Pastikan Langkahmu

Pastikan Langkahmu

Share :

Dr. Agus Hermanto, MHI Dosen UIN Raden Intan Lampung

Siapapun kita dan dilahirkan dari manapun kita tidaklah menjadi masalah, justru yang terpenting adalah bagaimana kita dapat menjalani hidup dengan serius, karena jalan sukses setiap orang berbeda, ada yang meraih sukses karena nasabnya, ada pula yang betaih sukses karena doa dan kerja keras serta kehati-hatian orang tuanya, ada yang sukses karena doa dan kerja kerasnya, ada yang sukses karena jaringan yang dimiliki atau komunitas dan lingkungan yang mensuport dalam setiap langkah. Apapun itu, kita tetap diajari untuk hidup mandiri, (إنّ الفتى من يقول ها أناذا وليس الفتى من يقول كان أبى) sesungguhnya seorang pemuda adalah mereka yang mengatakan “inilah saya” dan bukan yang selalu mengatakan “inilah bapak saya”. Di tengah-tengah ramainya persoalan nasab yang kerap kali menjadi seseorang lupa diri, pada satu sisi bahwa nasab adalah penting, karena dengan bernasab (seseorang memiliki nasab yang baik) akan memudahkan bagi orang lain untuk mengenal kepribadiannya. Nasab yang baik secara rumus akan menghasilkan keturunan yang berkualitas. Namun demikian, tidak seyogyanya setiap langkah seseorang selalu membawa nasabnya, sehingga tidak memberikan kesempatan bagi orang lain untuk maju dan berkembang dan selalu menganggap rendah pada orang lain, padahal Alah Ta’ala mengingatkan dalam surat al Hijarat ayat 13, “sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang bertaqwa”.

Hidup ini bukan permainan, meskipun dunia adalah lahan permainan dan sandiwara (الدنيا لعب ولهو), sehingga jika kita tidak serius menjalaninya justru kita akan menjadi sandiwara dalam kehidupan. Hidup tidak harus selalu diartikan Perjuangan, namun juga dimaknai perjalanan, dan dari perjalanan itulah kita sejatinya telah melangkah dan akan selalu melangkah. Ketika kita berjalan, maka hendaklah berhati-hati, karena tidak semua jalan lurus, namun kadang berkelok dan bahkan terjal, dan di sanalah kita akan diuji sejauh mana kita memiliki tekat yang baik hingga mempersiapkan diri agar selalu mampu melangkah terus hingga ujung perjalanan.

Setiap perjalanan pastilah memiliki tujuan, dan perjalanan hidup ini bertujuan untuk menggapai ridha Ilahi rabbi, setiap kita punya perjalanan yang tidak sama, dan disanalah ada perjalanan mulia yang dimiliki oleh setiap orang dalam mempertahankan hidupnya demi menggapai tujuan akhir dari sebuah perjalanan. Jika bekal kita habis, atau minim, kerap kali kita psimis dan kurang percaya diri, artinya kita terjebak dan kesulitan untuk melangsungkan perjalanan yang lebih baik, jika kita memiliki banyak strategi dalam menjalani hidup ini, maka kita akan merasakan sebuah kenikmatan dari sebuah perjalanan, meskipun jalan terjal dan berkelok-kelok, jika dikendarai oleh seorang pengendara yang hebat, maka akan selalu menjalani dengan penuh optimis dan percaya diri untuk menatap masa depan, ibarat sebuah perahu yang melaju, akan senantiasa mampu dikendalikan oleh seorang nahkoda meskipun ombak dan badai menerjang.

Siklus perjalanan seseorang terkadang naik, turun dan seterusnya, dalam sebuah ungkapan mulia dikatakan (إنّما المرأ إلاّ كالشهاب يضيئ ضوءه تمام الشهر ثمّ يغيب) sesungguhnya perjalanan seseorang hanyalah seperti meteor, menyinari sepanjang bulan kemudian menghilang. Ibarat ini mengajari kepada kita bahwa siklus hidup itu dari tidak ada menjadi ada hingga tiada kembali. Pada tanggal satu di setiap bulan itu berjalan hingga tepat pada tanggal lima belas, dan itulah bulan purnama, namun bulan sempurna itu tidaklah selamanya ada, karena ia kemudian menghilang. Ibarat kehidupan manusia pada awal ketidak adaan sesuatu, hingga kemudian menjadi ada dan pada masanya akan sukses, namun kemudian karir manusia akan menurun pada waktunya.

Dalam suatu nasehat mulia dikatakan (ليس المرء يولد عالما وليس العلم كمن هو جاهل) seorang manusia itu dilahirkan dalam keadaan tidak berilmu, dan tidak memiliki ilmu, melainkan ia adalah orang yang bodoh. Kelahiran yang mulia adalah ketika ia lahir sekitarnya bahagia, hingga pada saatnya ketika ia diambil oleh sang Kuasa yaitu Allah Ta’ala sang Pencipta, sekitarnya menjadi duka karena kepergiannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *