Prof. Dr. H. Abdul Syukur, M.Ag Guru Besar UIN Raden Intan Lampung dan Ketua Majelis Ulama Indonesia Provinsi Lampung
Di tengah kehidupan yang semakin kompleks, tidak sedikit orang mempertanyakan keadilan Allah ketika menyaksikan orang baik tertimpa musibah, sementara pelaku kezaliman justru tampak hidup berkecukupan. Pertanyaan semacam ini telah hadir sejak dahulu dan merupakan bagian dari pergulatan batin manusia dalam memahami takdir. Padahal, keterbatasan manusia dalam melihat sebuah peristiwa sering kali membuatnya tergesa-gesa menyimpulkan bahwa keadilan belum ditegakkan.
Dalam khazanah hikmah Islam, terdapat sebuah kisah yang dinisbatkan kepada Nabi Musa ‘alaihissalam. Terlepas dari statusnya yang bukan merupakan hadis sahih dan lebih dikenal sebagai kisah ibrah, cerita tersebut mengandung pelajaran moral yang mendalam tentang cara manusia memandang keadilan Allah.
Dikisahkan, Nabi Musa memohon kepada Allah Swt. agar diperlihatkan bagaimana Dia menegakkan keadilan kepada hamba-hamba-Nya. Allah kemudian memerintahkan beliau untuk mengamati berbagai peristiwa yang terjadi di sebuah mata air tanpa ikut campur. Apa yang disaksikan Nabi Musa sekilas tampak tidak adil: seorang penunggang kuda kehilangan kantong uang, seorang anak menemukan dan membawanya, lalu seorang kakek buta yang sedang beribadah justru menjadi korban amarah hingga kehilangan nyawanya.
Apabila peristiwa itu hanya dipandang dari sisi lahiriah, tentu akan muncul pertanyaan besar: mengapa orang yang tampaknya tidak bersalah justru menjadi korban? Namun dalam lanjutan kisah tersebut dijelaskan bahwa setiap tokoh memiliki jejak kehidupan yang tidak diketahui oleh manusia. Anak yang mengambil kantong uang ternyata sedang memperoleh hak ayahnya yang selama bertahun-tahun bekerja tanpa menerima upah. Sementara kakek yang terbunuh ternyata pernah melakukan pembunuhan pada masa mudanya terhadap ayah penunggang kuda. Dengan demikian, rangkaian peristiwa itu menjadi gambaran bahwa Allah mengetahui seluruh sebab dan akibat yang tidak dapat dijangkau oleh pandangan manusia.
Kisah hikmah tersebut mengajarkan satu pelajaran penting: keadilan Allah tidak selalu dapat dipahami melalui logika yang serba terbatas. Manusia hanya menyaksikan apa yang terjadi hari ini, sedangkan Allah mengetahui perjalanan hidup seseorang sejak awal hingga akhir. Apa yang tampak sebagai ketidakadilan menurut manusia belum tentu demikian di sisi Allah.
Al-Qur’an berulang kali menegaskan bahwa Allah adalah Zat Yang Maha Adil. Firman-Nya:
“Sesungguhnya Allah tidak menzalimi seseorang walaupun sebesar zarrah.”
(QS. An-Nisa’: 40).
Ayat ini menjadi penegasan bahwa tidak ada satu pun amal manusia yang luput dari perhitungan Allah. Kebaikan sekecil apa pun akan memperoleh balasan, demikian pula kezaliman sekecil apa pun tidak akan dibiarkan tanpa pertanggungjawaban.
Namun, keyakinan terhadap keadilan Allah tidak boleh menjadikan seseorang pasif terhadap berbagai bentuk ketidakadilan di dunia. Islam justru memerintahkan umatnya untuk menegakkan keadilan sebagai bagian dari ketakwaan. Allah Swt. berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan karena Allah…”
(QS. Al-Ma’idah: 8).
Ayat tersebut menunjukkan bahwa keadilan bukan hanya sifat Allah, melainkan juga akhlak yang harus diwujudkan oleh setiap mukmin dalam kehidupan sehari-hari. Berlaku adil kepada keluarga, tetangga, pekerja, sesama warga, bahkan kepada orang yang berbeda pandangan merupakan bagian dari pengamalan ajaran Islam.
Dalam kehidupan sosial, kezaliman sering kali tidak dimulai dari tindakan besar. Menahan hak pekerja, mengingkari amanah, menyebarkan fitnah, mengambil hak orang lain, atau menggunakan jabatan untuk kepentingan pribadi merupakan bentuk-bentuk kezaliman yang kerap dianggap sepele. Padahal, Rasulullah Saw. mengingatkan bahwa kezaliman akan menjadi kegelapan pada hari kiamat. Oleh karena itu, menjaga hak sesama manusia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kesalehan seorang muslim.
Pada saat yang sama, kisah hikmah Nabi Musa mengingatkan agar manusia tidak mudah menghakimi takdir Allah. Tidak semua peristiwa dapat dipahami secara utuh oleh akal manusia. Ada ruang-ruang hikmah yang hanya diketahui oleh Allah Yang Maha Mengetahui. Sikap terbaik seorang mukmin adalah berikhtiar menegakkan keadilan, menjauhi kezaliman, dan menyerahkan keputusan akhir kepada Allah Swt. dengan penuh tawakal.
Di tengah berbagai persoalan sosial yang masih diwarnai ketimpangan, korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, dan lunturnya empati, nilai keadilan menjadi semakin relevan untuk dihidupkan kembali. Keadilan bukan sekadar prinsip hukum, melainkan juga fondasi akhlak, perekat kehidupan bermasyarakat, dan jalan menuju kemaslahatan bersama.
Akhirnya, doa Nabi Musa mengajarkan bahwa setiap muslim hendaknya terus memohon kepada Allah agar diberi hati yang jernih dalam memandang kehidupan, diberi kekuatan untuk berlaku adil, serta dijauhkan dari segala bentuk kezaliman. Sebab pada hari ketika seluruh manusia kembali kepada-Nya, yang menjadi ukuran bukanlah kekuasaan, harta, ataupun kedudukan, melainkan amal saleh dan keadilan yang pernah ditegakkan selama hidup di dunia.
Wallāhu a’lam bi al-shawāb.
