Green Islam; Merawat Bumi Sebagai Ibadah

Green Islam; Merawat Bumi Sebagai Ibadah

Share :

 

Dr. Agus Hermanto, MHI

Di tengah-tengah terjadinya krisis iklim, banjir, kekeringan, dan tumpukan sampah yang semakin tidak terkendalikan. Umat Islam kembali menoleh pada satu konsep yang sebelumnya sudah lama tertanam pada tradisi Islam: Green Islam bukan sekedar slogan, melainkan adalah cara pandang  yang menempatkan kepedulian pada lingkungan sebagai bagian dari iman dan ibadah. 

Secara sederhana, green Islam dapat dipahami sebagai gerakan keberagamaan yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan kesadaran ekologis. 

Dasar pijakan ini sangat jelas dalam al-Quran dan hadis. Al-Qur’an menyebut manusia sebagai khalifah fil ardh, pengelola bumi, bukan pemiliknya. “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya,” (QS. Al-A’raf: 56). Rasulullah saw, pun bersabda, “Jika terjadi kiamat, sementara di tangan salah seorang dari kalian ada bibit kurma, maka jika ia mampu sebelum kiamat menanamnya, hendaklah ia menanamnya.” Hadis ini menunjukkan betapa menanam, merawat hidup, bahkan di detik terakhir sekalipun, adalah amal yang bernilai.

Dalam tradisi kajian fikih, ulama klasik sudah mengenal konsep hima atau kawasan konservasi, harim atau zona penyangga sumber air, dan larangan israf atau berlebih-lebihan, termasuk dalam menggunakan air wudu sekalipun. Berijak dari sini dapat dipahami bahwa, kesadaran hijau bukanlah barang impor dari Barat, dan bukanlah hal baru sama sekali, melainkan ia adalah sudah menjadi bagian dari etika Islam. 

Pertanyaan yang muncul adalah mengapa Green Islam relevan hari ini? Karena persoalan lingkungan kini bukan lagi masalah teknis, tetapi krisis moral dan spiritual, sebuah krisis eksternal yang menjadi dampak dari pola hidup manusia yang salah. Kerusakan hutan, eksploitasi tambang yang berlebihan, pembakaran sampah terbuka, dan konsumsi yang tidak terkendali berakar pada cara pandang manusia yang melihat alam sebagai objek untuk dikuras. Green Islam mengajak membalik cara pandang itu: alam adalah ayat, tanda kebesaran Allah yang harus dibaca dan dijaga. Merusak alam berarti mengabaikan ayat Allah, dan hal ini merupakan kedzaliman yang sangat berimplikasi pada ekosistem. 

Di Indonesia, praktik Green Islam mulai tumbuh dan ditankan di lembaga pendidikan. Di pesantren-pesantren, muncul konsep Eco-Pesantren. Santri diajak mengelola sampah, membuat kompos, menanam pohon, menghemat air, hingga menggunakan energi surya. Masjid-masjid juga mulai menjadi pelopor masjid ramah lingkungan: mengelola wudu recycle untuk taman, mengurangi sampah plastik saat kegiatan, dan membuat bank sampah. Di tingkat kampus, UIN Raden Intan Lampung misalnya, mulai mendorong riset tentang fiqih lingkungan, khutbah Jumat bertema ekologi, dan pemberdayaan berbasis sampah di komunitas.

Green Islam juga menawarkan tiga prinsip utama. Pertama, tauhid. Sebuah kesadaran bahwa semua makhluk terhubung karena berasal dari Tuhan yang satu. Merusak satu bagian alam akan merusak keseimbangan yang lain. Kedua, Mizan atau Keseimbangan. Al-Qur’an menyebutkan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dengan ukuran dan keseimbangan. Tugas khalifah adalah menjaga keseimbangan itu, bukan merusaknya. Ketiga, Amanah dan Tanggung Jawab. Bumi adalah titipan untuk generasi mendatang. Kita akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kita lakukan terhadap titipan itu, menjaga dan merawat serta memeliharanya adalah bentuk ibadah nyata kepada Tuhan. 

Implementasinya pun sederhana dan bisa dimulai dari hal kecil. Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai saat pengajian, membawa tumbler ke kampus, tidak membuang makanan, menanam satu pohon di pekarangan, memilah sampah organik dan anorganik di rumah, dan menggunakan air secara bijak. Jika itu dilakukan secara kolektif oleh komunitas masjid, majelis taklim, dan pesantren, dampaknya akan luar biasa.

Green Islam bukan gerakan anti pembangunan. Ia justru mendorong pembangunan yang beradab. Pembangunan yang tidak hanya mengejar keuntungan sesaat, tetapi memikirkan keberlangsungan hidup anak cucu. Ia mengingatkan bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman, bukan hanya kebersihan diri, tetapi juga kebersihan sungai, udara, dan tanah tempat kita hidup.

Konsep Green Islam mengajak kita untuk berislam secara utuh: menyembah Allah dengan menjaga ciptaan-Nya. Merawat bumi adalah ibadah. Menanam pohon adalah sedekah. Mengelola sampah adalah jihad kecil di zaman krisis iklim. Jika umat Islam bergerak dengan kesadaran ini, maka masjid, pesantren, dan kampus bukan hanya pusat ritual, tetapi menjadi pusat penyelamatan bumi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *