Etika Agama dan Semangat Toleransi

Etika Agama dan Semangat Toleransi

Share :

Prof. Dr. H. Idrus Ruslan, M.Ag Dosen Pascasarjana UIN Raden Intan Lampung

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, agama sering dipandang sebagai sumber nilai moral yang membimbing manusia menuju kebaikan. Namun, di tengah keragaman keyakinan, etika agama tidak boleh berhenti pada batas komunitas sendiri. Ia harus berkembang menjadi semangat toleransi yang merangkul perbedaan, sebab tanpa toleransi, nilai luhur agama akan kehilangan makna sosialnya.

Di tengah kehidupan masyarakat yang semakin terbuka, keberagaman bukan lagi sesuatu yang harus dihindari. Perbedaan agama, keyakinan, suku, budaya, pilihan sosial, hingga cara pandang menjadi bagian dari realitas kehidupan itu sendiri. Kemajuan teknologi digital bahkan membuat perjumpaan dengan berbagai macam perbedaan berlangsung jauh lebih cepat. Dalam satu ruang digital, seseorang dapat berinteraksi dengan orang yang memiliki latar belakang yang sama sekali berbeda dengannya.

Keadaan tersebut semestinya menjadi kesempatan untuk memperluas wawasan dan membangun kehidupan relasi sosial bersama yang lebih dewasa. Namun, pada saat yang sama, keberagaman juga dapat menjadi sumber ketegangan apabila tidak disertai dengan etika. Perbedaan yang seharusnya menjadi kekayaan sosial justru dapat berubah menjadi alasan untuk saling mencurigai, merendahkan, membenci bahkan memerangi.

Di sinilah etika agama memiliki peran penting. Agama bukan hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga memberikan pedoman mengenai bagaimana manusia memperlakukan sesamanya. Nilai kejujuran, kasih sayang, keadilan, penghormatan terhadap martabat manusia, dan kepedulian terhadap orang lain merupakan suatu yang dapat menjadi fondasi kehidupan bersama.

Toleransi pada dasarnya bukanlah tuntutan agar seseorang menghilangkan keyakinannya, melainkan mengajarkan bagaimana seseorang dapat tetap teguh pada keyakinannya namun tetap menghormati hak orang lain untuk memiliki keyakinan yang berbeda. Dengan demikian, toleransi bukan tanda kelemahan iman, melainkan bentuk kedewasaan dalam beragama.

Agama dan Etika Kehidupan Bersama

Pada sebagaian kalangan, agama sering kali dipahami sebatas dalam konteks ibadah ritual. Padahal, kehidupan beragama memiliki dimensi sosial dan spektrum yang sangat luas. Cara seseorang berbicara, memperlakukan jiran tetangga, menyikapi perbedaan, menggunakan media sosial, dan merespons persoalan sosial juga merupakan bagian dari ekspresi keberagamaan.

Dalam perspektif Islam, misalnya, manusia diajarkan untuk menjaga hubungan baik dengan sesama. Al-Qur’an menegaskan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Perbedaan bukan alasan untuk saling merendahkan, tetapi kesempatan untuk membangun pengenalan dan kolaborasi.

Prinsip tersebut memiliki relevansi yang kuat dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang beragam. Karena itu, keberagamaan yang sehat tidak seharusnya melahirkan sikap merasa paling berhak menentukan kehidupan orang lain. Keyakinan pribadi seseorang perlu berjalan bersama kesadaran bahwa kita hidup di tengah masyarakat yang plural.

Karena itu, etika agama menuntut adanya keseimbangan antara kesalehan individual dan kesalehan sosial. Seseorang tidak cukup hanya rajin beribadah apabila dalam kehidupan sosial ia mudah menghina, memfitnah, menyebarkan kebencian, berkata kasar, merendahkan atau merampas hak orang lain. Kesalehan seharusnya tercermin dalam perilaku yang menghadirkan kebaikan bagi lingkungan sekitar.

Toleransi Bukan Relativisme

Alwi Shihab dalam bukunya yang berjudul Islam Inklusif, memberikan wawasan bahwa salah satu kesalahpahaman mengenai toleransi adalah anggapan bahwa toleransi berarti mencampuradukkan seluruh keyakinan (sinkretisme). Selain itu, toleransi seringkali menganggap semua agama adalah sama (relativisme).  Padahal, toleransi tidak mengharuskan seseorang meninggalkan prinsip agamanya.

Toleransi berarti mengakui keberadaan orang lain dan menghormati haknya sebagai manusia. Seseorang dapat berbeda dalam hal keyakinan, tetapi tetap dapat bekerja sama dalam persoalan kemanusiaan, begitu juga masyarakat dapat berbeda dalam menjalankan ibadah, tetapi tetap dapat saling menghormati, serta dapat memiliki pandangan yang berbeda mengenai suatu persoalan, tetapi tetap berdialog tanpa menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk bermusuhan.

Karena itu, toleransi membutuhkan batas yang jelas. Menghormati keyakinan orang lain bukan berarti harus menyetujui semua keyakinan tersebut. Sebaliknya, tidak menyetujui suatu pandangan juga tidak berarti kita berhak merendahkan orang yang menganutnya.  Jika meminjam istilah yang diintroduksi oleh Mukti Ali (Mantan Menteri Agama RI) yakni dalam relasi antar umat beragama harus memiliki prinsip agree in disagreement (setuju dalam ketidak setujuan).

Sikap semacam ini penting karena kehidupan demokratis tidak mungkin berjalan tanpa kemampuan untuk hidup bersama dalam perbedaan. Demokrasi bukan hanya tentang kebebasan berbicara, tetapi juga tentang kemampuan mendengar. Bukan pula tentang menyampaikan pendapat, tetapi juga bagaimana menghormati hak orang lain untuk berbeda pendapat.

Tantangan Toleransi di Era Digital

Semangat toleransi menghadapi tantangan baru di era digital. Media sosial memberikan ruang yang sangat luas bagi masyarakat untuk menyampaikan pendapat. Di satu sisi, hal ini merupakan perkembangan positif karena semakin banyak orang memiliki kesempatan untuk berbicara. Namun, di sisi lain, kebebasan tersebut sering kali tidak disertai tanggung jawab, baik dalam bentuk provokasi, fitnah, adu domba, juga berita tidak faktual (hoax).

Informasi mengenai agama dapat menyebar dalam hitungan detik. Potongan video, kutipan, gambar, dan pernyataan keagamaan dapat beredar tanpa konteks yang memadai. Tidak jarang sebuah pernyataan yang sebenarnya memiliki konteks tertentu dipahami secara berbeda setelah tersebar di media sosial.

Masalah menjadi lebih rumit ketika algoritma media sosial cenderung mempertemukan seseorang dengan konten yang sesuai dengan pandangan sebelumnya. Akibatnya, seseorang dapat hidup dalam ruang informasi yang membuatnya merasa bahwa pandangannya adalah satu-satunya pandangan yang benar, sehingga perbedaan kemudian dipandang sebagai ancaman.

Dalam kondisi seperti itu, etika digital menjadi bagian penting dari etika agama. Sebelum membagikan sebuah informasi keagamaan, seseorang perlu memastikan kebenarannya. Begitu pula sebelum menuduh kelompok lain, seseorang perlu memeriksa konteksnya. Termasuk sebelum menulis komentar yang menghina, seseorang perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap orang lain.  Oleh karena itu penting bagi masyarakat untuk memiliki pemahaman menjadikan media sosial sebagai ruang edukasi, bukan provokasi

Mengubah Perbedaan Menjadi Kekuatan

Toleransi tidak akan tumbuh hanya melalui slogan, tetapi yang dibutuhkan adalah kebiasaan dan keteladanan. Keluarga, sekolah, lembaga keagamaan, masyarakat, dan pemerintah memiliki tanggung jawab bersama dalam membangun budaya toleransi.

Keluarga merupakan tempat pertama seseorang belajar mengenai perbedaan. Seorang anak perlu diajarkan bahwa memiliki keyakinan yang kuat bukan berarti harus membenci orang yang berbeda. Pendidikan agama juga perlu menekankan dimensi etika dan kemanusiaan, bukan sekadar hafalan mengenai suatu tema pelajaran.

Lembaga pendidikan dapat menjadi ruang perjumpaan yang mempertemukan peserta didik dari berbagai latar belakang. Di sana mereka belajar bahwa perbedaan bukan sekadar konsep dalam buku, melainkan realitas atau fakta yang harus dihadapi dengan sikap dewasa.

Lembaga keagamaan juga memiliki peran strategis. Para tokoh agama mempunyai pengaruh besar dalam membentuk cara pandang umat. Pesan keagamaan yang disampaikan dalam mimbar ibadah dengan bahasa yang sejuk dan inklusif dapat menjadi kekuatan besar untuk merawat persatuan. Sebaliknya, penggunaan simbol dan bahasa agama untuk menyebarkan kebencian dapat memperdalam jurang sosial.

Karena itu, otoritas keagamaan perlu memberikan teladan bahwa keteguhan iman dapat berjalan bersama penghormatan terhadap manusia. Dakwah dan pendidikan agama seharusnya tidak berhenti pada persoalan benar dan salah dalam konteks teologis, tetapi juga mengajarkan bagaimana menyampaikan keyakinan dengan cara yang bermartabat.

Toleransi sebagai Jalan Kemanusiaan

Toleransi bukan sekadar persoalan hubungan antaragama, melainkan persoalan kemanusiaan. Setiap manusia memiliki martabat yang harus dihormati. Ketika seseorang menghormati orang lain, sesungguhnya dia sedang membangun ruang kehidupan yang memungkinkan semua orang hidup secara aman dan bermartabat.

Toleransi juga tidak berarti membiarkan ketidakadilan, justru toleransi harus berjalan bersama keadilan. Ketika ada kelompok yang mengalami diskriminasi atau kekerasan karena identitasnya, masyarakat tidak boleh diam. Etika agama menuntut keberanian untuk membela atas nama kebenaran dan kemanusiaan.

Dalam konteks Indonesia, semangat toleransi merupakan kebutuhan yang tidak dapat ditawar. Keberagaman adalah kenyataan yang melekat dalam kehidupan bangsa. Masyarakat tidak perlu menjadi sama untuk dapat hidup bersama, yang dibutuhkan adalah kesediaan untuk menghormati perbedaan dan mencari titik temu dalam persoalan yang menyangkut kepentingan bersama.

Masyarakat dapat berbeda dalam cara prakatik pengamalan ibadah, tetapi sama-sama bersepakat menolak kekerasan. Meskipun berbeda dalam keyakinan, namun sama-sama memperjuangkan keadilan. Walaupun berbeda dalam pandangan, tetapi sama-sama menjaga persaudaraan. Titik temu semacam inilah yang harus terus diperkuat.

Etika agama pada akhirnya diuji bukan ketika kita berada di tengah orang-orang yang memiliki keyakinan yang sama, melainkan ketika kita berhadapan dengan mereka yang berbeda. Di situlah terlihat apakah agama benar-benar menjadi sumber kedamaian atau justru dijadikan alasan untuk mempertajam permusuhan.

Masyarakat yang dewasa secara keagamaan bukan masyarakat yang bebas dari perbedaan, melainkan masyarakat yang mampu mengelola perbedaan dengan bijaksana. Semangat toleransi bukan berarti kehilangan identitas, tetapi menemukan cara untuk mempertahankan identitas tanpa merendahkan identitas orang lain.

Agama seharusnya menjadi sumber cahaya moral yang menerangi kehidupan bersama. Toleransi menjadi salah satu bentuk nyata dari cahaya tersebut. Ketika etika agama dan semangat toleransi berjalan beriringan, perbedaan tidak lagi menjadi sumber ketakutan, melainkan menjadi kekayaan yang memperkuat kehidupan bangsa.

Pada akhirnya, menjaga toleransi adalah menjaga masa depan. Sebab bangsa yang mampu menghormati perbedaan adalah bangsa yang memiliki kesempatan lebih besar untuk hidup damai, adil, dan bermartabat. Dan tugas itu bukan hanya milik pemerintah atau tokoh agama, melainkan tanggung jawab seluruh elemen warga negara; dimulai dari cara berbicara, bersikap, dan memperlakukan sesama manusia.

Etika agama dan semangat toleransi adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Agama tanpa toleransi akan melahirkan eksklusivisme, sementara toleransi tanpa etika agama bisa kehilangan arah moral. Indonesia membutuhkan keduanya yakni etika yang menuntun hati nurani, dan toleransi yang menjaga persatuan.  Dengan menjadikan agama sebagai sumber etika, serta menumbuhkan toleransi sebagai praktik sosial, maka akan terbangun masyarakat yang damai, adil, dan beradab; sesuai cita-cita luhur para pendiri bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *