Prof. Dr. KH. Abdul Syukur, M.Ag
Guru Besar UIN Raden Intan Lampung dan Ketua Majelis Ulama Indonesia Provinsi Lampung
Sejak berniat menunaikan ibadah haji, dalam perjalanan menuju Tanah Suci, ketika melaksanakan seluruh rangkaian manasik, hingga kembali ke tanah air, setiap jamaah haji senantiasa memanjatkan harapan kepada Allah SWT agar memperoleh predikat haji mabrur, yaitu haji yang diterima oleh Allah SWT.
Haji mabrur adalah ibadah haji yang dilaksanakan dengan niat yang ikhlas, sesuai tuntunan syariat, serta membuahkan perubahan positif dalam kehidupan spiritual maupun sosial pelakunya. Orang yang memperoleh haji mabrur akan semakin istiqamah dalam beribadah dan berbuat kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.
Balasan tertinggi bagi orang yang hajinya mabrur adalah surga.
Lalu, apakah yang dimaksud dengan haji mabrur? Bagaimana ciri-cirinya, dalil-dalilnya, pendapat para ulama, serta kisah teladan orang-orang yang memperoleh kemabruran haji? Berikut uraiannya.
1. Definisi Haji Mabrur
Secara bahasa, kata mabrur merupakan bentuk isim maf’ul dari kata al-birr yang berarti kebaikan atau kebajikan. Dengan demikian, haji mabrur berarti haji yang dihiasi dengan akhlak mulia dan dibalas dengan berbagai kebaikan.
Adapun secara istilah, para ulama mendefinisikan haji mabrur sebagai ibadah haji yang sah, dilaksanakan sesuai syarat dan rukunnya, serta tidak dicampuri dengan perbuatan dosa, kemaksiatan, perkataan keji, dan perbuatan mungkar.
2. Ciri-ciri Haji Mabrur
Dari pengertian tersebut, dapat dikenali tanda-tanda atau ciri-ciri haji mabrur.
Menurut para ulama, tanda utama diterimanya ibadah haji adalah adanya perubahan perilaku menjadi lebih baik dan semakin istiqamah dalam beribadah setelah kembali dari Tanah Suci.
Rasulullah ﷺ juga menjelaskan beberapa karakteristik utama haji mabrur, yaitu:
1. Santun dalam bertutur kata (thayyibul kalam).
2. Menebarkan kedamaian dan keselamatan (ifsya’us salam).
3. Memiliki kepedulian sosial yang tinggi, seperti memberi makan kepada orang yang membutuhkan (ith’amut tha’am).
4. Tidak lagi mengulangi perbuatan dosa dan kemaksiatan yang pernah dilakukan sebelum berhaji.
Dengan demikian, kemabruran haji tidak hanya terlihat ketika berada di Makkah dan Madinah, tetapi terutama tercermin dalam kehidupan setelah pulang ke tanah air.
3. Dalil tentang Haji Mabrur
Al-Qur’an menjelaskan pentingnya menyempurnakan ibadah haji dan menjadikan takwa sebagai bekal utama.
Allah SWT berfirman:
«”Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah.”
(QS. Al-Baqarah: 196)»
Allah SWT juga berfirman:
«”Dan berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.”
(QS. Al-Baqarah: 197)»
Sedangkan dalam hadis sahih, Rasulullah ﷺ bersabda:
«”Dan haji mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.”
(HR. Bukhari dan Muslim)»
Dalam hadis yang lain disebutkan:
«”Haji mabrur menghapus dosa-dosa yang telah lalu.”
(HR. Ahmad)»
Hadis-hadis tersebut menunjukkan betapa agung keutamaan yang diberikan Allah SWT kepada orang yang memperoleh haji mabrur.
4. Pendapat Para Ulama tentang Haji Mabrur
Imam An-Nawawi
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa haji mabrur adalah haji yang tidak dicampuri oleh dosa dan kemaksiatan.
Ibnu Rajab Al-Hanbali
Ibnu Rajab Al-Hanbali menyatakan bahwa tanda diterimanya suatu amal adalah adanya amal kebaikan berikutnya. Karena itu, tanda haji mabrur adalah semakin banyaknya amal saleh setelah berhaji. Beliau juga menekankan pentingnya menggunakan harta yang halal agar memperoleh haji yang mabrur.
Imam Al-Ghazali
Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali membagi tingkatan haji menjadi tiga:
1. Muqarrabin, yaitu orang-orang yang sangat dekat dengan Allah SWT.
2. Ashhabul Yamin, yaitu golongan kanan yang memperoleh keselamatan.
3. Haji Mardud, yaitu haji yang tertolak karena dilakukan dengan riya atau menggunakan harta yang haram.
Karena itu, haji mabrur merupakan tingkatan yang tinggi, di mana hati pelakunya bersih dan tidak dikuasai oleh kerakusan dunia, melainkan semakin dekat kepada Allah SWT.
5. Kisah Teladan tentang Kemabruran Haji
Di antara kisah yang sering disebut dalam literatur klasik Islam adalah kisah seorang ahli ibadah dari Damaskus bernama Ali Al-Muwaffaq.
Beliau telah menabung selama bertahun-tahun sebanyak 300 dirham untuk biaya berhaji. Namun, suatu ketika ia melihat tetangganya terpaksa memasak daging bangkai karena kelaparan dan tidak mampu membeli makanan yang halal.
Hati Ali Al-Muwaffaq tersentuh. Ia kemudian menyerahkan seluruh tabungan hajinya kepada tetangganya tersebut.
Beliau berkata:
«”Haji tahun ini aku batalkan, dan aku ganti dengan menyelamatkan nyawa tetanggaku.”»
Dalam sebuah kisah yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mubarak, disebutkan bahwa para malaikat menyampaikan bahwa Allah menerima ibadah haji seluruh jamaah yang berada di Arafah berkat keberkahan amal dan keikhlasan Ali Al-Muwaffaq.
Kisah ini menunjukkan bahwa kemabruran haji tidak hanya diukur dari seringnya seseorang pergi ke Tanah Suci, melainkan dari ketakwaan, keikhlasan, dan kepedulian sosial yang dimilikinya.
Kewajiban haji bagi orang yang mampu pada dasarnya hanya sekali seumur hidup. Karena itu, semangat berbagi dan membantu sesama, terutama mereka yang sedang kesulitan, merupakan bagian dari nilai luhur yang diajarkan Islam.
Menjaga kehidupan manusia (hifzhun nafs) termasuk salah satu tujuan utama syariat Islam (maqashid syariah), sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Wahbah Az-Zuhaili.
Penutup
Sebelum mengakhiri uraian ini, marilah kita berdoa semoga Allah SWT memudahkan jalan kita untuk menjadi tamu-tamu Allah (dhuyufullah) dan tamu-tamu Yang Maha Pengasih (dhuyufur Rahman) pada tahun-tahun mendatang.
Kita juga mendoakan semoga seluruh jamaah haji senantiasa diberi kesehatan, kemudahan dalam perjalanan pulang ke tanah air, dapat berkumpul kembali dengan keluarga, tetangga, dan jamaah masjid, serta memperoleh predikat haji yang mabrur.
Doa Haji Mabrur
اللهم اجعلهم حجاً مبروراً، وسعياً مشكوراً، وذنباً مغفوراً، وعملاً صالحاً مقبولاً، وتجارةً لن تبور
Allahummaj’alhum hajjan mabruran, wa sa’yan masykuran, wa dzanban maghfuran, wa ‘amalan shalihan maqbulan, wa tijaratan lan tabur.
Artinya:
“Ya Allah, jadikanlah ibadah haji kami sebagai haji yang mabrur, sa’i yang disyukuri, dosa-dosa yang diampuni, amal saleh yang diterima, serta usaha yang tidak akan merugi.”
Amin ya Rabbal ‘alamin.
