Daiyah Influencer: Antara Popularitas dan Substansi

Daiyah Influencer: Antara Popularitas dan Substansi

Share :

Dr. Siti Wuryan.,M.Kom.I Dosen UIN Raden Intan Lampung

Di era media sosial, siapapun dapat menjadi pendakwah. Seiring dengan maraknya platform seperti Instagram, TikTok, hingga YouTube, muncul sosok-sosok daiyah influencer perempuan Muslim yang berdakwah dengan konten menarik, visual estetik, dan gaya bicara yang komunikatif. Mereka tidak hanya menyampaikan ajaran Islam, tetapi juga memadukannya dengan gaya hidup, tips kecantikan, parenting Islami, hingga traveling syar’i.

Tak jarang jumlah pengikut mereka mencapai ratusan ribu, bahkan jutaan. Media sosial telah mengubah peta dakwah secara drastis. Jika dahulu panggung dakwah hanya milik segelintir orang yang memiliki otoritas keilmuan formal, kini siapa pun dapat menjadi dai atau daiyah hanya dengan kamera depan dan koneksi internet. Fenomena ini tidak terkecuali pada perempuan Muslim. Dalam beberapa tahun terakhir, kita menyaksikan kemunculan banyak
daiyah influencer perempuan berhijab yang tampil menarik, komunikatif, dan aktif membagikan konten-konten keislaman kepada ratusan ribu pengikut di TikTok, Instagram, dan YouTube.

Ini tentu bisa dibaca sebagai fenomena positif: perempuan Muslim kini memiliki ruang lebih luas untuk berdakwah, menyampaikan nilai-nilai Islam dengan pendekatan yang lebih segar, kontekstual, dan dekat dengan realitas generasi muda. Namun di sisi lain, ini juga menuntut refleksi mendalam: apakah popularitas digital ini berbanding lurus dengan kedalaman substansi dakwah yang disampaikan?

Fenomena ini tentu tak dapat diabaikan. Ada sisi positif yang patut diapresiasi: dakwah menjadi lebih mudah diakses, lebih dekat dengan generasi muda, dan tidak lagi terkungkung dalam batas-batas mimbar masjid atau majelis taklim. Namun di balik kilau popularitas itu, muncul pula pertanyaan krusial: sejauh mana dakwah yang disampaikan tetap membawa substansi keilmuan dan keteladanan moral?

Daiyah influencer adalah sebutan bagi perempuan Muslim yang menyampaikan pesan-pesan keislaman melalui platform digital seperti Instagram, TikTok, YouTube, dan lainnya, sambil membangun personal branding yang kuat dan memiliki pengikut (followers) dalam jumlah besar. Berbeda dengan daiyah konvensional yang berdakwah melalui ceramah di masjid, majelis taklim, atau pengajian ibu-ibu, daiyah influencer lebih aktif menggunakan konten
visual dan narasi singkat yang dikemas secara menarik dan mudah dipahami, bahkan dalam durasi 1–3 menit.

Sebagai akademisi, saya melihat ada dua kutub dalam fenomena daiyah influencer ini. Di satu sisi, kita menyaksikan semangat dakwah yang luar biasa dari para perempuan Muslim. Mereka memanfaatkan teknologi, tampil percaya diri, dan mampu memadukan citra keagamaan dengan dunia modern secara apik. Namun di sisi lain, ada kecenderungan terjadinya komersialisasi dakwah, bahkan reduksi ajaran Islam menjadi sekadar narasi-narasi manis yang mudah viral.

Kita patut bertanya: apakah pesan yang disampaikan lahir dari proses belajar dan pemahaman mendalam terhadap ilmu syariah, tafsir, dan akidah? Ataukah sekadar kutipan-kutipan populer yang dibungkus dalam estetika algoritma? Apakah para daiyah ini mampu menjawab persoalan pelik umat seperti kekerasan terhadap perempuan, krisis moral di keluarga, atau tantangan literasi agama di kalangan muda?

Pertanyaan ini bukan untuk merendahkan peran daiyah influencer, tetapi justru untuk menjaga marwah dakwah itu sendiri. Dakwah bukan sekadar konten, melainkan amanah keilmuan dan akhlak. Di sinilah pentingnya self-awareness (kesadaran diri) bagi para dai dan daiyah bahwa mereka bukan sekadar pembuat konten, tapi juga panutan umat, terutama generasi muda yang tengah mencari arah hidup. Kita tentu tidak menuntut setiap influencer menjadi ulama. Namun setidaknya, ada tanggung jawab moral untuk merujuk pada sumber-sumber otoritatif, menghindari tafsir serampangan, dan menjauh dari konten yang mempermainkan isu-isu sensitif demi popularitas. Perempuan dalam dakwah tidak hanya membawa pesan, tetapi juga membawa wajah Islam yang sejuk, moderat, dan membebaskan.

Penting juga bagi institusi pendidikan, ormas keagamaan, dan lembaga dakwah untuk membangun sinergi dengan para daiyah influencer ini. Mereka jangan dijauhi, tetapi didekati, didampingi, dan dibina agar pesan-pesan mereka tidak hanya memikat, tapi juga mencerahkan. Kita perlu menjembatani antara dunia akademik dakwah dan praktik dakwah digital agar terjadi kolaborasi yang saling menguatkan.

Kita butuh lebih banyak perempuan dalam dunia dakwah perempuan yang berilmu, bijak, dan memahami zaman. Mereka yang tidak sekadar mengejar “like” dan “followers”, tetapi menyampaikan Islam dengan hati yang tulus dan nalar yang jernih. Mereka yang sadar bahwa setiap kata yang diunggah adalah bagian dari amanah dakwah yang akan dimintai pertanggungjawaban.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *