Seputar Masjid; Busana Yang Diharusnya

Seputar Masjid; Busana Yang Diharusnya

Share :

Dr. Agus Hermanto, MHI Ketua Masjid Darul Hidayah Kemiling Bandar Lampung

Pakaian merupakan salah satu kebutuhan primer bagi manusia, selain pangan dan papan. Pakaian adalah media untuk menutup urat, sehingga dalam filosofi Jawa dikatakan “ajineng rogo ono ing busono” seseorang dihormati tergantung kepada pakaian yang digunakannya. Untuk itu, tidak seyogyanya seseorang memakai pakaian yang seenak hatinya, melainkan ada nilai sosial yang harus dijaga, ketika seseorang menjaga dirinya dalam berpakaian, maka akan ada sebuah kewibawaan pada dirinya meskipun tidak mahal, sebaliknya ketika seseorang sembrono dalam berpakaian maka akan juga diperlakukan buruk oleh orang lain akibat darinya sendiri bukan dari orang lain.

Pakaian dalam konteks agama selain layak juga berfungsi untuk menutup aurat, adapun aurat laki-laki adalah antara pusar dan lutut, namun demikian ada kelayakan bahwa berpakaian yang menutup bagian tubuh di atas pusar hingga bawah lutut sampai mata kaki adalah keutamaan, sedangkan memakai yang enak dipandang, bagus dan wangi adakah hal yang dianjurkan pada saat ke masjid. Baju yang dianjurkan dapat berupa gamis atau pakaian polos khususnya berwarna putih adalah lebih utama, namun juga dibolehkan memakai pakaian selain putih bahkan baju selain gamis asalnya tidak terlalu banyak warna atau bahkan tulisan. Ketidak afdhalan berpakaian banyak warna hingga bertulis karena akan dapat mengganggu sekitar kita, karena bisa jadi kiri, kanan bahkan belakang akan membaca tulisan yang ada pada pakaian kita, sehingga akan mengganggu kekhusu’an shalat.

Hal lain berkaitan dengan pakaian selain menutup aurat, warna yang lazim dan utamanya berminyak wangi juga tidak kalah penting adalah baju bersih dan tidak terkena najis, karena jika baju ber najis maka tidak akan sah digunakan untuk beribadah, untuk itu kita harus menjaga pakaian kita agar senantiasa bersih dari najis. Berpakaian ke masjid tujuan utamanya adalah untuk beribadah kepada Allah, namun karena hidup kita bersosial, maka kita juga harus menjaga lingkungan sekitar kita, disanalah agama mengajarkan etika kepada kita agar kita hidup layan baik dalam hal ibadah maupun dalam hal muamalah. Meskipun hadist mengatakan bahwa, “Allah tidak akan memandang manusia dari pakaian dan rupa mereka melainkan Allah akan memandang hati mereka” Itulah manajemen hati, namun secara muamalah bahwa hidup bersih, berpakaian yang menutup aurat lagi layak adalah menjadi syarat dan keutamaan dalam ibadah, dalam arti meskipun pakaian kita bagus, indah, tapi jangan sombong dan pamer, karena hal itu akan mengurangi nilai ibadah kita kepada Allah Ta’ala.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *