Kiai. Khabibul Muttaqin, SHI
Pengasuh Ponpes Nashihuddin Bandar Lampung
Kemerdekaan Indonesia bukanlah peristiwa yang selesai pada 17 Agustus 1945. Ia adalah proses panjang yang terus diuji oleh zaman, kepentingan, dan perubahan global. Dalam perjalanan itulah Nahdlatul Ulama atau NU hadir bukan sekadar sebagai organisasi keagamaan, tetapi sebagai penjaga nilai, penuntun moral, dan pengawal arah bangsa. Tema “Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Mulia” menegaskan bahwa kemerdekaan bukan hanya soal kedaulatan politik, melainkan juga kematangan peradaban.
Sejak awal berdirinya, NU tidak memposisikan diri di luar sejarah bangsa. Resolusi Jihad 1945 menjadi bukti bahwa kemerdekaan adalah bagian dari kewajiban keagamaan dan tanggung jawab kebangsaan. Namun yang sering luput disadari, ikhtiar NU tidak berhenti pada medan perang dan diplomasi. Setelah merdeka diraih, tantangan berubah dari mengusir penjajah menjadi mengelola kemerdekaan. Di titik inilah NU menjalankan peran yang lebih sunyi namun menentukan, yaitu merawat akal sehat publik, etika sosial, dan keberagamaan yang beradab.
Mengawal kemerdekaan berarti menjaga agar Indonesia tidak kehilangan arah di tengah derasnya arus ideologi global. NU memilih jalan tengah berupa tawassuth, tasamuh, dan tawazun. Prinsip-prinsip ini bukan sekadar jargon, melainkan metode hidup berbangsa. Ketika ekstremisme mengeras di satu sisi dan liberalisme tanpa akar meluas di sisi lain, NU berdiri sebagai penyangga. Tujuannya bukan untuk memadamkan perbedaan, tetapi memastikan perbedaan tidak berubah menjadi perpecahan.
Ikhtiar NU menuju peradaban mulia juga tampak dalam cara memandang hubungan agama dan negara. NU tidak mempertentangkan keduanya. Negara dipahami sebagai wadah bersama yang harus dijaga, sementara agama menjadi sumber nilai yang memuliakan kehidupan. Dalam perspektif ini, Pancasila tidak hanya dipandang sebagai kompromi politik, tetapi sebagai titik temu luhur antara iman, kebudayaan, dan kebangsaan. Inilah fondasi peradaban yang dijaga dengan kesadaran, bukan paksaan.
Peradaban mulia tidak lahir dari kemajuan material semata. Ia tumbuh dari etika, ilmu pengetahuan, dan keadilan sosial. Di sinilah kontribusi NU melalui pesantren, majelis taklim, dan jaringan sosialnya menjadi sangat signifikan. Pesantren bukan hanya lembaga pendidikan, tetapi juga ruang pembentukan peradaban tempat ilmu, adab, dan spiritualitas dirawat secara bersamaan. Santri diajarkan bahwa menjadi manusia utuh lebih penting daripada sekadar menjadi pintar.
Di tengah tantangan zaman digital, disrupsi informasi, dan polarisasi sosial, NU kembali diuji perannya. Hoaks, ujaran kebencian, dan politik identitas mudah menyulut emosi publik. NU hadir dengan pendekatan yang menenangkan dan mencerahkan. Dakwah NU tidak bertumpu pada kemarahan, tetapi pada kebijaksanaan. Inilah ikhtiar peradaban yang sering tidak viral, tetapi justru menopang ketahanan sosial bangsa.
Mengawal Indonesia merdeka juga berarti berani melakukan kritik dan otokritik. NU tidak alergi terhadap perubahan, tetapi menolak perubahan yang tercerabut dari nilai. Modernitas diterima selama tidak menghilangkan kemanusiaan. Tradisi dijaga selama tidak mematikan kreativitas. Dialektika inilah yang membuat NU tetap relevan lintas generasi, tidak membeku dalam romantisme masa lalu dan tidak hanyut dalam euforia masa depan.
Peradaban mulia yang dicita-citakan NU adalah peradaban yang berakar pada kearifan lokal, terbuka pada dunia, dan berorientasi pada kemaslahatan. Indonesia dengan keberagamannya sesungguhnya memiliki modal peradaban yang besar. NU berperan sebagai perekat yang menghubungkan agama dengan budaya, pusat dengan pinggiran, serta elite dengan rakyat. Ikhtiar ini mungkin tidak selalu tampak di panggung besar, tetapi terasa nyata dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Mengawal Indonesia merdeka adalah kerja lintas generasi. NU mewariskan bukan hanya struktur organisasi, tetapi juga cara berpikir dan bersikap. Beragama harus memuliakan manusia, berbangsa harus berlandaskan keadilan, dan bernegara harus diarahkan pada kemaslahatan. Jika kemerdekaan adalah pintu, maka peradaban mulia adalah rumah yang harus terus dibangun bersama.
Satu abad NU adalah satu abad ikhtiar. Ikhtiar yang tidak selalu gemerlap, tetapi konsisten dan berkesinambungan. Di tengah dunia yang kian gaduh, NU memilih menjadi penuntun arah, mengawal kemerdekaan agar tidak kehilangan makna dan menuntun Indonesia menuju peradaban yang tidak hanya maju, tetapi juga mulia.
