H. Agus Mukhandar, M.Pd.I (Penyuluh Agama Kota Bandar Lampung)
Bandar Lampung pada pertengahan September 2025 menjadi saksi sebuah peristiwa bersejarah: Mahan Pelita 2025, Kemah Kerukunan Penyuluh Lintas Agama Provinsi Lampung. Selama dua hari, 12–13 September, Wira Garden yang sejuk berubah menjadi ruang perjumpaan ribuan penyuluh agama dari seluruh Lampung. Perkemahan ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan perayaan nyata atas keragaman yang hidup di tengah masyarakat kita.
Mengapa Mahan Pelita penting? Karena ia mengingatkan kita bahwa kerukunan tidak cukup hanya dibicarakan, tetapi harus dihidupkan. Di antara tenda-tenda yang berdiri, kita melihat penyuluh dari berbagai latar agama, budaya, dan daerah duduk bersama tanpa sekat. Tidak ada lagi batas “kami” dan “mereka”, yang ada hanyalah “kita”. Dari perjumpaan sederhana itu lahir kesadaran bahwa keragaman bukan ancaman, melainkan cahaya yang menerangi jalan kebersamaan bangsa.
Keragaman itu terasa sejak awal. Ada peserta yang menempuh perjalanan jauh dengan penuh pengorbanan, namun justru dari pengorbanan itulah tumbuh nilai kebersamaan. Para penyuluh yang datang dengan identitas berbeda justru membuat suasana semakin hidup. Mereka tidak sibuk menonjolkan perbedaan, melainkan menghadirkan semangat untuk saling menguatkan. Bukankah inilah makna sejati dari kerukunan?
Mahan Pelita juga penuh dengan simbol yang kaya makna. Saat Menteri Agama RI hadir memberi pesan agar penyuluh menjadi duta perdamaian, terbersit pesan sederhana namun mendalam: perdamaian bukanlah wacana elitis, melainkan kerja keseharian para penyuluh di akar rumput. Begitu pula ketika para peserta menanam pohon, menebar bibit ikan, hingga memberikan bantuan bagi UMKM. Semua kegiatan itu mengajarkan satu hal: kerukunan harus dirawat, ditumbuhkan, dan dihadirkan dalam kehidupan nyata. Ia bukan slogan kosong, tetapi sesuatu yang memberi manfaat konkret, termasuk bagi ekonomi masyarakat.
Lebih indah lagi ketika budaya ikut hadir sebagai perekat. Parade busana tradisional, nyanyian daerah, dan defile dari berbagai kabupaten atau kota menunjukkan betapa kaya warisan kita. Malam hari, api unggun menjadi titik temu yang syahdu. Nyala api seakan menyatukan semua identitas dan semua warna dalam lingkaran kebersamaan. Di sana tumbuh akrabnya persaudaraan yang tidak dipaksakan, lahir secara alami dari kebersamaan.
Kehadiran tokoh-tokoh juga memberi energi tersendiri. Menteri Agama, anggota DPR, pejabat Kanwil, hingga kepala Kemenag kota, semua hadir tidak sekadar memberi sambutan, melainkan berbaur bersama peserta. Dari mereka kita belajar bahwa kerukunan bukan hanya soal kata-kata, melainkan kehadiran dan dukungan nyata. Bahkan janji sederhana yang ditepati, seperti “gundul kepala” oleh panitia, menjadi simbol bahwa komitmen harus diwujudkan, bukan hanya diucapkan.
Namun yang paling berharga dari Mahan Pelita adalah peran para penyuluh itu sendiri. Mereka adalah ujung tombak moderasi beragama, penjaga harmoni di tengah masyarakat, dan cahaya perdamaian yang menerangi kehidupan sehari-hari. Ada yang tampak di panggung, ada pula yang bekerja di balik layar, namun semuanya sama pentingnya. Dari mengangkat kursi, memimpin senam pagi, hingga tampil dalam parade budaya, setiap peran adalah cahaya yang menyatu dalam pelita besar bernama kerukunan.
Seperti lilin-lilin kecil yang jika dinyalakan bersama mampu menerangi kegelapan, demikianlah penyuluh agama hadir. Mereka mungkin sederhana, tetapi justru dari kesederhanaan itu lahir ketulusan. Pesan Menteri Agama agar penyuluh menjadi duta perdamaian menemukan maknanya di sini. Karena cahaya yang mereka pancarkan tidak hanya untuk diri mereka sendiri, tetapi untuk semua orang yang mereka jumpai.
Mahan Pelita 2025 pada akhirnya menjadi bukti nyata bahwa keragaman adalah cahaya, bukan beban. Di Wira Garden kita menyaksikan penyuluh lintas agama tertawa bersama, bekerja bersama, bahkan berkeringat bersama. Semua perbedaan melebur menjadi energi persatuan. Dan dari berbagai kegiatan, mulai dari defile hingga api unggun, terselip pesan abadi: kerukunan indah bila dirawat, dan kokoh bila diperjuangkan bersama.
Kini tugas kita adalah menjaga nyala itu agar tidak padam. Semangat Mahan Pelita tidak boleh berhenti ketika tenda dibongkar dan api unggun padam. Ia harus menyala lebih terang di kampung-kampung, kota-kota, rumah ibadah, kantor, bahkan ruang-ruang digital kita. Penyuluh agama harus terus membawa pesan damai, moderasi, dan kasih sayang.
Kerukunan adalah cahaya, dan Mahan Pelita adalah lentera yang meneranginya. Semoga cahaya ini terus bersinar dari Lampung hingga ke seluruh Indonesia.
