Konsep, Teori dan Implementasi

Review Buku Ekoteologi Islam; Konsep, Teori dan Implementasi

Share :

Krisis lingkungan hidup dewasa ini tidak lagi dapat dipahami semata-mata sebagai persoalan teknis mengenai pencemaran, perubahan iklim, deforestasi, berkurangnya keanekaragaman hayati, atau eksploitasi sumber daya alam. Pada lapisan yang lebih dalam, krisis ekologis juga merupakan persoalan paradigma, moralitas, dan cara manusia memandang relasinya dengan alam. Dalam konteks tersebut, buku Ekoteologi Islam: Konsep, Teori, dan Implementasi karya Dr. Ahmad Zumaro, M.A. hadir sebagai upaya menempatkan agama, khususnya Islam, sebagai salah satu sumber etik dan spiritual bagi pembentukan kesadaran ekologis.

Tema tersebut memiliki relevansi yang kuat karena persoalan lingkungan menuntut perubahan bukan hanya pada kebijakan dan teknologi, melainkan juga pada orientasi nilai manusia. Sinopsis resmi buku ini menegaskan bahwa ekoteologi Islam dipahami sebagai pendekatan yang mempertemukan pemahaman keagamaan Islam dengan ilmu pengetahuan tentang lingkungan dalam rangka merespons persoalan-persoalan ekologis. Buku ini juga menempatkan prinsip keseimbangan, keharmonisan, dan tanggung jawab manusia terhadap alam sebagai fondasi etik pelestarian lingkungan.

Keistimewaan, kekuatan awal buku Dr. Ahmad Zumaro, M.A. terletak pada usahanya menggeser persoalan lingkungan dari wilayah yang semata-mata bersifat ekologis menuju persoalan teologis. Merusak lingkungan, dalam perspektif demikian, bukan sekadar tindakan yang menghasilkan kerugian ekologis, melainkan juga berkaitan dengan bagaimana manusia menjalankan amanahnya di hadapan Tuhan.

Gagasan Utama Buku

Gagasan penting yang dapat ditangkap dari buku ini adalah bahwa hubungan manusia dengan alam tidak boleh dibangun melalui paradigma dominasi tanpa batas. Alam merupakan bagian dari ciptaan Allah Ta’ala yang mempunyai keteraturan, fungsi, serta kedudukan tertentu dalam keseluruhan sistem kehidupan. Dr. Ahmad Zumaro, M.A. memaknai bahwa koteologi Islam dapat dipahami sebagai upaya membangun hubungan integratif antara tiga dimensi, yaitu integrasi antara teologi, ilmu pengetahuan dan lingkungan berkelanjutan, disinilah letak hubungan antara Tuhan, manusia dan alam atau lingkungan.

Secara komprehensif, buku ini merumuskan prinsip-prinsip penting sebagai berikut:

Tauhid menjadi fondasi teologis yang mengingatkan bahwa seluruh alam berasal dari dan berada di bawah kekuasaan Allah. Manusia kemudian memperoleh posisi sebagai khalifah, tetapi kekhalifahan tersebut bukan legitimasi untuk menguasai dan mengeksploitasi alam tanpa batas. Sebaliknya, posisi tersebut mengandung tanggung jawab untuk menjaga keberlangsungan kehidupan.

Konsep amanah dalam pemaparan buku ini memperoleh kedudukan penting. Alam bukan kepemilikan absolut manusia, tetapi titipan yang harus dikelola secara bertanggung jawab. Dari prinsip tersebut berkembang konsep keseimbangan (mizan), larangan melakukan kerusakan (fasad), larangan berlebih-lebihan (israf), serta kewajiban memakmurkan bumi. Kontribusi utama dari buku yang ditulis Dr. Ahmad Zumaro ini adalah: menghubungkan konsep-konsep normatif Islam dengan persoalan ekologis kontemporer.

Dari Antroposentrisme menuju Kesadaran Ekoteologis

Salah satu persoalan mendasar dalam krisis ekologis adalah pandangan antroposentris yang menempatkan manusia sebagai pusat kepentingan, sementara alam diperlakukan terutama sebagai objek pemenuhan kebutuhan manusia. Sedangkan ekoteologi Islam menawarkan koreksi terhadap pandangan tersebut. Manusia memang memiliki kedudukan khusus, tetapi kedudukan tersebut harus dibaca dalam kerangka tanggung jawab, bukan privilese ekologis tanpa batas. Posisi sebagai khalifah justru menuntut manusia bertanggung jawab terhadap keberlanjutan bumi yang menjadi temat tinggal dan hidup manusia.

Alur pemikiran pada buku ini membangun sebuah paradigma baru yang berintegrasi antara satu dengan lainya, yaitu; Pertama, alam selama ini menjadi objek eksploitasi, Kedua, alam sebagai ciptaan Tuhan, Ketiga, manusia sebagai pemegang Amanah, Keempat, pemenfaatan berdasarkan keadilan dan keseimbangan, kemudian Kelima, pelestarian lingkungan sebagai tanggung jawab keagamaan. Kerangka ini memperlihatkan bahwa konservasi lingkungan dalam Islam tidak sekadar aktivitas sosial, tetapi dapat memperoleh dimensi moral yang bernilai ibadah.

Kekuatan Buku

Kekuatan pertama buku ini adalah relevansi tema. Problem perubahan iklim, pencemaran, deforestasi, hilangnya keanekaragaman hayati, serta eksploitasi sumber daya alam menjadikan pembahasan hubungan agama dan lingkungan semakin dibutuhkan. Penerbit sendiri menempatkan buku ini pada kategori agama, pendidikan, dan umum, yang memperlihatkan luasnya ruang pemanfaatan buku tersebut. Kekuatan kedua adalah integrasi antara agama dan lingkungan. Penulis tidak melihat agama hanya sebagai kumpulan ritual, melainkan sebagai sumber nilai yang mempunyai konsekuensi sosial dan ekologis. Dengan pendekatan demikian, kesalehan tidak berhenti pada hubungan vertikal manusia dengan Allah, tetapi diperluas menjadi kesalehan ekologis. Kekuatan ketiga adalah orientasi implementatif. Judul buku secara eksplisit menggunakan tiga kata penting: konsep, teori, dan implementasi. Hal ini menunjukkan bahwa ekoteologi tidak diarahkan berhenti pada wilayah pemikiran. Sinopsis resmi buku juga menekankan bahwa nilai-nilai keberlanjutan perlu diterjemahkan dalam praktik kehidupan sehari-hari. Kekuatan keempat adalah kemampuannya menjadi jembatan antara ilmu keislaman dan ilmu lingkungan. Buku seperti ini relevan digunakan dalam kajian Pendidikan Agama Islam, tafsir tematik lingkungan, hadis lingkungan, etika Islam, filsafat lingkungan, pendidikan lingkungan, hingga pengembangan program green campus.

Kekuatan kelima adalah penempatan konsep khalifah dalam kerangka tanggung jawab ekologis. Sinopsis buku secara tegas menempatkan manusia sebagai khalifah yang mempunyai tugas menjaga, merawat, dan melestarikan bumi sebagai amanah.

Catatan Kritis

Meskipun tema dan arah argumentasinya sangat relevan, pengembangan ekoteologi Islam perlu terus diperkuat agar tidak berhenti pada pola normatif berupa kumpulan ayat, hadis, dan nasihat mengenai pentingnya menjaga lingkungan. Persoalan akademik yang lebih menantang adalah bagaimana prinsip-prinsip Islam tersebut dibentuk menjadi suatu kerangka teoritis yang mampu menjelaskan perilaku ekologi manusia. Seperti halnya hubungan antara pengetahuan keagamaan, kesadaran ekologis, sikap ekiologis, perilaku ekologis dan transformasi sosial perlu menjadi implikasi lebih lanjut.

Pertanyaan ilmiahnya bukan lagi sekadar apakah Islam memerintahkan manusia menjaga lingkungan, melainkan: Bagaimana keyakinan keagamaan berubah menjadi perilaku ekologis? Di sinilah teori ekoteologi dapat bertemu dengan teori pendidikan, psikologi lingkungan, sosiologi agama, serta teori perubahan perilaku. Kedua berkaitan dengan operasional konsep. Konsep seperti khalifah, amanah, mizan, rahmah, dan larangan fasad sangat kuat secara normatif. Namun dalam penelitian empiris, konsep-konsep tersebut perlu diterjemahkan menjadi indikator konkret. Seperti halnya; 1) Amanah ekologis dapat dilihat melalui tanggung jawab pengelolaan sampah. 2) Mizan dapat dioperasionalkan melalui perilaku penggunaan sumber daya secara proporsional. 3) Larangan israf dapat diterjemahkan menjadi pengurangan konsumsi air, energi, makanan, dan material secara berlebihan. 4) Khalifah dapat diterjemahkan menjadi partisipasi dalam kegiatan pemeliharaan lingkungan. Dengan operasionalisasi demikian, ekoteologi Islam dapat bergerak dari wacana normatif menuju model yang dapat diuji secara empiris.

Ketiga adalah perlunya memasukkan dimensi structural. Krisis lingkungan tidak semata-mata terjadi karena perilaku individu. Kerusakan ekologis juga berkaitan dengan kebijakan, industri, struktur ekonomi, tata kelola sumber daya alam, dan relasi kekuasaan. Karena itu, implementasi ekoteologi idealnya mencakup tiga tingkatan; 1) Individual: perilaku ramah lingkungan. 2) Institusional: sekolah, kampus, pesantren, masjid, pemerintah, dan organisasi keagamaan. 3) Struktural: kebijakan lingkungan, tata kelola sumber daya alam, keadilan ekologis, dan keberlanjutan pembangunan. Pendekatan ini akan membuat ekoteologi Islam tidak hanya menghasilkan kesalehan ekologis individual, tetapi juga mendorong transformasi sosial.

Relevansi bagi Pendidikan Agama Islam

Salah satu bidang yang sangat potensial memanfaatkan buku ini adalah Pendidikan Agama Islam. Selama ini PAI sering berfokus pada dimensi hubungan manusia dengan Allah dan hubungan antarmanusia. Buku tentang ekoteologi memberikan ruang untuk memperkuat dimensi ketiga, yaitu: hablum minallah, hablum minannas dan hablum minal-‘alam. Pembelajaran agama tidak berhenti pada kemampuan mengetahui dalil tentang lingkungan, tetapi diarahkan kepada pembentukan perilaku. Modelnya dapat dirumuskan; Pertama, Materi keislaman berbasis ekoteologi, iKedua, Internalisasi nilai tauhid, khalifah, amanah, mizan, dan Rahmah. Ketiga, Kesadaran ekologis, Keempat, Pembiasaan. Kelima, Perilaku sosial-ekologis. Dalam pendidikan tinggi, implementasinya dapat berupa pengurangan sampah plastik, efisiensi penggunaan air dan listrik, konservasi ruang hijau, kegiatan penghijauan, pengelolaan sampah, penelitian lingkungan, serta keterlibatan mahasiswa dalam kebijakan kampus berkelanjutan. Karena itu, buku ini mempunyai relevansi penting tidak hanya bagi mahasiswa Studi Islam, tetapi juga bagi mahasiswa PAI, pendidikan, ilmu lingkungan, dan berbagai disiplin yang berorientasi pada pembangunan berkelanjutan.

Kontribusi Akademik

Kontribusi penting buku Ekoteologi Islam: Konsep, Teori, dan Implementasi adalah usahanya menegaskan bahwa krisis lingkungan pada dasarnya juga merupakan krisis etika dan spiritualitas. Teknologi memang diperlukan untuk mengatasi persoalan lingkungan, tetapi teknologi tidak otomatis mengubah orientasi manusia terhadap alam. Realitanya, ekoteologi menawarkan dimensi yang berbeda, yaitu Ilmu pengetahuan menjelaskan apa yang terjadi pada lingkungan, Teknologi menyediakan instrumen untuk mengatasinya, Kebijakan mengatur tindakan manusia., Ekoteologi memberikan alasan moral dan spiritual mengapa manusia harus menjaga alam. Dari sinilah buku yang ditulis oleh Dr. Ahmad Zumaro memperoleh posisi penting. Ia menempatkan persoalan ekologis dalam horizon keberagamaan sehingga tindakan menjaga lingkungan menjadi bagian dari tanggung jawab spiritual.

Relevansi bagi Konteks Indonesia

Indonesia merupakan wilayah yang mempunyai kekayaan ekologis luar biasa sekaligus menghadapi persoalan lingkungan yang kompleks. Karena itu, pendekatan keagamaan mempunyai peluang besar dalam memperkuat gerakan lingkungan. Pesantren, sekolah Islam, perguruan tinggi keagamaan, masjid, majelis taklim, dan organisasi keagamaan merupakan jaringan sosial yang dapat memainkan peran strategis. Ekoteologi Islam dapat diterjemahkan menjadi pendidikan lingkungan berbasis agama, fikih lingkungan, masjid ramah lingkungan, pesantren hijau, madrasah hijau, kampus hijau, gerakan pengurangan sampah, konservasi air, penghijauan, penggunaan energi secara bertanggung jawab dan advokasi keadilan ekologis. Maka daripada itu, ekoteologi bukan sekadar diskursus teologis, tetapi berpotensi menjadi basis gerakan sosial.

Penilaian Akhir

Buku Ekoteologi Islam: Konsep, Teori, dan Implementasi karya Dr. Ahmad Zumaro, M.A. merupakan karya yang relevan bagi pengembangan diskursus Islam dan lingkungan. Nilai penting buku ini terletak pada kemampuannya mempertemukan ajaran Islam dengan problem ekologis kontemporer dan menunjukkan bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian integral dari tanggung jawab manusia sebagai khalifah. Buku ini juga membantu memperluas pengertian kesalehan. Kesalehan seorang Muslim tidak hanya diukur melalui ritual personal dan hubungan sosial, tetapi juga melalui cara manusia berinteraksi dengan lingkungan.

Buah dari pemikiran buku ini dapat membangun paradigma baru, yaitu kesalehan spiritual, kesalehan sosial, kesalehan ekologis kemudian melahirkan keberagamaan yang integral. Untuk pengembangan akademik berikutnya, gagasan ekoteologi dalam buku ini sangat potensial diperluas melalui penelitian empiris mengenai hubungan antara pembelajaran agama, internalisasi nilai ekoteologi, perubahan kesadaran, dan perilaku lingkungan. Buku ini dapat dibaca bukan hanya sebagai karya mengenai lingkungan dalam Islam, tetapi sebagai ajakan untuk melakukan transformasi paradigma keberagamaan: dari agama yang hanya dibicarakan pada tataran doktrin menuju agama yang hadir dalam tindakan konkret menjaga keberlangsungan kehidupan.

Penutup

Buku yang sangat bagus ini mengandung pesan fundamental yang dapat ditarik adalah bahwa bumi bukan sekadar tempat manusia hidup, tetapi merupakan bagian dari amanah Tuhan yang harus dipertanggungjawabkan. Maka daripada itu, dengan tauhid harus melahirkan kesadaran dan dengan kesadaran harus membentuk tanggung jawab, kemudian dengan anggung jawab harus melahirkan sebuah tindakan,  sehingga tindakan ekologis harus menjadi bagian dari kesalehan.

 

Karya Dr. Ahmad Zumaro, M.A.

Identitas Buku

Judul                          : Ekoteologi Islam; Konsep, Teori dan Implementasi

Penulis                       : Dr. Ahmad Zumaro, M.A.

Penerbit                     : CV. Literasi Nusantara Abadi, Malang

ISBN                           : 978-623-127-533-2

E-ISBN                       : 978-623-127-534-9

Bidang Kajian           : Islam, Ekoteologi, Pendidikan, dan Lingkungan Hidup

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *