Dr, Agus Hermanto, MH Sekretaris Prodi Aqidah dan Filsafat Islam Pascasarjana UIN Raden Intan Lampung
Ikan sapu-sapu atau Hypostomus plecostomus awalnya datang sebagai ikan hias. Tubuhnya keras, mulutnya menempel di kaca akuarium, rajin memakan lumut. Terlihat lucu dan berguna. Namun ketika dilepas ke sungai, danau, atau waduk, ia berubah menjadi masalah ekologis serius. Fenomena ini memberi pelajaran penting tentang bagaimana merawat ekologi berkelanjutan.
Banyak pemilik akuarium melepas ikan sapu-sapu ke alam karena ukurannya membesar atau bosan merawat. Niatnya mungkin baik: daripada mati di akuarium sempit. Sayangnya, alam liar bukan tempat sampah makhluk hidup. Di perairan Indonesia, ikan sapu-sapu tidak punya predator alami yang efektif. Ia berkembang biak cepat, tahan di air kotor, dan mampu hidup di lumpur saat musim kemarau. Dalam waktu singkat, populasinya meledak.
Ikan sapu-sapu memakan telur dan larva ikan lokal. Ia juga mengeruk dasar sungai untuk membuat sarang, sehingga tebing sungai longsor dan kekeruhan meningkat. Akibatnya, ikan asli seperti wader, betok, dan nila liar kalah bersaing. Rantai makanan terganggu. Nelayan kecil mengeluh hasil tangkapan menurun. Di Danau Tempe, Citarum, dan beberapa waduk, ikan sapu-sapu sudah mendominasi. Ironisnya, dagingnya kurang diminati karena keras dan berduri. Secara ekonomi pun tidak menguntungkan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa krisis ekologi sering lahir dari keputusan kecil tanpa berpikir panjang. Melepas satu ekor ikan ke sungai tampak sepele. Namun ketika ribuan orang berpikir sama, dampaknya sistemik. Ini cermin dari cara kita memperlakukan alam sebagai tempat buang. Kita lupa bahwa ekosistem bekerja dengan keseimbangan yang rapuh. Satu spesies asing invasif bisa meruntuhkan jejaring yang terbentuk ratusan tahun.
Merawat alam tidak cukup dengan menanam pohon setahun sekali. Ia butuh etika, ilmu, dan kebijakan. Pertama, edukasi publik tentang spesies invasif harus digencarkan. Masyarakat perlu tahu bahwa melepas hewan peliharaan ke alam adalah tindakan merusak. Kedua, kontrol perdagangan. Penjual ikan hias wajib memberi peringatan dan pemerintah perlu mengatur spesies yang boleh masuk. Ketiga, pemanfaatan. Beberapa daerah mengolah ikan sapu-sapu jadi pakan ternak, kerupuk, atau tepung ikan. Ini bisa menekan populasi sekaligus memberi nilai ekonomi. Keempat, restorasi habitat. Sungai yang sehat dengan predator alami dan vegetasi riparian mampu menahan dominasi spesies asing.
Dalam filsafat agama, manusia adalah khalifah yang diberi amanah menjaga bumi. Prinsip la tufsidu fil ardh berarti jangan membuat kerusakan di muka bumi. Merawat sungai adalah bagian dari ibadah. Kearifan lokal seperti bebarengan njaga kali di Jawa atau lubuk larangan di Sumatera menunjukkan bahwa leluhur kita paham konsep suaka. Kita tinggal menghidupkannya kembali dengan ilmu modern.
Ikan sapu-sapu mengajari kita bahwa niat baik tanpa pengetahuan bisa jadi bencana. Ekologi berkelanjutan lahir dari kesadaran bahwa setiap tindakan punya konsekuensi. Menjaga alam berarti menjaga diri kita sendiri. Sebab ketika ikan lokal punah, sungai keruh, dan tanggul jebol, manusia pula yang menanggung akibatnya. Pilihan ada di tangan kita: terus membuang masalah ke alam, atau mulai merawatnya dengan nalar, rasa, dan tanggung jawab.
