Prof. Dr. H. A. Kumedi Ja’far, S.Ag., M.H. Dekan FEBI UIN Raden Intan Lampung/Ketua Komisi Ukhuwah Islamiyah MUI Provinsi Lampung
Tahun Baru Hijriah yang dirayakan setiap tanggal 1 Muharam tentunya merupakan momen penting bagi kita untuk bermuhasabah, melakukan refleksi diri dan instropeksi diri terhadap amal perbuatan yang telah kita lakukan pada masa yang lalu, sekaligus merupakan momen penting untuk melakukan perbaikan diri di masa depan. Ini tentunya kita harus mampu meningkatkan kualitas hidup dalam berbagai hal, baik yang berhubungan dengan dunia maupun yang berkaitan dengan akhirat. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Hadis Rasulullah SAW “Man Kana Yaumuhu Khoiran Min Amsihi Fahuwa Robihun, Waman Kana Yaumuhu Mitsla Amsihi Fahuwa Maghbunun, Waman Kana Yaumuhu Syarran Min Amsihi Fahuwa Mal’unun” (Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari hari yang kemarin, maka ia tergolong orang yang beruntung, dan barangsiapa yang hari ini sama dengan hari yang kemarin, maka ia tergolong orang yang merugi, dan barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari hari yang kemarin, maka ia tergolong orang yang celaka).
Berdasarkan hadis ini jelas bahwa hanya orang-orang yang beruntung lah yang apabila amal perbuatannya hari ini atau tahun ini lebih baik dari hari atau tahun yang kemarin. Ini artinya bahwa setiap ucapan, sikap, perilaku dan perbuatan, termasuk ibadah kita tahun ini harus lebih baik dari pada tahun yang lalu, sehingga tahun ini kita harus berusaha secara maksimal untuk melakukan sesuatu yang terbaik, baik untuk keluarga, agama, lembaga maupun untuk masyarakat, bangsa dan Negara. Hal ini sebagaimana Hadis Rasulullah SAW “Khoirunnas Man Thola Umruhu Wahasuna Amaluhu” (Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amal perbuatannya).
Selanjutnya dalam rangka mengenang masa lalu dan menyongsong Tahun Baru 1448 Hijriah, maka ada 2 (dua) hal penting yang harus kita perhatikan bersama. Pertama, mengingat selalu akan dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan pada masa yang lalu, karena dengan mengingat-ingat dosa dan kesalahan yang pernah kita lakukan pada masa yang lalu tentu akan menjadi motivasi bagi kita untuk melakukan perbaikan diri di tahun ini. Kedua, melupakan kebaikan-kebaikan yang pernah kita lakukan pada masa yang lalu, karena dengan melupakan kebaikan-kebaikan yang pernah kita lakukan pada masa yang lalu tentu akan menjadikan kita selalu rendah hati dan tidak sombong.
Sebaliknya bagi seseorang yang suka melupakan dosa dan kesalahan masa yang lalu, serta suka mengingat-ingat kebaikan yang pernah dilakukan pada masa yang lalu, maka akan menyebabkan sesorang menjadi celaka. Hal ini sejalan dengan Hadis Rasulullah SAW “Alamatus Syaqawati Arba’atun: Nisyanudzunubil Madhiah Wahiya ngindhallahi Mahfudhah, Wadhikrul Hasanatil Madhiah Wala Yadri Aqubilat Amruddad, Wannadhoru Ila Man Fauqohu Fiddun ya, Wannadhoru Ila Man Dunahu Fiddin”. Hadis ini menjelaskan bahwa tanda-tanda kecelakaan itu ada empat perkara: Pertama, melupakan dosa-dosa yang pernah dilakukan pada masa yang lalu, padahal dosa-dosa itu masih tetap tersimpan di sisi Allah SWT. Kedua, mengingat-ingat kebaikan yang pernah dilakukan pada masa yang lalu, padahal belum tentu kebaikan yang pernah dilakukan itu dapat diterima oleh Allah SWT, boleh jadi akan ditolak oleh Allah SWT. Ketiga, memandang seseorang yang lebih tinggi dalam urusan dunia, padahal dunia hanyalah permainan belaka yang sifatnya sementara. Keempat, memandang seseorang yang lebih rendah dalam urusan agama, padahal agama merupakan bekal akhirat yang paling utama.
Berdasarkan hadis ini jelas bahwa dalam rangka mengenang dan menyambut Tahun Baru Hijriah kita dilarang melupakan dosa atau kesalahan yang pernah kita lakukan pada masa yang lalu dan mengingat-ingat kebaikan yang pernah kita lakukan pada masa yang lalu.
Dengan demikian jelas bahwa hakikat tahun baru adalah bagaimana kita mampu melakukan suatu perubahan yang lebih baik. Sehingga setiap ucapan, sikap, perilaku dan perbuatan, termasuk ibadah kita tahun ini tentu harus lebih baik dari tahun yang lalu. Wallahua’lam Bishawab.
