Kiai. Khabibul Muttaqin, SHI Pengasuh PP Nashihuddin Bandar Lampung
Pesantren selalu memiliki cara yang khas dalam mendidik manusia. Ia tidak hanya mengajarkan bagaimana seseorang membaca kitab, memahami hukum, atau menghafal dalil, tetapi juga bagaimana menundukkan ego, menghormati guru, menjaga lisan, hidup sederhana, dan belajar melayani. Dari ruang-ruang sederhana itulah lahir pribadi-pribadi yang tidak hanya mengenal ilmu, tetapi juga memahami adab. Karena itu, berbicara tentang santri sesungguhnya bukan hanya berbicara tentang mereka yang tinggal di pesantren, melainkan tentang manusia yang sedang ditempa agar ilmu dan akhlak tumbuh bersama.
Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, tugas santri tentu tidak semakin ringan. Dunia hari ini dipenuhi teknologi, informasi, persaingan, dan berbagai kemudahan yang tidak pernah dibayangkan generasi sebelumnya. Manusia dapat mengetahui peristiwa di belahan dunia lain hanya dalam hitungan detik. Namun kemajuan itu juga membawa pertanyaan yang jauh lebih mendasar: apakah manusia yang hidup di zaman semakin maju juga menjadi semakin beradab?
Pertanyaan tersebut penting karena kemajuan tidak selalu berjalan seiring dengan kemuliaan akhlak. Ilmu dapat berkembang, tetapi kesombongan juga dapat tumbuh. Teknologi dapat memudahkan komunikasi, tetapi fitnah dapat menyebar lebih cepat. Pendidikan dapat melahirkan banyak orang pintar, tetapi kecerdasan tanpa integritas dapat berubah menjadi alat untuk mencari keuntungan pribadi. Pada titik inilah pesantren memiliki pesan yang tetap relevan: ilmu harus berjalan bersama adab.
Bagi santri, keteladanan tertinggi dalam membangun akhlak tentu adalah Rasulullah SAW. Al-Qur’an menegaskan, “Wa innaka la‘alā khuluqin ‘azhīm,” sesungguhnya engkau benar-benar berada di atas budi pekerti yang agung (QS al-Qalam: 4). Ayat ini menunjukkan bahwa kebesaran Nabi Muhammad SAW tidak hanya terletak pada keluasan ajaran yang beliau bawa, tetapi juga pada kemuliaan pribadi yang menjadi teladan bagi manusia.
Rasulullah tidak membangun masyarakat hanya melalui pidato dan aturan. Beliau membangunnya dengan kepercayaan. Jauh sebelum menerima wahyu, masyarakat Makkah mengenalnya sebagai al-Amīn, orang yang dapat dipercaya. Gelar itu tidak lahir dari jabatan, melainkan dari kebiasaan sehari-hari: berkata jujur, menepati janji, tidak berkhianat, dan menjaga hak orang lain. Dari sinilah kita belajar bahwa peradaban besar selalu dimulai dari karakter manusia yang dapat dipercaya.
Bagi santri, keteladanan Nabi itu diterjemahkan dalam tradisi adab. Ada adab kepada Allah, adab kepada Rasulullah, adab kepada guru, adab kepada ilmu, adab kepada orang tua, dan adab kepada sesama manusia. Bahkan kepada kitab yang dipelajari pun santri dibiasakan memperlakukannya dengan hormat. Barangkali dari luar terlihat sederhana, tetapi kebiasaan-kebiasaan kecil itulah yang membentuk kesadaran bahwa ilmu bukan benda mati. Ilmu adalah amanah.
Karena itu, pesantren sejak lama menolak memisahkan kecerdasan dari kerendahan hati. Santri yang semakin banyak belajar justru seharusnya semakin sadar bahwa ilmu manusia sangat terbatas. Ia tidak mudah merendahkan orang lain hanya karena berbeda pandangan. Ia tidak tergesa-gesa menghakimi hanya karena membaca satu potongan informasi. Ia belajar bahwa keluasan ilmu semestinya membuat seseorang semakin berhati-hati dalam berbicara.
Pelajaran semacam ini terasa sangat penting di zaman media sosial. Hari ini setiap orang dapat menjadi penyampai informasi. Satu kalimat dapat dibaca ribuan orang. Satu unggahan dapat mempengaruhi pandangan banyak manusia. Sayangnya, tidak setiap kebebasan berbicara disertai kedewasaan untuk mempertanggungjawabkannya. Orang mudah menyampaikan sesuatu sebelum memeriksa kebenarannya, mudah menuduh sebelum memahami persoalan, dan mudah merendahkan orang lain hanya karena berbeda pilihan.
Santri seharusnya hadir dengan watak yang berbeda. Tradisi tabayyun harus dibawa ke ruang digital. Kebiasaan mengaji dengan teliti harus menjadi dasar ketika membaca informasi. Adab kepada guru harus melahirkan penghormatan kepada ilmu dan para ahli. Kesabaran membaca kitab semestinya membentuk kesabaran memahami persoalan sebelum memberikan komentar. Dunia digital memerlukan santri yang tidak sekadar mampu menggunakan teknologi, tetapi juga mampu menghadirkan akhlak di dalamnya.
Meneladani Nabi berarti memahami bahwa lisan memiliki tanggung jawab, dan pada zaman sekarang tanggung jawab itu juga berlaku pada jari yang menulis di layar. Kata-kata dapat menjadi jalan kebaikan, tetapi dapat pula menjadi sumber luka. Santri yang membawa akhlak Nabi tidak akan merasa bangga ketika berhasil mempermalukan orang lain. Ia tidak menjadikan perdebatan sebagai panggung untuk menunjukkan kehebatan dirinya. Ia lebih memilih menyampaikan kebenaran dengan hikmah daripada memenangkan pertengkaran dengan kemarahan.
Akhlak Nabi juga mengajarkan keberpihakan kepada mereka yang lemah. Rasulullah SAW hadir di tengah masyarakat yang diwarnai ketimpangan, perbudakan, kesombongan suku, dan ketidakadilan. Islam kemudian mengajarkan bahwa kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh kekayaan, keturunan, ataupun kedudukan sosial. Setiap manusia memiliki martabat yang harus dihormati.
Dalam konteks inilah kesantrian seharusnya tidak berhenti di ruang pengajian. Ilmu harus menemukan jalannya menuju kehidupan masyarakat. Santri harus hadir ketika masyarakat memerlukan pendampingan, ketika orang miskin membutuhkan perhatian, ketika pendidikan memerlukan pengabdian, ketika lingkungan membutuhkan perlindungan, dan ketika persaudaraan sedang terancam oleh kebencian. Khidmah adalah salah satu wajah paling nyata dari ilmu yang diamalkan.
Tradisi pesantren sesungguhnya sangat kaya dengan nilai khidmah. Santri belajar bahwa melayani bukan tanda rendahnya kedudukan, tetapi bagian dari pendidikan jiwa. Menyiapkan kebutuhan guru, membantu teman, membersihkan lingkungan, atau melayani masyarakat merupakan latihan untuk menekan ego. Seseorang tidak akan mudah merasa paling penting apabila sejak muda dibiasakan memahami bahwa hidup bukan hanya tentang dirinya sendiri.
Nilai inilah yang kelak sangat dibutuhkan dalam kehidupan publik. Kita membutuhkan pemimpin yang memandang kekuasaan sebagai amanah, bukan hak istimewa. Kita membutuhkan orang berilmu yang menggunakan pengetahuannya untuk kemaslahatan, bukan sekadar mencari penghormatan. Kita membutuhkan orang kaya yang memahami bahwa sebagian hartanya memiliki fungsi sosial. Kita membutuhkan generasi muda yang tidak hanya bertanya, “Apa yang bisa saya dapatkan?”, tetapi juga, “Apa yang dapat saya berikan?”
Masa depan peradaban sangat bergantung pada manusia-manusia semacam itu. Peradaban tidak hanya dibangun dengan jalan raya, gedung, kampus, teknologi, dan kekuatan ekonomi. Semua itu memang penting. Namun tanpa manusia yang berakhlak, kemajuan dapat kehilangan arah. Teknologi tanpa moral dapat menjadi alat manipulasi. Ekonomi tanpa keadilan dapat memperlebar kesenjangan. Politik tanpa amanah dapat berubah menjadi perebutan kepentingan. Ilmu tanpa adab dapat melahirkan kesombongan.
Pesantren mengingatkan bahwa kemajuan sejati harus tetap berpijak pada kemanusiaan. Ilmu pengetahuan harus membuat kehidupan lebih baik. Kekuasaan harus melindungi. Kekayaan harus memberi manfaat. Agama harus menghadirkan rahmat. Pendidikan harus membentuk manusia yang tidak hanya cerdas dalam berpikir, tetapi juga lembut dalam bersikap.
Di sinilah santri memiliki tanggung jawab sejarah. Santri tidak cukup hanya menjadi penjaga tradisi, tetapi juga harus mampu membawa nilai-nilai pesantren memasuki ruang-ruang baru. Ada santri yang kelak menjadi kiai, guru, dosen, pengusaha, pejabat, peneliti, dokter, petani, jurnalis, maupun pekerja di berbagai bidang. Profesi boleh berbeda, tetapi nilai yang dibawa semestinya tetap sama: kejujuran, amanah, kesederhanaan, penghormatan kepada ilmu, dan keberpihakan kepada kemaslahatan.
Menjadi santri, karena itu, bukan sekadar identitas sosial. Ia adalah cara memandang kehidupan. Santri belajar bahwa keberhasilan bukan hanya tentang seberapa tinggi posisi yang dicapai, tetapi seberapa banyak manfaat yang dapat diberikan. Kehormatan bukan hanya tentang seberapa banyak orang yang mengenal kita, tetapi seberapa banyak orang yang merasa aman dan terbantu oleh kehadiran kita.
Akhlak Nabi memberi arah bagi cara pandang tersebut. Rasulullah SAW menunjukkan bahwa kekuatan tidak harus melahirkan kesombongan. Ketika memiliki kesempatan membalas, beliau dapat memilih memaafkan. Ketika berada pada puncak kekuasaan, beliau tetap hidup sederhana. Ketika berhadapan dengan orang kecil, beliau tidak menjaga jarak dengan kesombongan. Semakin tinggi kedudukan beliau, semakin besar pula rahmat yang dirasakan manusia di sekitarnya.
Bayangkan jika nilai itu tumbuh kuat pada generasi santri hari ini. Seorang santri yang menjadi pemimpin akan memahami amanah. Seorang santri yang menjadi pengusaha akan mengerti kejujuran. Seorang santri yang menjadi ilmuwan akan menjaga kerendahan hati. Seorang santri yang masuk dunia politik akan memahami bahwa kekuasaan adalah jalan pengabdian. Seorang santri yang aktif di media sosial akan menjaga kata-katanya. Dari sinilah akhlak Nabi dapat menjadi energi untuk membangun peradaban.
Tantangan terbesar santri hari ini mungkin bukan lagi sekadar memperoleh ilmu. Akses pengetahuan semakin terbuka. Kitab dapat dibaca dalam berbagai format, ceramah dapat didengarkan dari mana saja, dan informasi dapat ditemukan dalam waktu singkat. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana menjaga kedalaman di tengah budaya serba cepat, menjaga adab di tengah kebebasan, menjaga kerendahan hati di tengah keinginan untuk terlihat, serta menjaga keikhlasan di tengah dunia yang gemar menghitung popularitas.
Pesantren memiliki bekal untuk menghadapi tantangan itu: ngaji, sanad, adab, khidmah, dan keteladanan. Ngaji mengajarkan ketekunan. Sanad mengajarkan bahwa ilmu memiliki sejarah dan tanggung jawab. Adab menjaga ilmu agar tidak berubah menjadi kesombongan. Khidmah mengajarkan bahwa pengetahuan harus memberi manfaat. Keteladanan membuat nilai-nilai tersebut tidak berhenti menjadi teori.
Masa depan peradaban pada akhirnya bukan semata-mata persoalan teknologi apa yang akan kita miliki atau seberapa maju ekonomi yang berhasil kita bangun. Pertanyaan yang lebih penting adalah manusia seperti apa yang akan mengelola semua kemajuan itu. Jika manusianya jujur, berilmu, amanah, adil, dan penuh kasih sayang, kemajuan dapat menjadi jalan kemaslahatan. Jika manusianya kehilangan akhlak, kemajuan justru dapat memperbesar kerusakan.
Karena itu, pesantren dan santri tidak boleh merasa berada di pinggir sejarah. Justru dari lingkungan yang sederhana itu telah lama tumbuh nilai yang sangat dibutuhkan dunia: manusia yang menghormati ilmu, mencintai guru, menjaga tradisi, hidup bersama masyarakat, serta menjadikan pengabdian sebagai bagian dari keberagamaan.
Meneladani Nabi bukan berarti membawa kita kembali ke masa lalu. Meneladani Nabi justru memberi kita kompas untuk berjalan menuju masa depan. Zaman boleh berubah, tetapi kejujuran tidak pernah kehilangan makna. Teknologi boleh semakin canggih, tetapi amanah tetap diperlukan. Dunia boleh semakin terbuka, tetapi adab tetap menjadi penyangga kehidupan bersama.
Maka tugas santri bukan hanya membaca warisan ulama, tetapi meneruskan ruhnya. Bukan hanya menjaga kitab, tetapi menghidupkan nilai yang terkandung di dalamnya. Bukan hanya mencintai Nabi melalui shalawat, tetapi juga menghadirkan akhlaknya dalam cara berbicara, bekerja, memimpin, berbeda pendapat, dan memperlakukan sesama.
Jika masa depan peradaban ingin dibangun di atas kemanusiaan, keadilan, ilmu, dan kasih sayang, santri memiliki alasan kuat untuk ikut berada di barisan terdepan. Bukan karena merasa paling baik, tetapi karena pesantren telah mengajarkan satu pelajaran yang sangat mendasar: ilmu akan menjadi cahaya ketika dijaga dengan adab, dan hidup akan menjadi berarti ketika diabdikan untuk kemaslahatan.
Dari santri yang menjaga adab, lahir kepercayaan.
Dari ilmu yang diamalkan, lahir kemaslahatan.
Dari akhlak Nabi yang dihidupkan, kita menaruh harapan pada masa depan peradaban.
