Dr. Agus Hermanto, M.H.I., Founder Lamban Inspirasi: Perang Tak Lagi Berisik, Serangan Siber Bisa Melumpuhkan Hanya dengan Satu Klik

Dr. Agus Hermanto, M.H.I., Founder Lamban Inspirasi: Perang Tak Lagi Berisik, Serangan Siber Bisa Melumpuhkan Hanya dengan Satu Klik

Share :

Bandar Lampung – MUI Lampung Digital

Perang tidak selalu datang dengan dentuman senjata. Di era digital, sebuah serangan dapat bergerak tanpa suara, bekerja melalui data dan algoritma, lalu menghantam sektor penting hanya dalam hitungan detik.

Gambaran itulah yang disampaikan Founder Lamban Inspirasi, Dr. Agus Hermanto, M.H.I., saat membuka Diskusi Publik Lamban Inspirasi Seri 6 bertajuk “Keamanan Siber dan Politik Hukum dalam Pemerintahan Kontemporer”, Jumat (21/8/2026) malam.

Menurut Dr. Agus Hermanto, M.H.I.,, perubahan teknologi telah menggeser wajah konflik. Jika dahulu kekuatan sebuah negara banyak diukur dari kemampuan militernya, kini ruang digital menjadi medan baru yang tidak kalah menentukan.

“Kalau dulu perang menggunakan senjata, sekarang serangan atau peperangan bisa berlangsung melalui mode dan data algoritma,” ujar Agus dalam pembukaan diskusi.

Ia menekankan, persoalan tersebut tidak berhenti pada kecanggihan teknologi. Di balik serangan digital terdapat persoalan yang jauh lebih besar, yakni bagaimana negara membangun pertahanan, menjaga data, melindungi masyarakat, sekaligus memastikan penggunaan teknologi tetap berada dalam koridor hukum.

Satu tindakan di ruang digital, kata Dr. Agus Hermanto, M.H.I.,, dapat menimbulkan dampak yang jauh lebih luas daripada yang terlihat. Sebuah klik dapat menjadi pintu masuk bagi serangan terhadap sistem yang menopang kehidupan publik.

“Dengan satu klik, satu sektor bisa saja dilumpuhkan,” katanya.

Pernyataan itu menjadi pengingat bahwa keamanan siber bukan lagi urusan teknis yang hanya menjadi tanggung jawab ahli teknologi informasi. Ketika sistem pemerintahan, layanan publik, ekonomi, hingga komunikasi masyarakat semakin bergantung pada teknologi digital, keamanan siber telah menjadi bagian dari kepentingan nasional.

Karena itu, Agus mengajak agar pembicaraan mengenai keamanan siber tidak dipisahkan dari politik hukum. Negara membutuhkan aturan yang mampu mengikuti perkembangan teknologi, tetapi pada saat yang sama tidak boleh menjadikan keamanan sebagai alasan untuk mengabaikan hak masyarakat.

Menurut dia, Indonesia perlu terus memperkuat kesadaran dan kapasitas dalam menghadapi perubahan tersebut. Bukan hanya dengan membangun sistem keamanan digital, tetapi juga dengan menyiapkan sumber daya manusia yang memahami teknologi, hukum, politik, dan konsekuensi sosialnya secara bersamaan.

Di titik itulah Lamban Inspirasi, menurut Agus, ingin mengambil peran. Diskusi publik tidak sekadar menjadi ruang berbicara, melainkan tempat mempertemukan gagasan, pengalaman, dan pengetahuan dari berbagai latar belakang.

Ia berharap forum tersebut dapat menjadi ruang untuk “menghidupkan api ilmiah”, sehingga pertukaran gagasan tidak berhenti pada satu pertemuan. Pengetahuan yang dibagikan diharapkan dapat membuka perspektif baru dan memberi manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

“Semoga kita bisa menghidupkan api ilmiah dan saling berbagi ilmu, sehingga terbuka ruang pengetahuan yang bermanfaat,” ujar Agus.

Diskusi Lamban Inspirasi Seri 6 menghadirkan sejumlah pembicara dari kalangan akademisi dan praktisi. Di antaranya Prof. Dr. Fitri Yanti, M.A., Dr. Luqman Santoso, M.H., Muhammad Anul Syamsi, M.H., serta Gesit Yudha, M.IP. Adapun diskusi dimoderatori oleh Dani Amran Hakim, M.H.

Bagi Dr. Agus Hermanto, M.H.I.,, pembahasan mengenai keamanan siber dan politik hukum menjadi semakin penting karena pemerintah dan masyarakat kini hidup dalam ekosistem digital yang terus berkembang. Ancaman tidak selalu terlihat, tetapi dampaknya dapat dirasakan secara nyata.

Karena itu, membangun keamanan siber bukan semata-mata soal membuat sistem yang sulit ditembus. Yang tidak kalah penting adalah membangun kesadaran bahwa setiap data, setiap sistem, dan setiap aktivitas digital memiliki konsekuensi hukum dan kepentingan publik yang harus dijaga.

Di tengah perubahan tersebut, ruang-ruang diskusi ilmiah menjadi penting. Sebab, menghadapi ancaman digital tidak cukup hanya dengan teknologi. Indonesia juga membutuhkan cara berpikir yang kritis, regulasi yang adaptif, serta kolaborasi antara akademisi, pemerintah, praktisi dan masyarakat.

Dari ruang diskusi itulah, Lamban Inspirasi berupaya menyalakan percakapan yang lebih panjang: bagaimana Indonesia menjaga keamanan di ruang siber sekaligus memastikan hukum tetap menjadi pijakan dalam menghadapi politik dan pemerintahan di era digital. (Rita Zaharah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *